Berdesak-desakan, antrian panjang, saling rebutan, dibarengi saling dorong, baik selama di embarkasi di tanah air, di bandara King Abdul Azis Jeddah, di pondokan (penginapan), bus angkutan, dan tempat-tempat lainnya selalu mewarnai perjalanan haji Indonesia.
Kondisi demikian membuat jemaah haji Indonesia sering dilanda stress, kelelahan, tidak tidur, nafsu makan berkurang, ditambah cuaca panas menyengat saat siang dan dingin mengggigil saat malam membuat jemaah haji Indonesia banyak yang terserang sakit khususnya terserang influenza.
Pengalaman penulis saat melakukan ibadah haji tahun 1429 Hijriah kondisi tersebut diatas begitu dirasakan, tetapi karena niatnya hanyalah ibadah, maka hal tersebut dianggap sebuah proses ibadah yang harus dilalui dengan kesabaran, ketulusan dan keiklasan.
Baca selengkapnya »
Penyakit batuk disertai pilek masih “setia” menyertai sebagian besar jemaah haji asal Provinsi Lampung hingga kepulangannya di kampung halaman. Ketua Regu I Rombongan I Kloter 31 jemaah haji Lampung, H Muhammad Ferhat, mengatakan, di Bandarlampung, Kamis, sampai dengan empat hari kepulangan dirinya masih menderita batuk dan pilek setelah penyakit itu dideritanya sejak beberapa hari tiba di Kota Makkah, Arab saudi.
Baca selengkapnya »
Puluhan jemaah haji dari kloter (kelompok terbang) 44 JKG asal Lampung terserang diare yang diduga berasal dari makanan yang dikonsumsi.
Baca selengkapnya »
Seorang jemaah haji asal Jepara, Marisan bin Japun, 73, asal Karangrandu, Pecangaan mengalami kondisi kritis dan harus dilarikan ke Rumah Sakit (RS) dr Moewardi Solo untuk menjalani perawatan intensif.
Baca selengkapnya »
Dua jemaah haji dari Kloter 34 dan 35 Debarkasi Adi Sumarmo Surakarta, Jawa Tengah, terpaksa masih tinggal di Tanah Suci karena harus menjalani perawatan di Rumah Sakit An-Nur Makkah, Arab Saudi, karena sakit.
Baca selengkapnya »
Sebanyak tiga jemaah haji yang sudah menyelesaikan ibadah di tanah suci belum bisa langsung pulang ke rumahnya karena sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit Haji Sukolilo, Surabaya.
Baca selengkapnya »
Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menjamin semua jemaah haji yang sakit akan dipulangkan ke Tanah Air, meski proses penyelenggaraan ibadah haji di Tanah Suci sudah berakhir.
Baca selengkapnya »
Sumber: Media Indonesia, Senin 8 Desember 2008
JAKARTA–MI: Setiap tahun calon jemaah haji asal Indonesia banyak yang sakit dan meninggal di Tanah Suci, Mekah, Arab Saudi. Karena itu sebaiknya proses skrining kesehatan di Tanah Air diperketat.
“Sebab proses tahapan ibadah haji di Tanah Suci sangat berat dan perlu kondisi fisik yang prima,” kata dr Ari Fahrialsyam SpPD dari Pehimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi) dari Armina, Arafah, Saudi Arabia, Minggu (7/12) kepada Media Indonesia.
Sebelum keberangkatan dan saat proses skrining kesehatan, kata dokter dari RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta itu, selayaknya puskesmas yang memeriksa harus betul-betul teliti. Jika calon jemaah haji masih menderita suatu penyakit harus diobati terlebih dahulu. Apabila pihak puskesmas tidak dapat menangani segera dirujuk ke rumah sakit.
Pihak dinas kesehatan di daerah sebagai pihak yang melakukan skrining harus benar-benar mengecek calon jemaah haji dengan baik apakah penyakitnya berisiko tinggi atau tidak. “Petugas kesehatan di asrama haji yang mengadakan skrining kesehatan harus memeriksa secara teliti,” ujar Ari.
Menurut dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu, dokter yang ditugaskan menjadi petugas kesehatan untuk penanganan calon jemaah haji di Tanah Suci harus mengawasi para calon jemaah haji dengan baik. “Para calon jemaah dan dokter harus melakukan komunikasi intens untuk mengantisipasi calon jemaah haji yang menderita sakit,” katanya.
Apalagi saat ini, pemondokan jemaah haji Indonesia ke Masjidil Haram cukup jauh. Setelah naik kendaraan, dari lokasi pemberhentian bus mereka berjalan ke Masjidil Haram sekitar 500 meter. Selama menuju Masjidil Haram, mereka harus merasakan panasnya udara Saudi Arabia dan debu-debu yang berterbangan.
Debu itu berasal dari lokasi yang sedang dibangun gedung-gedung. Para calon jemaah haji juga harus naik kendaraan dan dilanjutkan dengan berjalan kaki untuk melaksanakan ritual ibadah Tawaf, Sa’i dan melempar jumrah.(Drd/OL-06)