Maskapai penerbangan Lion Air berencana akan melayani pengangkutan jamaah haji Indonesia tahun 2009 ini.
“Kami sementara melakukan komunikasi dengan pemerintah untuk layanan pengangkutan haji itu,” kata Manager Humas (nonaktif) Lion Air, Hasyim Arsal Alhabsy di Makassar, Senin.
Baca selengkapnya »
Sumber: Antara, 7 Jan 2009
Departemen Agama tidak mungkin meminta pengembalian selisih biaya penerbangan haji, meski biaya bahan bakar turun karena klausul itu tidak diatur dalam kontrak dengan maskapai penerbangan.
Menurut Kepala Pusat Informasi Keagamaan dan Kehumasan Depag Masyruri AM di Jakarta, Rabu, selain tidak mengatur klausul mengenai kemungkinan turunnya biaya bahan bakar, kontrak itu juga tidak mengatur apabila terjadi kenaikan biaya bahan bakar.
“Hal itu sengaja dilakukan dengan asumsi bahwa peluang harga bahan bakar naik lebih tinggi daripada peluang harga bahan bakar turun,” katanya.
Menurut dia, bila harga bahan bakar naik, maka sangat tidak mungkin Depag menanggung selisih biaya yang ditimbulkan, selisih biaya itu juga tidak mungkin dibebankan kepada jemaah haji.
Delapan kali penerbangan Garuda Indonesia (GIA) yang mengangkut jemaah haji Indonesia dari Tanah Suci ke Jakarta (Tanah Air) mengalami “delay” (molor/tertunda) selama 3-6 jam.
Baca selengkapnya »
mpat kelompok terbang (kloter) jemaah haji Indonesia yang pulang perdana dari bandara Madinah ke Tanah Air mengalami “delay” atau molor (tertunda) hingga 5-6 jam.
Baca selengkapnya »
Badai debu yang melanda kota Jeddah Arab Saudi selama 3 hari belakangan tidak mengganggu aktivitas penerbangan pemulangan jamaah haji Indonesia ke tanah air. Menurut kepala bidang pemasaran dan perencanaan haji PT.Garuda Indonesia, Agus Wibowo, debu tebal yang melanda Jeddah sejak tiga hari terakhir mewarnai sebagian terminal haji bandara king abdul aziz Jeddah, bahkan debu tebal berwarna cokelat tersebut menempel setebal 2 cm di kaca dan dinding bandara.
Baca selengkapnya »
Sumber: Republika, Rabu, 17 Desember 2008 pukul 21:08:00
JEDDAH — PT Garuda Indonesia menyatakan keterlambatan pemulangan jemaah haji utamanya terjadi karena keterbatasan fasilitas di Terminal Haji Bandara Raja Abdul Aziz Jeddah, Arab Saudi.
“Kerusakan mesin ada, tapi cuma dua yang demikian, yakni pada pesawat yang mengangkut jemaah embarkasi Solo dan Makassar kemarin. Selebihnya karena kendala di bandara,” kata Vice President Hajj PT Garuda Indonesia Hady Syahrean di Jeddah, Rabu.
Ia menjelaskan, jumlah tempat parkir pesawat di bandara haji yang baru digunakan tahun 2008 itu jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah tempat parkir yang disediakan untuk lalu lintas jemaah haji di bandara lama pada tahun-tahun sebelumnya sehingga pilot membutuhkan waktu lebih lama untuk memarkir pesawat.
“Sebelumnya ada sekitar 36 ‘parking stand’ tapi sekarang cuma ada 26 ‘parking stand’ untuk semua penerbangan. Kadang pilot sampai harus berputar-putar lebih dari dua jam untuk mendapatkan tempat parkir,” katanya serta menambahkan Terminal Haji Bandara Raja Abdul Aziz sedikitnya disinggahi 190 pesawat setiap hari.
Dengan frekuensi penerbangan yang padat selama musim haji, dia melanjutkan, gerbang masuk (gate) penumpang yang tersedia di bandara beratap puluhan payung raksasa berwarna krem itu juga sangat terbatas. “Hanya ada 14 ‘gate’ yang dioperasikan, sementara jumlah penerbangan setiap hari minimal 190 penerbangan, jadi kalau dihitung setiap penerbangan paling tidak harus menunggu rata-rata 71 menit untuk mendapatkan ‘gate’. Padahal waktu yang diberikan otoritas bandara bagi setiap penerbangan cuma dua jam,” katanya.
Meski terlihat sepele namun kondisi itu berdampak nyata terhadap kelancaran lalu lintas pemulangan jemaah haji ke tanah air. “Dan jika penerbangan satu kloter jemaah terlambat maka akan terjadi efek domino, penerbangan kloter-kloter yang lain jadi ikut terlambat pula,” katanya.
Guna mengantisipasi masalah itu, menurut Hady, pihaknya sudah menjadwalkan kembali pemberangkatan jemaah haji Indonesia ke tanah air dan menyiapkan akomodasi bagi jemaah yang terpaksa harus menunggu pemberangkatan dalam jangka lama.
“Bagi yang terlambat lebih dari empat jam kami memberikan snack, bila melewati waktu makan kami berikan makanan dan yang lebih dari delapan jam diinapkan di hotel. Kami sudah mengontrak Hotel Al Azhar di Jeddah untuk menampung jemaah yang belum bisa berangkat,” katanya.
Tanggal 13 Desember lalu jemaah haji Indonesia mulai meninggalkan Arab Saudi menuju ke tanah air. Sebagian jemaah pulang menggunakan pesawat Garuda Indonesia. PT Garuda Indonesia mengoperasikan 14 pesawat untuk mengangkut jemaah, satu diantaranya merupakan pesawat milik PT Garuda Indonesia dan sisanya merupakan pesawat sewaan.
Saat ini, kata Hady, pihaknya sudah memulangkan 15.117 anggota jemaah Indonesia. Pemulangan jemaah dengan pesawat Garuda, katanya, rata-rata mengalami keterlambatan sembilan jam dari jadwal penerbangan yang ditetapkan sebelumnya. ant/is