Empat ratus lima puluh lima jemaah haji asal Lampung yang pertama kali tiba di tanah suci, tengah bersiap kembali ke tanah air dan akan terbang dari bandara di Kota Madinah Sabtu malam (27/12/08) sekitar pukul 21.55 WAS.
Baca selengkapnya »
Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menjamin semua jemaah haji yang sakit akan dipulangkan ke Tanah Air, meski proses penyelenggaraan ibadah haji di Tanah Suci sudah berakhir.
Baca selengkapnya »
Seorang jemaah haji asal Kota Pasuruan, Jawa Timur, terpaksa belum bisa kembali ke tanah air dan harus tinggal di ruang tahanan di Arab Saudi karena diketahui tidak membawa identitas dan paspor. Herry Widodo (29), jemaah yang juga seorang guru bahasa Inggris di SDN Krampyangan Kota Pasuruan, sekarang ditahan di penjara Tan’im sekitar 6 kilometer dari Makkah dengan tuduhan sebagai pendatang gelap.
Baca selengkapnya »
Sumber: Republika, Kamis, 18 Desember 2008 pukul 04:10:00
JEDDAH — Keterlambatan pemulangan jemaah haji ke tanah air melalui Terminal Haji Bandara Raja Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi, diperkirakan akan terus terjadi hingga pekan depan, setelah kepadatan lalu lintas penerbangan melalui bandara itu berkurang.
“Keterlambatan seperti ini biasanya terjadi pada sepuluh hari pertama, ini sudah hari keempat. Enam hari lagi mudah-mudahan sudah mulai lancar,” kata Vice President Hajj PT Garuda Indonesia Hady Syahrean di Jeddah.
Hady mengatakan keterlambatan pemulangan jemaah haji tahun ini jauh lebih buruk dibandingkan keterlambatan pemulangan jemaah haji pada tahun-tahun sebelumnya.
“Tahun ini paling jelek. Tahun lalu `on time performance` kita 94,8 persen tapi tahun ini menurut data awal di Jakarta hanya 91,6 persen,” katanya.
Hal itu, menurut dia, utamanya terjadi karena fasilitas di Terminal Haji Bandara Raja Abdul Aziz kurang menunjang lalu lintas penerbangan.
Jumlah tempat parkir pesawat di bandara haji yang baru digunakan tahun 2008 itu, katanya, jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah tempat parkir yang disediakan untuk lalu lintas jemaah haji di bandara lama pada tahun-tahun sebelumnya sehingga pilot membutuhkan waktu lebih lama untuk memarkir pesawat.
“Sebelumnya ada sekitar 36 `parking stand` tapi sekarang cuma ada 26 `parking stand` untuk semua penerbangan. Kadang pilot sampai harus berputar-putar lebih dari dua jam untuk mendapatkan tempat parkir,” katanya serta menambahkan Terminal Haji Bandara Raja Abdul Aziz sedikitnya disinggahi 190 pesawat setiap hari.
Dengan frekuensi penerbangan yang padat selama musim haji, dia melanjutkan, gerbang masuk (gate) penumpang yang tersedia di bandara beratap puluhan payung raksasa berwarna krem itu juga sangat terbatas.
“Hanya ada 14 `gate` yang dioperasikan, sementara jumlah penerbangan setiap hari minimal 190 penerbangan, jadi kalau dihitung setiap penerbangan paling tidak harus menunggu rata-rata 71 menit untuk mendapatkan `gate`. Padahal waktu yang diberikan otoritas bandara bagi setiap penerbangan cuma dua jam,” katanya.
Tanggal 13 Desember lalu, keberangkatan jemaah kelompok terbang dua asal embarkasi Solo tertunda tiga jam dan keberangkatan jemaah kloter tiga asal kota yang sama tertunda 14 jam 15 menit karena pesawat Garuda Indonesia yang akan mereka tumpangi mengalami kerusakan mesin.
Selanjutnya, pada 15 Desember, pesawat Garuda Indonesia yang akan mengangkut jemaah kelompok terbang empat asal embarkasi Ujungpandang mengalami kerusakan sehingga pemberangkatan mereka ke tanah air tertunda hingga 38 jam 45 menit.
Jemaah kelompok terbang empat asal embarkasi Ujungpandang yang dijadwalkan meninggalkan Jeddah menuju tanah air pada 15 Desember pukul 03.05 waktu setempat baru bisa berangkat tanggal 16 Desember pukul 17.50.
Jemaah dari kelompok terbang lima embarkasi Ujungpandang juga tertunda. Mereka dijadwalkan berangkat tanggal 16 Desember pukul 07.30, namun keberangkatannya diundur menjadi pukul 20.00.
Keberangkatan tujuh kelompok terbang jemaah haji lain ke tanah air pada Selasa (16/12) juga tertunda antara enam hingga 15 jam. Mereka antara lain berasal dari kelompok terbang delapan embarkasi Solo, kelompok terbang tujuh embarkasi Surabaya, kelompok terbang sembilan embarkasi Solo dan kelompok terbang tiga embarkasi Balikpapan.- ant/ah
Sumber: Republika, Rabu, 17 Desember 2008 pukul 21:29:00
MADINAH — Kerajaan Arab Saudi melalui Percetakaan Mushaf Alquran “Kompleks Malik Fahd” Madinah membagikan lebih dua juta Al-Quran secara gratis kepada jemaah haji tahun 2008, termasuk jemaah haji Indonesia.”Setiap tahun, kami mencetak 10 juta Al-Quran dalam bentuk cetakan, CD, dan kaset,” kata Direktur Publikasi ‘Kompleks Malik Fahd’ Syeikh Sholeh Husaini di Madinah, Rabu sore WAS atau Rabu malam WIB.
Didampingi beberapa asistennya, ia mengatakan 10 juta Al-Quran itu dibagikan kepada umat Islam di seluruh negara melalui kedutaan dan juga jemaah haji.”Sekarang, kami mencetak Alquran dalam 50 bahasa dan satu bahasa isyarat, di antaranya bahasa Afrika, Arab, Asia, Inggris, Spanyol, Urdu, dan sebagainya,” katanya.
Untuk bahasa Asia, katanya, antara lain bahasa Cina, Korea, Indonesia, dan sebagainya.”Tapi, kami tidak hanya mencetak Al-Quran, melainkan jurnal kajian tentang Al-Quran, jurnal bantahan yang meluruskan hal-hal tentang Alquran, serta hasil seminar Alquran dan Assunnah (hadits nabi),” katanya.
Ia menambahkan proses pencetakan Al-Quran di “Kompleks Malik Fahd” yang luasnya 25 hektare itu dikerjakan 1.700 petugas yang berasal dari Arab Saudi dan negara-negara lain.”Petugas yang ada meliputi tenaga teknis dan tim pengawas. Tim pengawas itulah yang mengupayakan keabsahan cetakan Alquran ke beberapa ulama di berbagai belahan dunia, kemudian hasilnya juga dikoreksi tim pengawas lain lagi,” katanya.ant/kp
Sumber: Republika/RAHMAT SANTOSA BASARAH
Sumber: Republika, Selasa, 16 Desember 2008 pukul 21:25:00
MAKKAH — Para jamaah haji Indonesia sambil menunggu jadwal kembali ke Tanah Air banyak yang memanfaatkan waktu untuk menambah ibadah umroh sunnah. Wartawan Antara dari Masjidilharam, Makkah, Arab Saudi, Selasa, melaporkan, ibadah umroh tersebut kini dapat dilakukan dengan nyaman karena jumlah jamaah haji sudah mulai berkurang.
Kondisi itu terpantau Selasa siang menjelang shalat Dzuhur sekira pukul 12.15 waktu setempat (16.15 WIB), baik di lantai dasar di mana Ka’bah berada maupun di lantai II, jamaah haji yang melakukan “tawaf” maupun “sa’i” tampak santai.
Tidak terlihat suasana berdesak-desakan seperti menjelang puncak haji pekan lalu, dan juga selepas jamaah melempar jumroh di Mina, di mana jamaah harus melaksanakan tawaf ifadah, salah satu rukun haji yang tidak bisa ditinggalkan, yang saat itu kondisinya sangat padat, baik di lantai I maupun II. Bahkah, saat tawaf ifadah tidak sedikit jamaah yang pingsan karena padatnya manusia.
Sejumlah ustad jamaah haji asal Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengaku bahwa waktu sepekan setelah menyelesaikan semua tahapan ibadah haji, kalau hanya berada di pemondokan bisa menimbulkan stres. “Makanya saya upayakan menambah ibadah umroh, yang saya niatkan untuk almarhum orang-tua,” kata ustad Deden asal Kecamatan Cisarua.
Sedangkan ustad Fardian Al-Hudri asal Cilebut, yang juga masih studi di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir –yang pada musim haji 2008 ini juga menjadi staf di wilayah Daker Makkah–mengaku menambah ibadah umroh untuk adiknya, yang belum berkesempatan haji. “Insya Allah dengan di-umroh-kan, adik saya juga dapat segera dipanggil Allah SWT agar menjadi tamu-Nya,” katanya.
Dari pantauan Antara, petugas haji Indonesia –yang dapat diketahui jelas dari seragam yang dipakainya–juga cukup banyak terlihat melakukan umroh sunnah. “Karena saat puncak haji harus bertugas, kesempatan umroh terbatas. Makanya saat ini di saat jamaah mulai berkurang saya manfaatkan untuk umroh,” kata Sunarto, staf medis di Kloter 16.
Pembimbing haji asal Kabupaten Bogor KH MY Sa’dudin melihat bahwa waktu menunggu kepulangan memang mesti diisi dengan kegiatan kreatif, termasuk menambah umroh seperti itu. “Bila badan sehat dan tidak ada kendala, tentu lebih baik menambah ibadah, namun bagi yang kurang sehat tidak perlu memaksakan diri,” katanya.
Ia menambahkan, Rasulullah Muhammad SAW selama hidupnya hanya melakukan ibadah haji sekali dan umroh dua kali, dan contoh itulah yang selama ini dirujuk umat Islam seluruh dunia. Hanya saja, bagi jamaah haji yang datang dari jauh, termasuk dari Indonesia, memang ada jeda waktu lebih-kurang sepekan sebelum pulang, sehingga menambah ibadah adalah perbuatan yang bisa dilakukan agar tidak merasa jenuh menunggu waktu. is