Jemaah Malang Meninggal Sebelum Naik Pesawat
Jemaah asal Malang, Jatim, H. Soepardi, SH bin Laiman Kromoreso meninggal sebelum semua anggota dalam Kloter 21 naik pesawat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah untuk pulang ke Indonesia.
Jemaah asal Malang, Jatim, H. Soepardi, SH bin Laiman Kromoreso meninggal sebelum semua anggota dalam Kloter 21 naik pesawat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah untuk pulang ke Indonesia.
Seorang jemaah haji yang tergabung kloter 15 asal Sukoharjo, Jateng, meninggal dunia saat turun dari pesawat yang ditupanginya setelah tiba di Bandara Adi Sumarmo Surakarta, Sabtu.
Sumber: Antara, 20 Des 2008
Madinah (ANTARA News) – Dari 325 jemaah haji Indonesia yang wafat di tanah suci, 84 di antaranya meninggal dunia di pemondokan, 72 di Rumah Sakit Arab Saudi, 48 wafat di balai pengobatan haji Indonesia (BPIH) , 21 di sektor, dan 36 lainnya wafat di Madinah.
“Mayoritas dari 325 jemaah haji Indonesia yang wafat di Arab Saudi hingga Sabtu pagi WAS (Sabtu siang WIB) tercatat meninggal dunia di pemondokan,” kata Wakil Ketua PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi bidang Kesehatan DR dr Barita Sitompul di Madinah, Sabtu.
Setelah rapat evaluasi dengan dokter Kloter PPIH Arab Saudi di Madinah, ia mengatakan, pada tahun lalu jumlah jemaah haji yang wafat di pemondokan mencapai 183.
Ditanya penyebab mayoritas jemaah wafat di pemondokan, ia mengaku hal itu terjadi karena jumlah dokter di setiap kloter hanya satu dokter dan dua perawat untuk melayani 450 jemaah.
“Akibatnya, dokter tidak bisa mengunjungi semua jemaah yang sakit pada setiap hari, apalagi jemaah wafat umumnya berusia di atas 60 tahun dan rata-rata memiliki penyakit atau tergolong risti (risiko tinggi),” katanya.
Apalagi, katanya, pemondokan jemaah haji di Mekah pada tahun ini cukup jauh hingga belasan kilometer. “Ada satu kloter yang dipisahkan dalam tiga rumah (pemondokan) yang jaraknya berjauhan,” katanya.
Menurut dia, hal itu berbeda dengan negara lain yang satu kloter ada 10 dokter dan bahkan ada negara yang satu kloter melibatkan puluhan dokter.
“Hasil rapat evaluasi, kami mengharapkan dokter kloter lebih rajin berkunjung kepada jemaah, dokter kloter diharapkan mampu menjalin koordinasi dengan ketua rombongan (karom), dan juga memanfaatkan informasi dari petugas lainnya untuk ditindaklanjuti,” katanya.
Dari jumlah jemaah wafat itu, 312 jemaah atau sekitar 95 persen lebih tercatat berusia di atas 60 tahun, sedangkan penyebabnya ada 210 jemaah atau sekitar 65 persen yang meninggal dunia akibat gangguan sirkulasi, jantung, dan pembuluh darah.
(*)
Sebanyak 325 jemaah haji Indonesia wafat di Arab Saudi hingga Sabtu pagi WAS (Sabtu siang WIB) dan terbanyak dari Debarkasi Solo (SOC).
“Jumlah itu masih lebih rendah sedikit dibanding tahun lalu, karena dalam kurun yang sama pada tahun lalu tercatat 327 jemaah wafat,” kata Wakil Ketua PPIH Arab Saudi bidang kesehatan DR dr Barita Sitompul.
Sumber: JAKARTA | SURYA Online
Hingga hari ke 43 pelaksanaan haji, jumlah jemaah haji Indonesia yang meninggal dunia selama prosesi haji mencapai angka 283 orang. Penyebab meninggalnya jemaah ini beragam. Namun, mayoritas jemaah ini meninggal akibat penyakit sirkulasi dan pernapasan yang mencapai 261 jemaah.
Media Center Haji Departemen Agama di Jakarta, Rabu (17/12), memastikan, jumlah jemaah yang meninggal itu dari data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu.
Jemaah haji yang meninggal terbanyak berasal dari embarkasi Surakarta sebanyak 67 jemaah, disusul jemaah haji asal embarkasi Surabaya sebanyak 47 jemaah, embarkasi Jakarta dari Asrama Haji Bekasi 36 jemaah , embarkasi Jakarta dari Asrama Haji Pondok Gede 33 jemaah. Sisanya berasal dari embarkasi Ujung Pandang, Medan, serta dari jemaah haji plus.
Dari jumlah 283 jemaah yang meninggal tersebut, 209 jemaah meninggal selama berada di Mekkah, 34 jemaah meninggal di Madinah, dan 33 jemaah meninggal selama prosesi Arafah-Mina, dan sisanya meninggal di Jeddah serta dalam perjalanan. Imam Prihadiyoko/kcm
Sumber: Republika, Minggu, 14 Desember 2008 pukul 22:31:00
BATAM — Ratusan penjemput jemaah haji kelompok terbang (kloter) pertama Debarkasi Hang Nadim Batam rela berdesakan menunggu haji di tengah hujan.”Saya sudah disini dari jam 06.00 WIB pagi, waktu itu hujan sedang deras sekali,” kata Munsah, penjemput haji asal Bengkong, Batam di Batam, Minggu.
Musnah mengatakan rela menunggu berjam-jam. Ia tiba di Asrama Haji Batam pukul 06.00 WIB, padahal rombongan jamaah tiba pukul 10.45 WIB.”Biar dapat berkahnya, semoga bisa menyusul tahun depan,” katanya sambil memegang gagang payung.
Ia menjemput tetangga dekat, yang juga ketua RW di tempat tinggalnya.Senada dengan Musnah, warga Batam lain Assegaf rela menunggu kerabatnya di tengah rintik hujan.”Tak apa sakit sikit, mudah-mudahan tertular, tahun depan ikut pergi,” katanya.
Musnah bergabung dengan ratusan penjemput lain tertahan di halaman depan Asrama Haji Batam. Mereka dilarang memasuki areal asrama demi keselamatan jamaah.Panitia Pelaksana Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Hang Nadim Batam memberlakukan pengamanan berlapis di sekitar asrama, mulai dari jarak 200 meter sebelum asrama.
Sementara itu, kedatangan pesawat yang membawa 450 haji kloter pertama Debarkasi Hang Nadim Batam terlambat 10 menit. Pesawat dijadwalkan tiba pukul 08.35 WIB, namun menyentuh tanah Batam pukul 08.45 .Sekretaris PPIH Debarkasi Hang Nadim Batam Erizal Abdullah mengatakan keterlambatan itu masih ditoleransi.”Hari juga hujan, tak apalah,” katanya.
Erizal Abdullah mengatakan jumlah haji yang pulang sama dengan yang pergi, 450 orang yang terdiri atas 237 haji Tanjungpinang, 82 Bintan, 89 Batam, dan 36 Lingga serta lima petugas haji. Seluruhnya dari Provinsi Kepulauan Riau.
Debarkasi Hang Nadim Batam m

Seorang anggota jemaah haji asal Sibolga, Sumatera Utara, bersujud syukur begitu turun dari pesawat di Bandara Polonia, Medan, Kamis (27/1/2005).
Laporan wartawan Kompas Imam Prihadiyoko
JAKARTA, MINGGU - Jemaah yang sudah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan ibadah haji di tanah suci mulai pulang ke tanah air. Dan sejak Sabtu (13/12) kemarin, mulai tampak kesibukan di Terminal Haji Bandara Raja Abdul Aziz, Jeddah. Namun meski sudah diperingatkan sejak awal tentang berat maksimal dan jenis barang yang tidak boleh dimasukkan dalam kabin pesawat sudah disosialisasikan, namun masih saja banyak barang yang terpaksa diturunkan.
Media Center Haji Departemen Agama di Jakarta, Minggu (14/12) menyebutkan, sebelum berangkat ke Indonesia, seluruh jemaah transit di Terminal Haji Bandara Raja Abdul Aziz. Dan seperti biasa, ketika jamaah berangkat selalu ada barang-barang yang terpaksa ditinggalkan jemaah di bandara. Jemaah kelompok terbang satu asal embarkasi Banjarmasin, misalnya, terpaksa meninggalkan puluhan tas berbagai warna dan bentuk berisi botol-botol air zam zam, dan aneka suvenir di salah satu lokasi transit bandara.
Di bagian lokasi transit yang lain juga ada tumpukan puluhan tas barang bawaan jemaah kelompok terbang satu asal embarkasi Makassar, jemaah kelompok terbang satu asal embarkasi Palembang, dan jemaah kelompok terbang satu asal embarkasi Surabaya. Pihak maskapai penerbangan tidak mau mengangkut barang-barang itu karena muatan pesawat sudah penuh.
Sejak awal kedatangan jemaah di tanah suci hingga sesaat sebelum mereka pulang, pihak penerbangan dan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji sudah memberitahu jemaah agar tidak terlalu banyak membawa barang-barang. Pihak penerbangan memberikan batasan, berat barang bagasi maksimal 32 kilogram per anggota jemaah, dan tas yang boleh dibawa ke kabin pesawat hanya tas tentengan yang diberikan pihak maskapai.
Walau beberapa barang jemaah terpaksa ditinggal, namun Kepala Daerah Kerja Jeddah Subakin Abdul Munthalib mengatakan PPIH masih tetap akan berusaha mengirimkan barang-barang jemaah ke embarkasi jemaah di tanah air. “Tapi kami tidak bisa memberikan jaminan,” ujarnya.
Imam Prihadiyoko
BANTEN, MINGGU — Akibat pemeriksaan ketat yang dilakukan oleh polisi wanita terhadap anggota jemaah haji Indonesia di Bandara King Abdul Aziz, Saudi Arabia, menyebabkan kelompok terbang (kloter) I Jawa Barat mengalami keterlambatan.
Sedianya, Kloter I Jawa Barat yang menggunakan penerbangan Saudi Arabia dijadwalkan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Minggu (14/12) pukul 10.05. Namun, mereka baru tiba di Tanah Air pada pukul 10.55.
Ketua Kloter I Jabar Badrul Uyum berharap panitia penyelenggara haji tahun depan tidak hanya melakukan pembinaan kepada calon jemaah haji, tetapi juga kepada petugas yang mendampingi anggota jemaah haji. Mereka harus sigap. “Saya sempat bingung ketika pertama kali tiba di Madinah karena kurang antisipasif,” ujarnya kepada Kompas.com.
HIN
BANTEN, MINGGU - Lima kelompok terbang (kloter) jemaah haji dijadwalkan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, Minggu (14/12). Lima kloter tersebut terdiri dari dua Kloter DKI Jakarta, dan tiga kloter Jawa Barat. Dua kloter DKI menggunakan maskapai penerbangan Garuda Indonesia Airlines, dan tiga kloter Jawa Barat menggunakan maskapai penerbangan Saudi Arabia.
Menurut keterangan panitia, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, dan Gubernur Banten Ratu Atut akan menyambut jemaah haji asal Jakarta, dan Banten. Sebelumnya, 449 jemaah haji Kloter Jawa Barat telah tiba di Soekarno-Hatta. Menurut Ketua Kloter I Kloter Jawa Barat U. Badrul Uyum, tidak ada satu anggota Kloter Jabar yang meninggal dunia di Tanah Suci Mekkah. “Alhamdulilah, semua tiba di Tanah Air dengan selamat,” ujarnya kepada Kompas.com.
Sumber: Republika, Senin, 08 Desember 2008 pukul 17:32:00
Penyebabnya antara lain bentuk tenda yang sama, jemaah membludak, jaraknya jauh, dan pemandu (mursyid) tidak hafal lokasi tenda jemaah yang dipandunya.
Jemaah haji Lampung kloter 31 yang dibimbing dua petugas atau pemandu, masing-masing dengan tanda nomor 15/1 dan 15/2, saat keberangkatan sekitar pukul 01.30 waktu Mina sampai ke lokasi pelontaran jamrah aqobah sekitar 10 kilometer pergi-pulang, cukup lancar.
Namun, ketika kembali ke perkemahan, di pertengahan jalan yang padat dengan jemaah dan bus pengangkut, rombongan terbagi dua yakni yang dipandu petugas 15/1 nyasar sampai ke perbatasan Mina-Muzdalifah, sementara yang dibimbing petugas 15/2 nyasar ke jalan layang.
Akibatnya mereka berbalik arah dan karena pemandu jalan terlalu cepat, sementara jemaah sudah kelelahan, apalagi yang usia lanjut harus jalan perlahan, membuat rombongan terpencar, ada yang terpisah antara suami-istri, antaranggota KBIH dan banyak yang baru tiba di perkemahan siang hari, dan kakinya ada yang lecet.
Yang membuat panik lagi bahkan nyaris memicu pertengkaran antarjemaah, serta antara jemaah dan pengurus KBIH, adalah ketika perjalanan yang sudah capek, salah jalan, kondisi tubuh sudah melemah akibat belum tidur sejak wukuf di Arafah dan mabit, tiba-tiba pemandu justru sering bertanya kepada polisi dimana alamat tenda maktab 15.
Kondisi tersebut selain membuat jemaah kelelahan, juga memicu kekesalan petugas, termasuk pengurus kloter, TPIHI, dan KBIH yang juga ikut tersesat karena semula percaya penuh kepada petugas, apalagi waktu salat Subuh sudah tiba, jemaah belum sampai ke tenda.
Penanggungjawab pemandu dari maktab 15 dan Muassasah Persaudaraan Haji Asia Tenggara ketika dihubungi meminta maaf.
Sementara itu, usai melontar jamrah aqobah di Jamarat, sekitar pukul 03.00 waktu setempat, jemaah umumnya sudah melakukan tahallul awal dengan memendekkan rambut, banyak pula yang langsung cukur gundul, serta setelah tiba di tenda jemaah laki-laki sudah boleh melepas pakaian ihrom.
Jemaah yang kesasar selain banyak yang berkerumun melihat peta di sudut-sudut jalan, juga bertanya kepada petugas, baik saat akan berangkat maupun pulang dari melempar jamrah.
Jemaah asal Sekincau, Lampung Barat Murni bin Malikin (75) anggota kloter 32 maktab 18 misalnya, kesasar ke maktab 44 DKI Jakarta, karena terpisah dari rombongan, namun segera diantarkan ke kloter oleh jemaah Lampung lainnya.
Selain itu, karena situasi dan kondisi pelaksanaan khutbah wukuf dan salat zuhur-ashar dijamak qosor, di Arafah Minggu siang hingga matahari terbenam, jemaah kloter 31`asal Lampung bergabung dengan kloter 39 Surabaya.
Selaku khatib KH M Salim Imron (KBIH Mabruroh Sidoarjo, Jawa Timur) dan bilal Raahmad Nasruddin LC ketua kloter 39 SUB, dilanjutkan istigasah dan berdoa.
Setelah wukuf di Arafah, mabit dan mengambil kerikil di Muzdalifah pada Minggu tengah malam, jemaah tiba di Mina langsung melontar jamrah aqabah di Jamarat Senin dini hari. Selanjutnya akan tetap di Mina melanjutkan melontar jamrah Ula, Wustam, dan aqabah dua sampai tiga hari kedepan.
Selanjutnya mereka akan kembali ke Mekkah untuk melakukan tawaf ifadah, sya’i, tahallul akhir (tsani) dan tawaf wada (pamit), lalu ke Madinah untuk melakukan salat Arbain dan ziarah, sekitar delapan hingga sembilan hari sebelum kembali ke tanah air. – ant/ah