Info Haji: Menag Terbitkan SK Tetapkan Porsi Haji 2006

May 23rd, 2006

Sumber: http://www.humasdepag.or.id/anunce_isi.php?AnunceID=71

Jakarta (MCH)–Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni melalui Surat Keputusan Nomor 290 tahun 2006, tentang penetapan porsi jemaah haji Indonesia 2006, terdiri dari 189.000 orang jemaah haji biasa dan 16.000 orang jemaah haji khusus.

Dalam keputusan ini, selain diatur soal porsi haji bagi jemaah, juga diatur porsi bagi petugas haji daerah yang terdiri dari Tenaga Pembimbing Haji Daerah (TPHD) dan Tenaga Kesehatan Haji Daerah (TKHD).

Terdapat 32 propinsi yang memperoleh porsi haji adalah Nanggroe Aceh Darussalam 3.558 orang, terdiri 3.525 jemaah dan 33 orang petugas. Sumatera Utara 8.050 orang, terdiri 7.997 jemaah dan 53 orang petugas. Sumatera Barat 4.347 orang, terdiri 4.318 jemaah dan 29 orang petugas. Riau 4.995 orang, terdiri 4.962 orang jemaah dan 33 orang petugas. Jambi 2.606 orang, terdiri 2.589 jemaah dan 17 orang petugas. Sumsel 6.290 orang, terdiri 6.249 jemaah dan 41 orang petugas. Bengkulu 1.596 orang terdiri 1.585 jemaah dan 11 orang petugas. Lampung 6.216 orang, terdiri 6.175 orang jemaah dan 41 orang petugas. Bangka Belitung 904 orang, terdiri 898 orang jemaah dan 6 orang petugas. Kepulauan Riau 982 orang, terdiri 975 orang jemaah dan 7 orang petugas.

DKI Jakarta 7.012 orang, terdiri 6.966 orang jemaah dan 46 orang petugas. Jawa Barat 37.227 orang, terdiri 36.979 orang jemaah dan 248 orang petugas. Jawa Tengah 29.363 orang, terdiri 29.092 orang jemaah dan 271 orang petugas. DI Yogyakarta 3.059 orang, terdiri 3.031 orang jemaah dan 28 orang petugas. Jawa Timur 33.810 orang, terdiri 33.585 orang jemaah dan 225 orang petugas. Banten 8.451 orang, terdiri 8.395 orang jemaah dan 56 orang petugas.

Bali 207 orang, terdiri 206 orang jemaah dan 1 orang petugas. NTB 4.446 orang, terdiri 4.416 orang jemaah dan 30 orang petugas. NTT 417 orang, terdiri 414 orang jemaah dan 3 orang petugas. Kalbar 2.314 orang, terdiri 2.299 orang jemaah dan 15 orang petugas. Kalteng 1.335 orang, terdiri 1.323 orang jemaah dan 12 orang petugas. Kalsel 3.461 orang, terdiri 3.429 orang jemaah dan 32 orang petugas. Kaltim 2.790 orang, terdiri 2.764 orang jemaah dan 26 orang petugas.

Propinsi Sulut 627 orang, terdiri 621 orang jemaah dan 6 orang petugas. Sulteng 1.740 orang, terdiri 1.724 orang jemaah dan 16 orang petugas. Sulsel 6.826 orang, terdiri 6.763 orang jemaah dan 63 orang petugas. Sultra 1.660 orang, terdiri 1.645 orang jemaah dan 15 orang petugas. Gorontalo 881 orang, terdiri 873 orang jemaah dan 8 orang petugas. Maluku 608 orang, terdiri 602 orang jemaah dan 6 orang petugas. Maluku Utara 972 orang, terdiri 963 orang jemaah dan 9 orang petugas. Papua 822 orang, terdiri 814 orang jemaah dan 8 orang petugas. Sulawesi Barat 1.428 orang, terdiri 1.415 orang jemaah dan 13 orang petugas. Porsi haji biasa seluruhnya 189.00 orang, untuk jemaah 187.592 orang dan untuk petugas daerah 1.408 orang. (ts)

Persiapan Spiritual: Antara Panggilan dan Kemantapan

May 23rd, 2006

Dalam tulisan tentang topik persiapan haji, saya telah menyinggung beberapa hal yang selayaknya diperhatikan bagi setiap orang yang akan menunaikan ibadah haji. Persiapan itu meliputi: persiapan dana atau biaya, persiapan fisik, dan persiapan mental atau spiritual. Dua tulisan sebelumnya sudah membahas (kurang lebih) dua hal pertama. Kali ini kita coba mengapa persiapan mental atau spiritual itu penting sebelum menunaikan ibadah haji.

Sebelumnya, saya ingin mohon maaf kepada pembaca sekalian. Ternyata, memberi pengantar tentang kesiapan mental atau spiritual sungguh sangat sulit. Hal inilah yang mendorong saya terus menunda untuk menulis hal ini. Hingga tak terasa beberapa bulan berjalan.

Tapi hari ini, dengan niat yang mantap, saya coba menuliskan apa yang saya bisa. Biarpun saya tidak yakin diri ini pantas untuk memberi pengantar tentang hal ini, tapi saya memohon kerelaan dan maaf dari pembaca semua, semoga tulisan ini bisa memberi manfaat. Dan bila ada kekurangan, ini adalah kepunyaan penulis semata.

Alasan Belum Mantap atau Belum Cukup Umur

Banyak orang bilang, “Saya tidak berani menunaikan ibadah haji terlebih dahulu. Belum mantap!” Ada juga yang bilang, “Saya masih terlalu muda, nanti lah (naik haji) kalau sudah cukup umur.”

Selalu begitu alasan-alasan kita, bukan? Apa yang belum mantap? Kita pasti tahu, mantap dalam pengertian ini adalah keyakinan bahwa spiritual dan mental belum cukup mantap untuk menunaikan haji. Lebih gampangnya, kita juga pasti merasa, keimanan kita belum tertata dengan baik sehingga tidak yakin bisa menjalani ibadah haji dengan mantap.

Lalu belum cukup umur. Pertanyaan saya, adakah aturan dalam Islam yang mengatakan bahwa haji hanya diperuntukkan bagi orang yang cukup umur? Berapa umur yang pantas untuk naik haji? Empat puluh tahun? Limah puluh tahun? Ataukah enam puluh tahun?

Tentang Iman

Mari kita coba telaah. Pertama, siapa bisa mengukur iman?

Kalau menurut Islam, ada beberapa hal yang dikategorikan sebagai tolak ukur keimanan seseorang, percaya kepada Allah, malaikat, rasul, kitab-kitab, hari akhir, dan takdir.

Tapi bagaimana bentuk dan ukuran iman, terus terang tidak ada penjelasannya. Memang ada beberapa tuntunan dan indikator, tapi itu tidak berbicara dan tidak bisa menjadi tolak ukur. Dan sesungguhnya, saya pribadi percaya, yang tahu keimanan seseorang tentu saja hanya Allah.

Apakah seseorang tidak tahu keimanan dirinya? Kalau boleh ditanyakan, bagaimana Anda mengukur kadar keimanan Anda hari ini? Apakah hari ini cenderung menguat, seperti suhu global, atau kali ini cenderung menurun seperti jatuhnya nilai Rupiah terhadap Dolar AS? Tidak pernah ada alat pengukur keimanan. Belum pernah ada yang menjual termometer keimanan. Dan tidak ada lembaga pengukur keimanan.

Jadi, kalau dibuat statistiknya, keimanan seseorang ada naik turunnya. Spiritualisme diri kita ada naik turunnya.

Kalau kita memutuskan naik haji tahun depan, mungkin kita takut ketika di tanah suci, kondisi spiritual kita sedang rendah banget. Kita takut ibadah kita kurang bermutu. Kita takut tidak bisa khusyuk. Dan banyak ketakutan lainnya, begitu? Apakah ini yang menjadi alasan kita untuk menunda-nunda panggilan mulia ini?

Kalau menurut saya, dengan pemahaman diri dan ketakutan terhadap keimanan diri sendiri tersebut, justru Anda dalam kondisi yang tepat. Menurut saya, keimanan seseorang yang paling sempurna adalah orang yang selalu introspeksi terhadap dirinya. Seseorang yang senantiasa tidak puas bahwa dirinya belum sempurna “bersimpuh”, belum sempurna “mengabdi” kepada Allah, belum sempurna “menjadi penyembah” Tuhan, inilah kondisi ideal iman seseorang. Seseorang yang puas diri bahwa dirinya sangat beriman kepada Allah sesungguhnya adalah orang yang takabur. Seseorang yang senantiasa takut dan merasa dirinya rendah di hadapan Allah adalah seseorang yang memahami hakikat keimanannya.

Jadi, kalau diri Anda merasakan perasaan dan keyakinan semacam di atas, kerendahdirian Anda sesungguhnya saat yang tepat untuk memulai menjawab panggilan mulia ini.

Beribadah haji adalah ibadah yang indah. Di tempat yang mulia dan suci itu, Anda pasti dapat merasakan kenikmatan indah untuk berdoa dan memuji Allah Tuhan Pengasih dan Penyayang.

Cukup Umur

Kemudian tentang umur. Pertanyaan sederhana ini mungkin bisa menjawab keraguan Anda, apakah dengan umur yang lebih tua Anda yakin keimanan dan spiritualisme Anda lebih bagus kondisinya dari saat ini? Apakah sepuluh tahun mendatang ibadah salat Anda lebih khusyuk dari saat ini? Apakah ketika berusia lima puluh tahun Anda yakin jiwa lebih tenang dan mantap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini?

Bila jawaban Anda tidak, saatnyalah Anda bergegas memantapkan diri. Bila tabungan sudah cukup, segera ungkapkan niat Anda kepada keluarga dekat Anda, entah pada istri, orang tua, anak. Dukungan moril dari seluruh keluarga akan menjadi pendorong yang sempurna bagi kesiapan ibadah menunaikan panggilan suci ini.

Akhir kata, semoga kita menjadi manusia-manusia yang setiap saat selalu sadar bahwa kita adalah makhluk-makhluk yang tidak punya kekuasaan apa-apa di hadapan Allah. Kekayaan, usia, dan anak-anak kita sesungguhnya bukan milik kita. Semuanya dapat kembali diambil-Nya. Saatnyalah memantapkan panggilan hati, memuliakan dan memuji, menjadi penyembah Allah sejati.

Info Haji: Depag Diminta Siapkan Tender Penerbangan Haji

April 21st, 2006

Republika, Rabu, 12 April 2006

JAKARTA — Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) meminta agar Departemen Agama (Depag) menyiapkan tender penerbangan internasional jika Garuda Indonesia Airways (GIA) bersikeras tidak mau menurunkan biaya penerbangan pelaksanaan ibadah haji 1427 H. Hingga kini belum ada kesepakatan harga penerbangan. GIA mematok ongkos 1.279 dolar Amerika Serikat (AS) per jamaah, sedangkan pemerintah mengajukan tawaran jauh di bawahnya yakni 1.100 dolar AS per jamaah.

”Pembahasan biaya komponen penyelenggaraan ibadah haji tahun 1427 H sudah beres, kecuali biaya penerbangan belum ada titik temu dengan Garuda. Masalah penerbangan masih akan dibicarakan lagi antara DPR dengan Garuda, tapi kalau tidak ada titik temu pemerintah harus menyiapkan tender penerbangan internasional,” papar Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI A Farhan Hamid kepada Republika di Jakarta, Selasa (11/4).

Harga yang ditetapkan GIA untuk zone I (NAD dan Medan) 1.279 dolar AS (harga sebelumnya 1.235 dolar AS). Zone II (Jakarta dan Solo) 1.379 dolar AS (sebelumnya 1.335 dolar AS). Sedangkan zone III (Banjarmasin, Balikpapan, dan Makassar) sebelumnya 1.445 dolar AS naik menjadi 1.499 dolar AS.

Komisi VIII DPR telah membandingkan tarif penerbangan haji GIA dengan penerbangan lain. Seperti penerbangan MAS Malaysia, rute Kuala Lumpur-Jeddah-Kuala Lumpur (15 jam) tarifnya 1.040 dolar AS. Jika dibandingkan harga yang ditetapkan GIA dengan jam terbang yang hampir sama rute Medan/Banda Aceh-Jeddah-Medan/NAD (zone I) selisihnya mencapai 239 dolar AS.

Farhan berharap, GIA mau menurunkan harganya seperti usulan pemerintah yaitu 1.100 dolar AS. Harga 1.100 dolar AS, itu menurutnya cukup masuk akal. Kalau harga penerbangan bisa turun, biaya penyelenggaraan haji juga bisa turun.

”Kita masih ingin bicara dengan Garuda agar harga penerbangan masih bisa turun. Tapi kalau tidak bisa, terpaksa kita mengundang penerbangan lain saja,” tutur Wakil Ketua Komisi VIII ini.

Selain GIA, penerbangan yang selama ini digunakan jamaah Indonesia ke Madinah yaitu Saudi Airlines. Ongkos penerbangan yang ditetapkan Saudi Airlines, menurut Farhan, ternyata jauh lebih tinggi dari harga GIA. Tapi pihak Saudi Airlines bisa akan menyesuaikan dengan harga yang telah ditetapkan GIA.
(vie )

Diambil dari situs Republika di:
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=243350&kat_id=6

Info Haji: Depag Diminta Tidak Monopoli Penyelenggaraan Ibadah Haji

April 19th, 2006

Depag Diminta Tidak Monopoli Penyelenggaraan Ibadah Haji
Muhammad Atqa - detikcom

Jakarta - Departemen Agama (Depag) diminta tidak memonopoli penyelenggaraan ibadah haji. Depag semestinya hanya menjadi regulator. Sedangkan penyelenggaraan ibadah haji ditangani muasasah atau lembaga tertentu.

Dengan demikian, manajemen ibadah haji dapat ditangani secara profesional, sehingga tarif haji bisa lebih murah dibandingkan negara lainnya, seperti Malaysia.

“Peran Depag lebih banyak mengurusi 205 ribu jamaah haji setiap tahunnya. Kasus Ambon, Poso, dan masalah agama lain yang muncul itu karena Depag tidak fokus, malah lebih fokus ke masalah haji,” kata Dirut Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Nusantara Bahauddin Tonti di kantornya, Gedung Sarinah, Jl MH Thamrin, Jakarta, Rabu (19/4/2006).

Dia menegaskan, sudah waktunya DPR mengeluarkan UU, di mana penyelenggaraan ibadah haji diselenggarakan suatu lembaga atau wadah. Ini agar lebih transparan dan mempermudah mekanisme kontrol. Karena akan diawasi oleh parlemen sebagai wakil rakyat dan auditor yang independen.

Dia menambahkan, dalam penyelenggaraan haji selama ini, semua biaya diambil dari ONH para calon jamaah haji. Seperti biaya kesekretariatan, biaya transportasi panitia, komunikasi, hingga staf Depag yang berhaji dengan gratis.

“Tapi ironisnya mereka malah mempersulit jamaah dan menjadikan peluang untuk mencari keuntungan pribadi,” kata Bahauddin.

Dia menjamin apabila Depag menyetujui hal ini, maka biaya haji akan lebih murah, karena biaya pemondokan, katering, transportasi, hingga pencetakan buku panduan haji bisa ditekan harganya. “Intinya banyak efisiensi yang dilakukan. Kalau ONH sekarang Rp 25 juta itu bisa ditekan lagi,” katanya.(umi)

Info Haji: Maftuh Basyuni:Bank Penerima Setoran Haji akan Dipilih

April 5th, 2006

Republika, Jumat, 03 Maret 2006 14:22:00
Maftuh Basyuni:Bank Penerima Setoran Haji akan Dipilih

Jakarta-RoL– Menteri Agama Maftuh Basyuni mengatakan bakal dipilihnya hanya dua hingga bank syariah sebagai Bank Penerima Setoran (BPS) biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) tidak akan merepotkan calon jemaah haji.

“Tidak merepotkan karena nanti ada aturan bahwa Bank (BPS -red) harus juga menanggung ongkos-ongkos pengiriman uang jemaah,” kata Menag Maftuh Basyuni seusai melantik tiga Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) di Jakarta, Jumat.

Dikatakan Menag, jumlah BPS yang mencapai 21 bank selama ini justru cukup merepotkan Depag. Karena itu akan dimungkinkan bagi calon jemaah menyetorkan uang BPIH tidak langsung ke BPS tetapi ke bank lain mana saja lebih dulu. Menag juga mengatakan, penentuan dua sampai tiga bank syariah itu akan diberlakukan mulai musim haji tahun ini melalui tender.

Sementara itu, Direktur Pelayanan Haji dan Umroh Depag Zakaria Anshar mengatakan, soal itu belum bisa diterapkan tahun ini, karena masih ada proses yang harus dilalui berupa penyiapan perangkat aturan lebih dulu.”Setelah itu baru kita umumkan dan ditenderkan,” katanya. Diakuinya dengan 21 bank saat ini pengawasan tetap terkontrol, namun administrasinya rumit dan merepotkan. Hal itu berbeda jika Depag hanya memiliki perjanjian atau “deal” dengan beberapa bank saja.

Menurut dia, calon jemaah tidak akan direpotkan dengan hanya dua tiga bank saja karena akan dimungkinkan melakukan setoran melalui bank mana saja ke BPS. Sebelumnya, tiga Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) yang dilantik itu, yakni Drs H Sudirman Rais MPd sebagai Ketua STAIN Palu, Drs Buswatin Abdullah sebagai Ketua STAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, dan Drs Khariri M Ag sebagai Ketua STAIN Purwokerto. antara/mim

Artikel diambil tanpa ijin dari situs Republika di:
http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=237893&kat_id=361

Tahun Depan Jemaah Haji Indonesia Dapat Jatah Makan di Mekkah

April 5th, 2006

Sumber: Republika, Rabu, 22 Februari 2006 7:03:00
Tahun Depan Jemaah Haji Indonesia Dapat Jatah Makan di Mekkah

Jakarta-RoL– Tahun depan jemaah haji Indonesia diusulkan akan mendapat jatah makan, tidak saja di Madinah, tetapi juga selama 20 hari di Mekkah, namun konsekuensinya uang “living cost”-nya (uang biaya hidup selama di tanah suci) juga dikurangi.

“Untuk makan di Mekkah senilai tujuh Riyal per porsi dikali dua kali makan selama 20 hari akan mengurangi uang living cost jemaah sebesar 280 Riyal,” kata Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji Depag Slamet Riyanto dalam Rapat Kerja dengan komisi VIII DPR RI yang dihadiri Menag Maftuh Basyuni di Jakarta, Selasa malam.

Jemaah haji sejak dua tahun terakhir mendapat makan selama menjalankan ibadah arbain delapan hari di Madinah, namun selama tinggal di Mekkah jemaah mencari sendiri makanannya dengan bekal uang living cost 1.500 Riyal. Slamet juga mengatakan, pengurangan uang living cost rencananya juga dilakukan bagi peningkatan plafon harga perumahan sebesar 450 Riyal per jemaah, dari pondokan seharga 1.550 Riyal menjadi 2.000 Riyal per jemaah.

Karena plafonnya selama ini rendah, kebanyakan pondokan jemaah haji Indonesia juga buruk kondisinya dan jauh dari Masjidil Haram. “Dengan demikian living cost 1.500 Riyal dikurangi makan di Mekkah 280 Riyal dan peningkatan plafon harga rumah 450 Riyal menjadi 730 Riyal,” katanya. Jadi jemaah, ujarnya, masih mendapat uang living cost sebesar 770 Riyal.

Dalam kesempatan itu, Slamet juga mengatakan bahwa ke depan Bank Penerima Setoran Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) hanyalah Bank Syariah dan hanya akan dipilih dua atau tiga bank saja agar lebih efisien. Pihaknya juga akan mengkaji jasa giro yang diberikan kepada jemaah apakah tetap diberikan kepada jemaah atau dikembalikan kepada umat melalui Dana Abadi Umat (DAU). antara/mim

Artikel diambil tanpa ijin dari:
http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=236326&kat_id=361

Info Haji: Menag Maftuh Basyuni: Tangan-Tangan Kotor Rusak Haji

March 6th, 2006

Muhammad Atqa - detikcom

Jakarta - Mengapa pelaksanaan haji sering amburadul? Menurut Menteri Agama (Menag) Maftuh Basyuni, pelaksanaan haji kurang mulus gara-gara ada tangan kotor. Tangan-tangan kotor itu juga merusak citra Depag.

“Saya melihat haji rusak memang karena tangan kotor itu sendiri. Kalau dikikis orang-orang dengan tangan kotor itu maka haji jauh lebih baik,” kata Maftuh.

Hal itu disampaikan Maftuh saat memberikan sambutan lokakarya nasional tentang manasik dan manajemen haji di Hotel Sari Pan Pacific, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (6/3/2006).

Penyelenggaraan haji, menurut Menag, tidaklah sulit karena tugasnya yang memang sederhana. Pelaksanaan haji juga tidak memerlukan kiat-kiat yang mendalam serta para jamaah haji juga mudah diatur. Namun karena ada tangan-tangan kotor akhirnya pelaksanaan haji menjadi rusak.

Tangan-tangan kotor itu, salah satunya menurut Depag, adalah PT Aurora yang gagal memberangkatkan puluhan jamaah BPIH khusus. Menurut Menag, gagalnya haji itu bukan kesalahan Depag. Namun hal itu justru memperburuk citra Depag yang memberikan izin pada PT Aurora.

Apalagi jamaah yang gagal berangkat itu mengadu ke DPR dan menyalahkan Depag yang telah memberi izin pada PT Aurora. Lalu Depaglah sepertinya yang harus bertanggung jawab.

“Padahal ini tidak ada sangkut pautnya dengan Depag. Hal ini seperti dokter yang melakukan malpraktek, tapi apakah Meneks yang bertanggung jawab?” kata Menag.

Menag juga menjelaskan, selain kasus PT Aurora, tangan-tangan kotor yang dimaksudnya adalah adanya calo pemondokan. “Calo-calo itu harus dihabiskan. Ada yang mengatakan utusan dari RI 1 untuk mengurusi rumah, ada juga yang mengaku dari Depag. Itu salah satu tangan kotor,” kata Menag.

Sebenarnya Depag telah berupaya sungguh-sungguh dan telah memberi hasil yang signifikan meski belum maksimal dalam pelaksanaan haji tahun ini.(iy)

Diambil tanpa ijin dari: situs web detikcom

Tips Mencium Hajar Aswad

March 3rd, 2006

Mencium Hajar Aswad adalah dianjurkan bagi setiap jamaah haji, terutama ketika thawaf. Itu jika keadaan memungkinkan. Jika sulit, cukup tangan memberi isyarat saja. Tapi, setiap jamaah haji tentu ingin melaksanakan ibadah ini. Kami persilakan untuk membaca tips menarik berikut ini.

Oleh Muda Saputra

Ketika naik haji tahun 2004, saya tidak terlalu berniat mencium Hajar Aswad sehingga kalau Thawaf tidak pernah dekat-dekat dengan Ka’bah. Entah mu’jizat apa, suatu ketika dalam satu Thawaf, pikiran saya tiba-tiba agak kosong dan serasa naik angin cepat meliuk-liuk dalam Thawaf dan tiba-tiba saya sudah di depan Multazam dan berangsur dekat berada dekat Hajar Aswad. Sejak kejadian tersebut, saya berniat mencium Hajar Aswad.

Memang awalnya tidak mudah walau sudah antri mulai dari Rukun Yamani, namun belum tentu dapat menciumnya walau orang di depan saya sudah bisa menciumnya. Hal ini berlangsung sampai tiga kali namun tidak berhasil akhirnya mental keluar dari antrian. Saat itu, rejeki saya hanya bisa menatap dari dekat bagaimana bentuk ‘tempurung” Hajar Aswad serta komposisi dan warna tujuh pecahan batunya (antara merah hati sampai ungu) yang direkat dengan semacam semen (?) warna coklat susu dengan titik-titik kecil seperti kerikil / pasir warna hitam.

Dalam upaya mencium Hajar Aswad ini sampai peci hilang tak terasa; stiker tanda bis, plane, dan Clearence Bea Cukai Arab Saudi terkelupas hilang dari tas paspor dengan bekas licin laksana tak pernah ada stiker pernah menempel di bagian tersebut. Keringat ? jangan ditanya, basah kuyup. Bahkan baju kurta yang saya beli di Lucknow, India pakai pada tahun 1996 yang tadinya kainnya mulus, gara-gara berdesakan mencium Hajar Aswad kainnya yang bergesekan dengan orang lain mejadi keriting macam kain flanel.

Akhirnya ketika ketemu istri di pagar penyekat bagian laki-laki dan perempuan di dekat bekas pintu ke Sumur Zam-zam, dia cerita bahwa hari ini ini dia dapat mencium Hajar Aswad sampai dua kali. Akhirnya saya minta tips bagaimana caranya supaya bisa mencium Hajar Aswad, dan segera saya praktekkan.

Ternyata istri saya pertama kali berhasil mencium Hajar Aswad dengan bantuan calo, namun untuk yang kedua dilakukan sendiri dengan cara yang sama. Caranya ternyata tidak antri dari Rukun Yamani. Namun, dari Multazam, mepet ke Ka’bah dan terus berpegangan pada pinggiram marmer tempat seorang tentara bertengger kalau menjaga Hajar Aswad.

Pas ketika orang yang antre dari Rukun Yamani gantian ke depan Hajar Aswad, yang dari Multazam masuk ke Hajar Aswad. Akhirnya dengan cara ini saya bisa mencium Hajar Aswad tiga kali. Alhamdullillah.

Wass. Wr. Wb

Hidayah Haji Selagi Muda

January 25th, 2006

Ini adalah kiriman cerita pengalaman seorang pembaca kita yang ada di Jakarta. Mas R, demikian saja kita sebut dirinya, sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan IT di daerah Jakarta pusat. Suatu waktu, karena pekerjaannya yang bagus, ia mendapat bonus dari perusahaannya. Dari sinilah ia bercerita tentang bagaimana hatinya mantap menunaikan panggilan untuk naik haji, biarpun masih bujangan dan indekos. Mas R lahir pada 1973. Ia naik haji pada awal 2004. Di Tanah Suci, ia diberi petunjuk Allah dengan menemukan “jodoh”-nya. Lebih jelasnya, selamat membaca ceritanya.

Cerita Pengalaman Haji Muda

Oleh Mas R di Jakarta

Pada awal 2003, alhamdulillah saya mendapatkan bonus dan insentif karena performance kerja saya bagus. Saat itu saya sama sekali tidak mempunyai rencana mau diapakan uang itu. Tetapi kemudian separuh dari uang itu saya berikan kepada orang tua saya di kampung.

Saat itu saya masih bujangan. Saya tinggal indekos di daerah Setiabudi. Kebetulan indekos saya tersedia fasilitas langganan koran Kompas. Sekitar akhir Mei 2003, secara kebetulan saya membaca iklan training ESQ dari Kang Ary Ginanjar di koran itu (berbeda dengan sekarang, saat itu iklan training ESQ berukuran sangat kecil dan sehingga tidak “eye-chatching” seperti sekarang yang seperempat halaman sendiri. Saya yakin bahwa hanya pembaca yang teliti dan cermat saja yang bisa melihat iklan tersebut. Saya merasa, bahwa sepertinya Allah memang mengatur agar saya bisa melihat iklan tersebut). Saya sendiri sebelumnya memang pernah mendengar tentang buku ESQ, tetapi saat itu saya cuman berpikir bahwa buku ESQ tidak ada bedanya dengan buku-buku motivasi lain seperti “Seven Habit” karangan Steven Covey atau buku-buku lainnya.

Malam harinya, ayah saya di kampung (Kendal) menelpon saya untuk dibelikan buku karangan Ary Ginanjar Agustian (judulnya Emotional Spiritual Quotient atau ESQ) dan ayah saya minta dikirimkan ke kampung. Ayah saya sudah 8 tahun menderita stroke (sehingga lumpuh separoh); kegiatan sehari-harinya sebagian dihabiskan untuk membaca. Akhir pekan kemudian saya pergi ke toko buku Gramedia di Mal Taman Anggrek (saya memang hobi membaca gratisan di toko buku) dan sekilas telah membaca buku ESQ tersebut sebelum mengirimkannya ke ayah saya via paket pos.

Sepertinya ada kekuatan yang mendorong saya untuk ikut training ESQ, sehingga saya kembali berusaha untuk mencari-cari iklan yang pernah saya lihat dulu di koran Kompas (lumayan juga mengaduk-aduk tumpukan kroan itu, dan alhamdulillah saya bisa menemukan iklan tersebut). Padahal kalau saya ingat-ingat lagi, koran di kos saya biasanya akan “menghilang” diambil oleh anak-anak. Jadi, saya merasa Allah memang menghendaki saya untuk ikut training tersebut, walau bayarnya lumayan mahal; sebagian besar peserta training saat itu karyawan kantor yang ditugaskan perusahaan.

Alhamdulillah, Allah membuka hati saya. Allah memberikan hidayah melalui training itu. Di training itu, saya dibuat sesadar-sadarnya tentang betapa besar kekuasaan Allah dan betapa beraninya saya “mengecilkan” Allah, betapa beraninya saya melanggar larangan Allah dan tidak menaati perintah-perintahNya. Sudah lama saya tidak bisa menangis jika ingat Allah, tetapi di training itu, saya tidak malu-malu untuk menangis sekeras-kerasnya menyadari betapa zalimnya saya ini.

Perubahan drastis saya rasakan setelah training itu: saya jadi berlama2 untuk sholat dan menyimak kata per kata bacaan-bacaan di dalam sholat, sehingga sering menangis di dalam sholat seolah-olah saya merasa Allah yang Maha Kuasa berada di depan saya. Saya jadi rajin untuk sholat lima waktu berjamaah di masjid. Teman-teman kos lama-kelamaan melihat perubahan di dalam diri saya, karena setiap main Playstation bareng-bareng, saya minta ijin berhenti sebentar main saat azan berkumandang untuk sholat berjamaah sebentar. Setelah pulang dari masjid, saya kembali melanjutkan main lagi. Memang, saat itu saya bujangan, belum punya pacar dan tinggal di kos, aktivitasnya paling-paling main playstation bareng atau jalan ke mal. Saya heran dengan betapa luar biasanya hidayah yang datang kepada saya tersebut, sehingga saya merasa di manapun saya dan kapan pun, saya merasa Allah berada di depan saya dan selalu mengawasi saya. Saya merasa Allah bisa mencabut saya sewaktu-waktu. Tetapi pada dasarnya, tidak ada perubahan di dalam diri saya dalam hal pergaulan dengan teman-teman atau dalam lingkungan kerja saya, karena semuanya saya jalanin dengan apa adanya seperti sebelumnya, dan memang saya tidak punya teman curhat mengenai gejolak perubahan spiritual di dalam diri saya ini.

Persiapan Fisik: Usia, Kesehatan, dan Logistik

January 24th, 2006

Seperti saya katakan dalam tulisan sebelumnya, persiapan haji pada intinya ada tiga hal: persiapan dana atau biaya, persiapan fisik, dan persiapan mental atau spiritual. Kalau Anda sudah membaca tulisan sebelumnya tentang mempersiapkan biaya untuk menunaikan haji, syukur-syukur kalau sudah ada yang memulainya, mari kita diskusi tentang persiapan fisik.

Persiapan Fisik Naik Haji

Ibadah haji sejujurnya bukan ibadah yang hanya melibatkan rohani saja. Bisa dibilang ibadah ini justru lebih banyak sifat fisiknya, yang kenyataannya memang mengarah pada ujian rohani dan spiritual. Dari seluruh proses kegiatan ibadah haji, untuk jamaah Indonesia biasanya berlangsung antara 20-40 hari (paket ONH plus atau ONH biasa). Dari seluruh hari itu, inti ibadah haji hanya terdiri dari beberapa hari, sisanya adalah kegiatan ibadah rutin dan sunnah, yang membutuhkan daya tahan fisik dan kesehatan yang prima.

Menurut pendapat umum ulama, rukun ibadah haji ada empat, yakni: ihram, thawaf ziarah (ifadhah), Sai antara Safa dan Marwah, dan Wukuf. Semua kegiatan inti, kira-kira hanya berlangsung antara 4 hari hingga seminggu saja. Jadi, sisa hari lainnya, antara 14 hari sampai 30 hari adalah kegiatan bebas yang harus dilalui oleh para jamaah haji. Sekitar tigapuluh hari harus hidup di negara orang adalah sungguh bukan masalah fisik yang kecil. Maka, di sinilah perlunya persiapan fisik yang mantap.