Archive for the ‘Cerita Haji’ Category

Mohon Maaf

Monday, July 24th, 2006

Dengan tulisan ini, saya Arif Widianto, pendiri dan pengasuh blog Cerita Haj memohon maaf yang sebesar-besarnya karena belum dapat mengupdate website ini secara intens.

Ada banyak kesibukan, baik pekerjaan dan atau kesibukan keluarga. Juga ada rencana untuk memperbaiki desain situs ini dan menambah beberapa fasilitas tambahan.

Dari berbagai komentar dan masukan, berikut informasi-informasi yang belum saya sediakan dan belum diupdate. Informasi ini saya rencanakan akan saya tulis segera setelah proses redesain selesai. Tapi, bila ada pembaca yang bisa membantu, kami dengan senang hati akan memuatnya.

  • Informasi pelunasan BPIH/ONH, saat ini sudah selesai
  • Informasi Cuaca di Mekkah dan Madinah saat musim haji nanti. Bisa kami beritahukan secara singkat, kemungkinan masih cukup dingin. Kadang kalah bisa turun salju, terutama di Madinah. Jadi, jamaah haji sebaiknya membawa pakaian hangat yang secukupnya. Pakaian ini, bisa Anda bawa ketika melaksanakan ibadah-ibadah sunnah atau ketika pergi ke masjid. Bila memakai ihram, sejujurnya, entah ini karunia dari Allah, badan rasanya cukup hangat.
  • Catatan perjalanan haji. Ini rencana saya dari awal mendirikan situs ini. Selain sebagai renungan pribadi, semoga catatan in dapat dibaca calon jamaah haji dan menjadi bekal selama di tanah suci. Semoga hal ini terlaksana dan sudah dipublikasi sebelum jamaah kloter pertama berangkat.
  • Tips-tips melaksanakan ibadah haji: 1) Ikut BPIH atau Tidak; 2) Jamaah ONH plus dan ONH biasa; 3) Tipa mempersiapkan logistik, makanan, dan bekal selama di tanah suci; 4) Tips melakukan ibadah wajib; 5) Tips melakukan ibadah sunnah dan berziarah; 6) Tips sebelum pulang.
  • Doa dan bacaan selama ibadah haji

Demikian kira-kira sekilas informasi yang akan kami tampilkan. Semoga catatan ini bisa menjadi ingatan saya, bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus segera ditampilkan di situs ini.

Seandainya ada dari para pembaca yang mempunyai pengalaman-pengalaman di atas, kami undang untuk menuliskan sepatah dua kata mengenai pengalamannya. Saya mempunyai keterbatasan terutama kilas balik jamaah ONH plus, mengingat saya dahulu hanya ikut ONH biasa. Mohon bagi cerita Anda di sini. Enaknya bagaimana ikut ONH plus itu, dan bila ada tidak enaknya apa?

Semoga saya segera dapat mengupdate situs ini.

Wassalam.

Persiapan Spiritual: Antara Panggilan dan Kemantapan

Tuesday, May 23rd, 2006

Dalam tulisan tentang topik persiapan haji, saya telah menyinggung beberapa hal yang selayaknya diperhatikan bagi setiap orang yang akan menunaikan ibadah haji. Persiapan itu meliputi: persiapan dana atau biaya, persiapan fisik, dan persiapan mental atau spiritual. Dua tulisan sebelumnya sudah membahas (kurang lebih) dua hal pertama. Kali ini kita coba mengapa persiapan mental atau spiritual itu penting sebelum menunaikan ibadah haji.

Sebelumnya, saya ingin mohon maaf kepada pembaca sekalian. Ternyata, memberi pengantar tentang kesiapan mental atau spiritual sungguh sangat sulit. Hal inilah yang mendorong saya terus menunda untuk menulis hal ini. Hingga tak terasa beberapa bulan berjalan.

Tapi hari ini, dengan niat yang mantap, saya coba menuliskan apa yang saya bisa. Biarpun saya tidak yakin diri ini pantas untuk memberi pengantar tentang hal ini, tapi saya memohon kerelaan dan maaf dari pembaca semua, semoga tulisan ini bisa memberi manfaat. Dan bila ada kekurangan, ini adalah kepunyaan penulis semata.

Alasan Belum Mantap atau Belum Cukup Umur

Banyak orang bilang, “Saya tidak berani menunaikan ibadah haji terlebih dahulu. Belum mantap!” Ada juga yang bilang, “Saya masih terlalu muda, nanti lah (naik haji) kalau sudah cukup umur.”

Selalu begitu alasan-alasan kita, bukan? Apa yang belum mantap? Kita pasti tahu, mantap dalam pengertian ini adalah keyakinan bahwa spiritual dan mental belum cukup mantap untuk menunaikan haji. Lebih gampangnya, kita juga pasti merasa, keimanan kita belum tertata dengan baik sehingga tidak yakin bisa menjalani ibadah haji dengan mantap.

Lalu belum cukup umur. Pertanyaan saya, adakah aturan dalam Islam yang mengatakan bahwa haji hanya diperuntukkan bagi orang yang cukup umur? Berapa umur yang pantas untuk naik haji? Empat puluh tahun? Limah puluh tahun? Ataukah enam puluh tahun?

Tentang Iman

Mari kita coba telaah. Pertama, siapa bisa mengukur iman?

Kalau menurut Islam, ada beberapa hal yang dikategorikan sebagai tolak ukur keimanan seseorang, percaya kepada Allah, malaikat, rasul, kitab-kitab, hari akhir, dan takdir.

Tapi bagaimana bentuk dan ukuran iman, terus terang tidak ada penjelasannya. Memang ada beberapa tuntunan dan indikator, tapi itu tidak berbicara dan tidak bisa menjadi tolak ukur. Dan sesungguhnya, saya pribadi percaya, yang tahu keimanan seseorang tentu saja hanya Allah.

Apakah seseorang tidak tahu keimanan dirinya? Kalau boleh ditanyakan, bagaimana Anda mengukur kadar keimanan Anda hari ini? Apakah hari ini cenderung menguat, seperti suhu global, atau kali ini cenderung menurun seperti jatuhnya nilai Rupiah terhadap Dolar AS? Tidak pernah ada alat pengukur keimanan. Belum pernah ada yang menjual termometer keimanan. Dan tidak ada lembaga pengukur keimanan.

Jadi, kalau dibuat statistiknya, keimanan seseorang ada naik turunnya. Spiritualisme diri kita ada naik turunnya.

Kalau kita memutuskan naik haji tahun depan, mungkin kita takut ketika di tanah suci, kondisi spiritual kita sedang rendah banget. Kita takut ibadah kita kurang bermutu. Kita takut tidak bisa khusyuk. Dan banyak ketakutan lainnya, begitu? Apakah ini yang menjadi alasan kita untuk menunda-nunda panggilan mulia ini?

Kalau menurut saya, dengan pemahaman diri dan ketakutan terhadap keimanan diri sendiri tersebut, justru Anda dalam kondisi yang tepat. Menurut saya, keimanan seseorang yang paling sempurna adalah orang yang selalu introspeksi terhadap dirinya. Seseorang yang senantiasa tidak puas bahwa dirinya belum sempurna “bersimpuh”, belum sempurna “mengabdi” kepada Allah, belum sempurna “menjadi penyembah” Tuhan, inilah kondisi ideal iman seseorang. Seseorang yang puas diri bahwa dirinya sangat beriman kepada Allah sesungguhnya adalah orang yang takabur. Seseorang yang senantiasa takut dan merasa dirinya rendah di hadapan Allah adalah seseorang yang memahami hakikat keimanannya.

Jadi, kalau diri Anda merasakan perasaan dan keyakinan semacam di atas, kerendahdirian Anda sesungguhnya saat yang tepat untuk memulai menjawab panggilan mulia ini.

Beribadah haji adalah ibadah yang indah. Di tempat yang mulia dan suci itu, Anda pasti dapat merasakan kenikmatan indah untuk berdoa dan memuji Allah Tuhan Pengasih dan Penyayang.

Cukup Umur

Kemudian tentang umur. Pertanyaan sederhana ini mungkin bisa menjawab keraguan Anda, apakah dengan umur yang lebih tua Anda yakin keimanan dan spiritualisme Anda lebih bagus kondisinya dari saat ini? Apakah sepuluh tahun mendatang ibadah salat Anda lebih khusyuk dari saat ini? Apakah ketika berusia lima puluh tahun Anda yakin jiwa lebih tenang dan mantap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini?

Bila jawaban Anda tidak, saatnyalah Anda bergegas memantapkan diri. Bila tabungan sudah cukup, segera ungkapkan niat Anda kepada keluarga dekat Anda, entah pada istri, orang tua, anak. Dukungan moril dari seluruh keluarga akan menjadi pendorong yang sempurna bagi kesiapan ibadah menunaikan panggilan suci ini.

Akhir kata, semoga kita menjadi manusia-manusia yang setiap saat selalu sadar bahwa kita adalah makhluk-makhluk yang tidak punya kekuasaan apa-apa di hadapan Allah. Kekayaan, usia, dan anak-anak kita sesungguhnya bukan milik kita. Semuanya dapat kembali diambil-Nya. Saatnyalah memantapkan panggilan hati, memuliakan dan memuji, menjadi penyembah Allah sejati.

Tips Mencium Hajar Aswad

Friday, March 3rd, 2006

Mencium Hajar Aswad adalah dianjurkan bagi setiap jamaah haji, terutama ketika thawaf. Itu jika keadaan memungkinkan. Jika sulit, cukup tangan memberi isyarat saja. Tapi, setiap jamaah haji tentu ingin melaksanakan ibadah ini. Kami persilakan untuk membaca tips menarik berikut ini.

Oleh Muda Saputra

Ketika naik haji tahun 2004, saya tidak terlalu berniat mencium Hajar Aswad sehingga kalau Thawaf tidak pernah dekat-dekat dengan Ka’bah. Entah mu’jizat apa, suatu ketika dalam satu Thawaf, pikiran saya tiba-tiba agak kosong dan serasa naik angin cepat meliuk-liuk dalam Thawaf dan tiba-tiba saya sudah di depan Multazam dan berangsur dekat berada dekat Hajar Aswad. Sejak kejadian tersebut, saya berniat mencium Hajar Aswad.

Memang awalnya tidak mudah walau sudah antri mulai dari Rukun Yamani, namun belum tentu dapat menciumnya walau orang di depan saya sudah bisa menciumnya. Hal ini berlangsung sampai tiga kali namun tidak berhasil akhirnya mental keluar dari antrian. Saat itu, rejeki saya hanya bisa menatap dari dekat bagaimana bentuk ‘tempurung” Hajar Aswad serta komposisi dan warna tujuh pecahan batunya (antara merah hati sampai ungu) yang direkat dengan semacam semen (?) warna coklat susu dengan titik-titik kecil seperti kerikil / pasir warna hitam.

Dalam upaya mencium Hajar Aswad ini sampai peci hilang tak terasa; stiker tanda bis, plane, dan Clearence Bea Cukai Arab Saudi terkelupas hilang dari tas paspor dengan bekas licin laksana tak pernah ada stiker pernah menempel di bagian tersebut. Keringat ? jangan ditanya, basah kuyup. Bahkan baju kurta yang saya beli di Lucknow, India pakai pada tahun 1996 yang tadinya kainnya mulus, gara-gara berdesakan mencium Hajar Aswad kainnya yang bergesekan dengan orang lain mejadi keriting macam kain flanel.

Akhirnya ketika ketemu istri di pagar penyekat bagian laki-laki dan perempuan di dekat bekas pintu ke Sumur Zam-zam, dia cerita bahwa hari ini ini dia dapat mencium Hajar Aswad sampai dua kali. Akhirnya saya minta tips bagaimana caranya supaya bisa mencium Hajar Aswad, dan segera saya praktekkan.

Ternyata istri saya pertama kali berhasil mencium Hajar Aswad dengan bantuan calo, namun untuk yang kedua dilakukan sendiri dengan cara yang sama. Caranya ternyata tidak antri dari Rukun Yamani. Namun, dari Multazam, mepet ke Ka’bah dan terus berpegangan pada pinggiram marmer tempat seorang tentara bertengger kalau menjaga Hajar Aswad.

Pas ketika orang yang antre dari Rukun Yamani gantian ke depan Hajar Aswad, yang dari Multazam masuk ke Hajar Aswad. Akhirnya dengan cara ini saya bisa mencium Hajar Aswad tiga kali. Alhamdullillah.

Wass. Wr. Wb

Hidayah Haji Selagi Muda

Wednesday, January 25th, 2006

Ini adalah kiriman cerita pengalaman seorang pembaca kita yang ada di Jakarta. Mas R, demikian saja kita sebut dirinya, sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan IT di daerah Jakarta pusat. Suatu waktu, karena pekerjaannya yang bagus, ia mendapat bonus dari perusahaannya. Dari sinilah ia bercerita tentang bagaimana hatinya mantap menunaikan panggilan untuk naik haji, biarpun masih bujangan dan indekos. Mas R lahir pada 1973. Ia naik haji pada awal 2004. Di Tanah Suci, ia diberi petunjuk Allah dengan menemukan “jodoh”-nya. Lebih jelasnya, selamat membaca ceritanya.

Cerita Pengalaman Haji Muda

Oleh Mas R di Jakarta

Pada awal 2003, alhamdulillah saya mendapatkan bonus dan insentif karena performance kerja saya bagus. Saat itu saya sama sekali tidak mempunyai rencana mau diapakan uang itu. Tetapi kemudian separuh dari uang itu saya berikan kepada orang tua saya di kampung.

Saat itu saya masih bujangan. Saya tinggal indekos di daerah Setiabudi. Kebetulan indekos saya tersedia fasilitas langganan koran Kompas. Sekitar akhir Mei 2003, secara kebetulan saya membaca iklan training ESQ dari Kang Ary Ginanjar di koran itu (berbeda dengan sekarang, saat itu iklan training ESQ berukuran sangat kecil dan sehingga tidak “eye-chatching” seperti sekarang yang seperempat halaman sendiri. Saya yakin bahwa hanya pembaca yang teliti dan cermat saja yang bisa melihat iklan tersebut. Saya merasa, bahwa sepertinya Allah memang mengatur agar saya bisa melihat iklan tersebut). Saya sendiri sebelumnya memang pernah mendengar tentang buku ESQ, tetapi saat itu saya cuman berpikir bahwa buku ESQ tidak ada bedanya dengan buku-buku motivasi lain seperti “Seven Habit” karangan Steven Covey atau buku-buku lainnya.

Malam harinya, ayah saya di kampung (Kendal) menelpon saya untuk dibelikan buku karangan Ary Ginanjar Agustian (judulnya Emotional Spiritual Quotient atau ESQ) dan ayah saya minta dikirimkan ke kampung. Ayah saya sudah 8 tahun menderita stroke (sehingga lumpuh separoh); kegiatan sehari-harinya sebagian dihabiskan untuk membaca. Akhir pekan kemudian saya pergi ke toko buku Gramedia di Mal Taman Anggrek (saya memang hobi membaca gratisan di toko buku) dan sekilas telah membaca buku ESQ tersebut sebelum mengirimkannya ke ayah saya via paket pos.

Sepertinya ada kekuatan yang mendorong saya untuk ikut training ESQ, sehingga saya kembali berusaha untuk mencari-cari iklan yang pernah saya lihat dulu di koran Kompas (lumayan juga mengaduk-aduk tumpukan kroan itu, dan alhamdulillah saya bisa menemukan iklan tersebut). Padahal kalau saya ingat-ingat lagi, koran di kos saya biasanya akan “menghilang” diambil oleh anak-anak. Jadi, saya merasa Allah memang menghendaki saya untuk ikut training tersebut, walau bayarnya lumayan mahal; sebagian besar peserta training saat itu karyawan kantor yang ditugaskan perusahaan.

Alhamdulillah, Allah membuka hati saya. Allah memberikan hidayah melalui training itu. Di training itu, saya dibuat sesadar-sadarnya tentang betapa besar kekuasaan Allah dan betapa beraninya saya “mengecilkan” Allah, betapa beraninya saya melanggar larangan Allah dan tidak menaati perintah-perintahNya. Sudah lama saya tidak bisa menangis jika ingat Allah, tetapi di training itu, saya tidak malu-malu untuk menangis sekeras-kerasnya menyadari betapa zalimnya saya ini.

Perubahan drastis saya rasakan setelah training itu: saya jadi berlama2 untuk sholat dan menyimak kata per kata bacaan-bacaan di dalam sholat, sehingga sering menangis di dalam sholat seolah-olah saya merasa Allah yang Maha Kuasa berada di depan saya. Saya jadi rajin untuk sholat lima waktu berjamaah di masjid. Teman-teman kos lama-kelamaan melihat perubahan di dalam diri saya, karena setiap main Playstation bareng-bareng, saya minta ijin berhenti sebentar main saat azan berkumandang untuk sholat berjamaah sebentar. Setelah pulang dari masjid, saya kembali melanjutkan main lagi. Memang, saat itu saya bujangan, belum punya pacar dan tinggal di kos, aktivitasnya paling-paling main playstation bareng atau jalan ke mal. Saya heran dengan betapa luar biasanya hidayah yang datang kepada saya tersebut, sehingga saya merasa di manapun saya dan kapan pun, saya merasa Allah berada di depan saya dan selalu mengawasi saya. Saya merasa Allah bisa mencabut saya sewaktu-waktu. Tetapi pada dasarnya, tidak ada perubahan di dalam diri saya dalam hal pergaulan dengan teman-teman atau dalam lingkungan kerja saya, karena semuanya saya jalanin dengan apa adanya seperti sebelumnya, dan memang saya tidak punya teman curhat mengenai gejolak perubahan spiritual di dalam diri saya ini.

Persiapan Fisik: Usia, Kesehatan, dan Logistik

Tuesday, January 24th, 2006

Seperti saya katakan dalam tulisan sebelumnya, persiapan haji pada intinya ada tiga hal: persiapan dana atau biaya, persiapan fisik, dan persiapan mental atau spiritual. Kalau Anda sudah membaca tulisan sebelumnya tentang mempersiapkan biaya untuk menunaikan haji, syukur-syukur kalau sudah ada yang memulainya, mari kita diskusi tentang persiapan fisik.

Persiapan Fisik Naik Haji

Ibadah haji sejujurnya bukan ibadah yang hanya melibatkan rohani saja. Bisa dibilang ibadah ini justru lebih banyak sifat fisiknya, yang kenyataannya memang mengarah pada ujian rohani dan spiritual. Dari seluruh proses kegiatan ibadah haji, untuk jamaah Indonesia biasanya berlangsung antara 20-40 hari (paket ONH plus atau ONH biasa). Dari seluruh hari itu, inti ibadah haji hanya terdiri dari beberapa hari, sisanya adalah kegiatan ibadah rutin dan sunnah, yang membutuhkan daya tahan fisik dan kesehatan yang prima.

Menurut pendapat umum ulama, rukun ibadah haji ada empat, yakni: ihram, thawaf ziarah (ifadhah), Sai antara Safa dan Marwah, dan Wukuf. Semua kegiatan inti, kira-kira hanya berlangsung antara 4 hari hingga seminggu saja. Jadi, sisa hari lainnya, antara 14 hari sampai 30 hari adalah kegiatan bebas yang harus dilalui oleh para jamaah haji. Sekitar tigapuluh hari harus hidup di negara orang adalah sungguh bukan masalah fisik yang kecil. Maka, di sinilah perlunya persiapan fisik yang mantap.

Persiapan Biaya Haji: Tabungan dan Arisan

Thursday, January 12th, 2006

Setelah sebelumnya kita berbicara tentang niat, kali ini saya ingin mengajak Anda berbicara tentang suatu proses yang boleh kita sebut sebagai upaya mewujudkan niat. Semua orang bisa berniat, dan niat yang baik dijanjikan Allah sebuah pahala. Maka, setiap niat Anda yang ingin menunaikan haji, bila Anda mampu, tentu mendapat karunia-Nya. Mewujudkan niat adalah kelebihan lain dan tentu akan mendapat balasan yang lebih. Mewujudkan niat haji Anda pada dasarnya adalah sebuah proses persiapan yang terdiri dari persiapan biaya, persiapan fisik, persiapan spiritual.

## Biaya ##

Sekarang, bagaimana cara mewujudkan niat agar ibadah haji Anda terlaksana?

Hal pokok agar Anda terwujud dan terpanggil naik haji, tentu saja adalah Ongkos Naik Haji (ONH). Jadi kali ini kita coba berbicara hal praktis, mengumpulkan dana untuk berhaji.

Banyak yang bertanya, apa mungkin saya bisa berhaji, sedang tiap bulan saja gaji langsung habis dioper ke sana-sini, ditransfer ke bank ini-ke bank itu, tuntas untuk pembayaran cicilan rumah, motor, kartu kredit, uang belanja, gaji pembantu, uang saku anak-anak, dan berbagai macam keperluan lainnya.

Tapi tunggu dulu, saya boleh mengingatkan, mengutip tulisan berbagai penasihat keuangan keluarga yang saya baca di media massa, kalau Anda punya niat, semua bisa diwujudkan dengan kedisiplinan dan keteguhan hati.

Ada seorang nenek bisa berhaji sampai dua kali dengan mengumpulkan sekeping sisa uang jerih payahnya berjualan di pasar desa. Uang itu disimpannya di bawah bantal, keping demi keping, ribuan demi ribuan, hingga terkupul puluhan ribu dan ratusan ribu dan tak terasa sudah cukup untuk melunasi ONH. Ada pula yang memakai trik agak modern, menginvestasikan uangnya di hewan ternak, dan sebagainya. Jadi, kuncinya adalah niat dan kedisplinan.

### Tabungan Haji ###

Dari majalah Intisari edisi khusus Family Financial Planning, saya kutip, setiap pengeluaran terencana jangka panjang seperti tabungan untuk haji ini, harus direncanakan dengan matang dan dilaksanakan dengan disiplin tinggi, sampai semua terkumpul dan bisa melunasi ONH.

Contoh gampangnya begini, bila gaji Anda 2 juta per bulan, coba Anda pilah-pilah bagaimana kebutuhan keuangan Anda tiap bulannya. Pisahkan kebutuhan pokok, misalnya cicilan rumah/kendaraan, uang sekolah anak Anda, gaji pembantu, uang listrik, uang PAM, dsb. Kemudian atur pula kebutuhan belanja yang cukup memadai tapi juga ketat, agar cukup ada sisa. Dari pengaturan itu, hitung totalnya, apakah masih ada sisa? Bila Anda sudah mengatur dan menghitung ketat, dan masih ada sisa, misal saja Rp100.000,-, mungkin Anda bisa mulai berpikir untuk merencanakan uang sisa ini sebagai tabungan haji.

Mengutip ahli perencana keuangan keluarga, bila Anda ingin menabung, ambil dana tabungan di awal bulan (setelah gaji keluar) agar tidak keburu dihabiskan oleh Anda sendiri. Maksudnya, jangan-jangan ketika jalan ke sebuah mal, Anda keburu tergoda menggesek kartu sehingga pada akhir bulan, gaji bulanan Anda tidak tersisa sama sekali. Bengong kan?

Setelah itu, coba buat rekening khusus haji di bank. Ada banyak bank yang menyediakan layanan ini seperti Bank BRI, BNI 46, Mandiri, dll. Dengan rekening terpisah, paling tidak Anda dapat mengerem godaan untuk belanja tiap bulannya. Setelah itu, kalau ada pemasukan tambahan, coba sisihkan dan prioritaskan ke rekening haji ini. Setiap kegigihan dan tambahan dana Anda tentu akan mempercepat tercukupinya dana ONH di rekening haji Anda.

Itu mungkin cara sederhana dan umum.

Bila penghasilan Anda lebih besar, mungkin Anda bisa memakai cara dan trik lain. Atau bisa juga pakai trik kampung yang sederhana tapi cukup tokcer ini. Ikut atau buat Arisan Haji bersama teman-teman dekat dan keluarga Anda. Bagaimana caranya? Baca tulisan berikut.

### Arisan Haji ###

Arisan ini tentu berbeda dengan jenis arisan yang biasa. Pada intinya arisan haji adalah usaha bersama dari sekelompok orang yang setiap periode tertentu mengumpulkan uang dengan tujuan agar pada suatu saat mereka semua bisa menunaikan ibadah haji.

Bagaimana konsepnya?

Saya hanya mengetahui satu jenis konsep arisan haji, sejujurnya, saya dulu bisa naik haji menggunakan cara ini. Konsepnya dasarnya kira-kira begini.

1. **Jumlah iuran arisan bulanan**. Angka ini ditentukan dari hitungan sederhana, ambil contoh grup arisan haji Anda ada dua puluh lima orang (ambil gampangnya). Misalnya saja ONH pada periode saat ini adalah Rp25 juta, maka uang arisan haji per bulan pada tahun ini adalah Rp25 juta dibagi 25 orang, jadi kita ambil angka kasar Rp 1 juta per orang per tahun. Jadi kira-kira begini, kewajiban masing-masing anggota pada tahun itu adalah mengumpulkan sejumlah Rp1 juta selama satu tahun itu, sehingga ada satu orang yang dapat naik haji. Bila dalam rapat anggota diputuskan untuk memberangkatkan dua anggota, maka cicilan tinggal dikalikan dua, dan seterusnya. Perlu dicatat, dalam arisan ini, setiap orang yang berangkat haji tahun ini sudah harus ditentukan tahun sebelumnya, dan seterusnya. Bila pada tahun berikut ONH naik, maka iuran arisan akan naik juga disesuaikan dengan hitungan di atas. Begitu pula bila ONH turun. Sebaliknya, ada contoh ketika ONH membumbung tinggi (seperti pada masa krisis 1998), arisan haji bisa batal memberangkatkan dan dananya diakumulasikan pada periode berikutnya. Tentu saja semua ini ditentukan bersama dan secara kekeluargaan.

2. **Pertemuan arisan**. Setiap arisan tentu ada pertemuannnya. Selain sebagai ajang penentuan hal-hal penting seperti hal di atas, pertemuan arisan bisa digunakan sebagai ajang silaturrahmi. Jadi, setelah jumlah iuran tahunan diketahui, arisan tersebut dapat rapat bersama untuk menentukan berapa jumlah pertemuan direncanakan dan tentu saja siapa orang yang diberangkatkan haji. Pertemuan tentu tidak harus terjadi setiap bulan, begitu pula cara dan metode pembayaran di atas tidak harus per bulan, bisa saja pembayaran dilakukan per tiga bulan, begitu pula pembayarannya. Jadi, kalau direncanakan bertemu setiap tiga bulan, maka akan ada empat pertemuan dan empat kali pembayaran haji. Jadi, tiap tiga bulan, uang yang harus disetor dalam ilustrasi di atas adalah Rp250rb per pertemuan. Cukup ringan kan?

3. **Penentuan pemberangkatan yang fleksibel**. Dari ilustrasi di atas, kalau diputuskan akan memberangkatkan seorang anggotanya untuk haji pada tahun berikutnya, diketahui cicilan per tiga bulannya adalah Rp250 bulan. Bilamana dipandang iuran cukup ringan, arisan bisa pula memutuskan memberangkat dua orang anggotanya, dan seterusnya seperti ilustrasi di atas. Semua secara terbuka dan kekeluargaan. Begitupula penentuan siapa anggota yang berangkat haji. Selain diundi pakai cara kocok kertas, namun hal ini tidak bersifat kaku. Ambil contoh bila seorang yang mendapat undian merasa tidak siap, ia bisa mengalihkan kepada anggota lain, dan tentu saja dengan sepertujuan rapat anggota arisan. Begitupula memungkinkan seorang anggota meminta arisan untuk memprioritaskan dirinya bila dirasa perlu, dan tentu saja ini harus disetujui semua anggota arisan.

4. **Ahli waris dan hukum**. Arisan ini tentu harus diatur dalam koridor hukum yang baik, terbuka, dan adil. Pada prinsipnya, setiap anggota pada awal masa arisan harus menentukan ahli warisnya, gunanya untuk pengalihan kewajiban dan hak pada arisan tersebut. Tentu saja ahli waris juga wajib mengetahui penyertaan nama dirinya. Ahli waris bisa saja anak atau keluarga dekat. Dari sini, bila seorang anggota keburu meninggal sementara dirinya belum mendapat giliran haji, ahli warisnyalah yang melanjutkan cicilan dan dia pula yang mendapat hak pemberangkatan haji. Begitupula sebaliknya, bila seorang anggota sudah diberangkatkan haji dan keburu meninggal sementara putaran arisan haji belum selesai, maka ahli warisnya wajib melanjutkan cicilan hajinya. Dan seterusnya.

Begitulah sekilas tentang arisan haji. Cukup sederhana dan membantu bukan? Bila ada kurangnya mohon maaf. Kalau ada pertanyaan silakan kirim via kolom kontak di atas.

Kesaksian Spiritual Haji

Wednesday, December 21st, 2005

Oleh H. Budi Hikmat, kontributor ceritahaji.com di Depok

(Halaman 1 dari 6 halaman)

Tiba-tiba kurasakan tangannya tersentak hingga jabat tangan kami terlepas. “Rezekimu untuk berangkat haji telah disiapkan. Nanti juga semua pengeluaranmu akan diganti…” Aku hanya terdiam. Kupikir ada cara untuk menguji ucapannya… bahkan untuk membuktikan apakah agama dan Tuhan yang selama ini kupercaya bukanlah dusta: Akan kukatakan kepada banyak orang bahwa aku akan berangkat haji. Tahun ini!

Panjar ONH Dibayar Mertua

Kerinduan berangkat haji semakin menguat setelah adikku dan istrinya berhaji menyusul Ibu dan Bapak yang sudah berangkat tahun sebelumnya. Salah satu cara merawat kerinduan itu dengan memasang hiasan keramik bergambar Masjidil Haram di dinding mushola rumah.

Namun, berdasarkan proyeksi kondisi keuangan, kami mungkin baru dapat berangkat tahun 2002. Ketika mendengar pertimbangan kami, bapak mertua tegas berkata: “Berangkatlah kalian haji tahun ini. Bapak beri pinjaman untuk panjar ONH kalian berdua.” Setelah membayar panjer ONH suami istri US$2000, aku memperingatkan istri untuk kemungkinan menjual mobil Kijang Krista guna menutupi ongkos haji.

Ongkos Hajimu Sudah Disiapkan!

Aku tertarik untuk meminta doa kepada seorang Ustadz yang materi kutbah Jumatnya sangat menyentuh. Aku menandai Ustaz itu. Sebab, pernah tiga kali sholat Jumat secara berturut-turut, di kota yang berbeda, surat Al A’laa dan Ghaasyiyah dibacakan dalam sholat. Dan Ustadz itu imam sholat yang ketiga dengan bacaan serupa. Sembari memberi salam, aku mengulurkan jabat tangan, “Pak Ustadz, saya ingin sekali naik haji. Tolong doakan saya.”

Wajah Ustadz itu nampak teduh saat memejamkan matanya. Berdoa. Tiba-tiba kurasakan tangannya tersentak hingga jabat tangan kami terlepas. “Rezekimu untuk berangkat haji telah disiapkan. Nanti juga semua pengeluaranmu akan diganti…”

Ustadz itu nampak demikian yakin. Tetapi tak urung keraguan meliputiku. Bagaimana mungkin dengan kondisi bisnis di kantor yang sedang menurun? Aku hanya terdiam. Kupikir ada cara untuk menguji ucapannya… bahkan untuk membuktikan apakah agama dan Tuhan yang selama ini kupercaya bukanlah dusta: Akan kukatakan kepada banyak orang bahwa aku akan berangkat haji. Tahun ini! “Ramalan” Ustaz itu tidak hanya kusampaikan kepada istriku, tetapi juga kepada mertua, sanak saudara dan teman-teman. Aku sengaja mengikat diriku dengan beban. Dan aku ingin menyaksikan bagaimana beban yang melilitku itu dilepaskan.

Akhir Tahun Menegangkan

Sebagaimana karyawan lain, 23 Desember 2000 adalah hari yang menegangkan bagiku. Sebab pada hari itu akan diumumkan keputusan manajemen perusahaan terkait dengan THR dan bonus.

Aku gelisah sejak dini hari dan selama makan sahur. Biaya ONH harus segera dilunasi dalam beberapa hari kemudian. Setelah subuh aku tidak ingin tidur. Istriku memahami kekegelisahanku. Kami harus rela menjual mobil untuk menutupi ongkos haji. Akhirnya kami putuskan untuk pasrah saja. Kami isi waktu dengan jalan-jalan pagi di sekitar kompleks sambil mengarang lagu Islami untuk anakanak. Aneh, inspirasi mengarang lagu demikian lancar mengalir. Setiba kembali di rumah aku menulis bait-baik itu dengan komputer dan mencetaknya untuk dibagi kepada teman-teman.

Aku terlambat tiba di kantor. Tidak sempat ikut rapat pagi. Melewati ruangan atasan dengan sungkan. Terbersit prasangka negatif saat tangannya melambai memanggilku.

Duh, mau diapain aku?

Rupanya ia ingin mengajakku bicara mengenai hal yang paling ditunggu semua orang hari itu. Atasanku belum lama mengisi jabatan di bagianku. Aku dimintai saran sebab menurutnya aku staff paling senior. Dia belum tahu cara menyampaikan kepada bawahannya keputusan manajemen perusahaan mengenai THR dan bonus serta pesan pimpinan tertinggi. Kepadanya kusarankan untuk memanggil karyawan satu per satu masuk ke dalam ruangannya untuk diberikan penjelasan secara pribadi. Atasanku mengganguk setuju. Karena aku sudah berada di ruangannya, dia memutuskan menjadikanku bawahan pertama yang menerima penjelasan. Kepuasan hakikatnya adalah posisi relatif antara harapan dan kenyataan. Aku tidak berharap banyak. Takut kecewa.

Lega rasanya hati ini saat atasanku menyampaikan keputusan rapat pimpinan untuk tetap memberikan bonus meski kondisi bisnis saat itu kurang menggembirakan. Suka cita itu bertambah setelah mengetahui besar bonus sebanding dengan tahun sebelumnya. Alhamdulillah, terbayang bonus itu melebihi ongkos haji kami. Pak Ustadz itu benar!!!

Ya Allah, telah Engkau cukupkan rezeki untuk biaya perjalanan haji kami. Maka karuniakan pula kepada kami keselamatan dalam perjalanan, kelancaran segala urusan, dan yang terpenting karuniakan kepada kami kekhusyukan selama peribadatan. Lindungi pula harta dan keluarga yang kami tinggalkan.

Dimulai dari Niat

Thursday, December 15th, 2005

Bagi setiap orang Islam yang sudah mampu, beribadah haji hukumnya wajib.

Dalam Problematika Manasik Haji oleh Drs. A Nasir Yusuf, saya mengutip dua buah hadis Rasul yang mengatakan bahwa: 1) Haji adalah amal utama setelah beriman dan berjihad di jalan Allah; 2) Haji akan menghapuskan dosa manusia, seperti laiknya baru dilahirkan kembali. Tentu saja, kedua hal tersebut bagi haji yang mabrur.

Nah, bila sudah cukup secara materi, rumah sudah ada, mobil juga punya, apa lagi sebenarnya yang dicari. Kalau menurut saya, berniat segera menunaikan haji adalah hal yang paling baik.

Bukankah haji itu biayanya mahal? Ya, sekitar 25 jutaan. Kalau berdua sama istri, berarti sekitar 50 juta. Jumlah yang sangat tidak sedikit ditengah mahalnya berbagai keperluan hidup seperti saat ini. Tapi kalau hati sudah mantap, niat sudah ditata, banyak orang bercerita jalan untuk kemudahan ibadah ini sangat terbuka lebar.

Saya pernah tahu beberapa orang yang haji dengan berbagai cerita dan kisah.

Pak Jurin, seorang anggota regu haji saya dulu naik haji karena mendapat gusuran tanahnya di daerah barat Surabaya. Setelah cukup dibagi anak-anaknya, sisanya ia pakai naik haji. Pak Prandi yang pensiunan guru lain lagi, ia naik haji setelah mendapat pensiun. Anak-anaknya sudah mapan, akhirnya, ditambah sedikit tabungan dan sumbangan putra-putrinya, jadilah bisa berangkat bersama istri tercinta. Pak Yahdi, seorang pensiunan pegawai KUA juga hampir mirip. Kebetulan beliau adalah ayah dari adik kelas saya di SMP, dan kebetulan tetangga desa. Dan masih banyak lagi yang lain, nah yang lain ini lebih ajaib dan mencengangkan.

Ada seorang kenalan jamaah, ia penjual kendi dari tanah liat, cowek dan uleg di pasar Peterongan Jombang, setelah menabung beberapa lama bisa naik haji. Berapa harga kendi? Kok bisa nabung? Apakah ia dibiayai anaknya, atau mendapat hadiah, Wallahua’lam. Tapi yang penting adalah, seorang penjual kendi toh akhirnya bisa naik haji.

Ada lagi yang lain, kali ini seorang penjual tahu. Orangnya sangat lugu. Di kampungnya sana ada banyak penjual tahu. Ia satu rombongan bersama saya saat itu. Toh bisa beribadah haji. Kalau melihat kefasihannya, mungkin orang nggak yakin orang seperti itu bisa naik haji. Ya, saya juga belum terlalu fasih, tapi dengan mengandalkan buku panduan akhirnya saya bisa berdoa dan mengikuti ibadah haji dengan lancar. Bapak tersebut bagaimana? Kebetulan ia hanya ikut dan manut. Ikut dan manut! Yang lain mengucap takbir, ia bertakbir! Yang lain bertahallul, ia ikut juga. Tapi kok ndilalah, lancar semua ibadahnya! Secara hukum dan rukun semuanya sah. Saya kagum dengan orang-orang semacam ini. Inilah menurut saya makna ibadah yang sesungguhnya, bahwa ibadah tidak bisa dilihat dari kulit muka saja. Buktinya, ibadahnya lancar dan semua sah dari sisi hukum agama.

Ada lagi yang lain, pak Muslimin yang baru membuka bengkel motornya 7 tahun lalu bisa berhaji dengan istrinya. Ada lagi yang naik haji dengan menjual traktornya. Ceritanya, traktor sawahnya saat itu di mana-mana harganya berkutat hanya 10-11 jutaan, bahkan di daerah lain hanya berani mematok harga 9 jutaan. Jadi, kalau untuk nambahin ongkos naik haji tentu saja tidak cukup. Akhirnya, karena sudah niat dan mantap, orang tersebut menunda menjual, disamping karena belum yakin dan mencari peluang yang lebih baik. Kemudian ia pergi silaturrahmi ke seorang Kyai di Mojokerto, Kiai Husen namanya. Oleh sang Kiai, orang tersebut hanya diberi nasihat dan diyakinkan, “Insya Allah laku! Baik niat Bapak memberi saku anaknda dengan haji, supaya ibadahnya lebih bagus lagi. Kalau niat baik pasti diridlai Allah!” Tak lama beberapa hari berselang, traktor tersebut laku dengan harga 14 juta. Ajaib kan? Satu orang lain berhaji dengan mengikuti arisan haji. Haji dengan arisan? Apa boleh begitu? Boleh saja, tentu saja dengan aturan yang jelas dan adil, nanti detilnya akan saya ungkapkan lagi. Setelah membayar iuran bulanan sekitar Rp300 ribu, uangnya cukup untuk membayar ongkos naik haji. Grup arisan tersebut berhasil mengberangkatkan anggotanya yang berjumlah 60-an orang hanya dalam waktu 10 tahun!

Jadi, seperti juga ibadah lainnya, pada awalnya, semua dimulai dari niat!

Ya Allah, mudahkanlah kami untuk berkunjung ke Makkah al Mukarromah dan Madinah al Munawwaroh.

Labbaik Allahuma Labbaik

Thursday, December 15th, 2005

Labbaik Allahuma Labbaik

Labbaik ka la Syarii ka Labbaik

Innal Hamda, wa Nikmatalak

Laka wal mulk, La Syariikala

Akhirnya musim haji tiba.

Jutaan manusia di dunia, termasuk 200 ribu jamaah haji asal Indonesia, berduyun-duyun, berkelompok-kelompok, beramai-ramai mendatangi dan berkumpul menuju pusat ibadah umat Islam, untuk memenuhi panggilan rukun Islam yang terakhir.

Saya ambil kutipan dari Wikipedia Indonesia tentang Haji

Dalam kepercayaan agama Islam, Haji adalah rukun (tiang agama) Islam yang kelima setelah Syahadat, Salat, Zakat dan Puasa. Arti haji sebenarnya adalah “memaknai, melaksanakan, dan berdoa.” Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Dzulhijjah). Hal ini berbeda dengan ibadah Umrah yang bisa dilaksanakan sewaktu-waktu. Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 (delapan) Dzulhijjah ketika umat Islam bermalam di Mina, Wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi Setan) pada tanggal 10 Dzulhijjah. Masyarakat Indonesia lazim juga menyebut hari raya Idul Adha sebagai Hari Raya Haji karena berbarengan dengan perayaan ibadah haji ini (wukuf pada 10 Dzulhijjah).

Demikianlah kira-kira istilah dan arti kalau diartikan dalam satu kalimat.

Kenapa orang harus berhaji? Dan kenapa banyak orang, berjuta-juta manusia, menjalani ibadah yang sesungguhnya berat ini, dan kenapa banyak orang sangat bahagia untuk berkali-kali mengunjungi Tanah Suci Mekkah untuk haji atau umrah?

Ijinkan saya bercerita. Jumat lalu, pada 9 Desember 2005, saya salat di sebuah masjid yang dimiliki yayasan sebuah rumah sakit di pusat Jakarta. Masjid ini adalah langganan saya. Masjid ini dekat dengan sebuah mal, dekat dengan sebuah universitas Kristen, dan cukup ramai. Khutbah Jumat di masjid ini biasanya juga menarik, tentang ibadah, introspeksi diri, dan semacamnya, berbeda dengan masjid-masjid lain di Jakarta yang cenderung mengangkat tema politis yang makin membikin hati sumpek.

Jumat itu, khotib mengangkat tema haji. Hati saya bergetar. Saya seketika menengadah. Di dinding masjid itu kebetulan ada foto Masjidil Haram beserta Ka’bah yang selalu ramai oleh umat Islam yang beribadah. Hati saya berdesir, buku kuduk saya berdiri. Saya sangat rindu. Saya tiba-tiba teringat ketika awal 2002 lalu, ketika saya mendapat rejeki untuk mengunjungi pusat ibadah umat Islam itu bersama-sama dua ratus ribu jamaah haji Indonesia lainnya. Saya rindu untuk kembali ke sana. Saya ingin mengajak istri tercinta saya, untuk beribadah bersama, bersama-sama belajar lebih memahami hakikat kehambaan kami di depan Allah Tuhan Semesta Alam.

Akhirnya, saya mantap untuk meluncurkan situs ceritahaji.com ini. Kenapa namanya cerita haji? Kenapa bukan bloghaji? Kenapa bukan nama lain? Saya punya pendapat, kalau nama situs ini bloghaji, mungkin situs ini akan membatasi bentuknya sebagai wadah bertukar cerita. Mungkin blog belum begitu familiar bagi sebagian orang, jadi saya putuskan pakai kata “cerita” saja. Kalau dengan nama lain, apalagi mengambil kata yang lebih serius, saya juga tidak berani, takut tidak kuat untuk mengelolanya. Dan, yang dibutuhkan dan bisa dibagi dari sebuah ibadah seperti haji, menurut saya adalah ceritanya. Getok tular istilah orang Jawa, atau kalau mengutip ayah saya, “Kalau kamu tahu tempat soto ayam yang enak di daerah Pecinan Jombang, bukankah baik kalau kita menceritakan pada orang lain. Begitu pula haji, kita tahu beribadah haji itu nikmat dan indah, tiada salahnya kalau dibagi dengan orang lain ceritanya”

Yang jelas, pada suatu ketika, saya pernah memegang pensil dan buku tulis yang saya bawa dari rumah, saat itu saya duduk melamun di pojok favorit saya di Masjidil Haram, di sebelah barat Ka’bah, saya ingat ingat saat itu saya sudah merencanakan menuliskan sesuatu entah di masa yang akan datang. Akhirnya, masa itu baru terlaksana hingga hari ini.

Mungkin dengan situs inilah saya bisa mengantarkan pengabdian dan kerinduan itu. Saya berencana mengisi situs ini dengan cerita, pengalaman, dan pandangan saya ketika haji tiga tahun lalu. Saya juga mengajak pembaca yang sudah berhaji, atau pembaca yang akan berhaji, dan juga pembaca yang ingin berhaji untuk berbagi cerita dan hikmah di situs sederhana ini. Mari kita saling berdoa, semoga mempunyai rejeki, dan bisa berkunjung ke Mekkah dan Madinah.

Ya Allah, mudahkanlah kami untuk berkunjung ke Makkah al Mukarromah dan Madinah al Munawwaroh.

Semoga bermanfaat bagi semua. Amin.