Gambaran Umum Pondokan Jamaah dan Transportasi
Bagi jamaah haji Indonesia, ibadah tahun 2008 ini ditandai dengan jauhnya lokasi pondokan di kota Mekkah dari Masjidil Haram. Menurut data yang saya dapat di lapangan, jika tahun 2007 lalu penyelenggara haji Indonesia hanya menyediakan layanan angkutan bis bagi 30% jamaah kita yang tinggal diluar ring-1, maka tahun ini angka itu menjadi terbalik, hanya 30% jamaah yang berada dalam ring-1 yang tidak harus dilayani bis. Artinya ada 70% jamaah tinggal diluar lingkar terdekat dengan Masjidil Haram yang harus dilayani bis.
Jamaah haji Indonesia tahun ini dan tahun lalu sama, sekitar 210 ribu orang. Untuk melayani angkutan jamaah dari pondokan ke Masjidil Haram, tahun lalu Depag RI menyewa 90 bis. Tahun ini? Konon mencapai 600 unit bis. Hebatnya, layanan bis ini dijalankan operasionalnya oleh tim dari Indonesia sendiri. Tim dengan pengalaman operasional sangat minim ini harus mengkoordinir 600 bis yang sebagian besar dibawa oleh supir berkebangsaan Arab dan harus melayani area yang sangat luas dengan lokasi pondokan saling berjauhan. Jumlah jamaah yang harus dilayani sekitar 147 ribu jamaah yang tinggal di luar Ring-1.
Pada saat mengetahui informasi tersebut, saya sudah langsung bersiap untuk realistis menghadapi keadaan yang akan timbul di Mekkah. Tidak bisa terlalu mengandalkan angkutan bis, harus siap jalan kaki atau naik taksi umum. Harus rela mengatur jadwal ibadah ke Kabah di waktu-waktu yang kurang nyaman demi menghindari rush hour. Dan tentu saja harus siap untuk sabar menghadapi segala situasi.
Walau kenyataan di lapangan memang banyak sekali ketidaknyamanan, alhamdulillah saya mampu menjaga agar tetap dapat berada di Masjidil Haram sesuai harapan walau terkadang harus menguras tenaga ekstra agar bisa sampai tepat waktu.
Transportasi
Cerita-cerita tentang begitu padatnya antrian dan rebutan masuk bis yang dialami jamaah Indonesia adalah benar adanya. Sedih sekali menyaksikan hal itu terjadi, terutama melihat ibu-ibu dan jamaah uzur yang terpaksa harus berlarian dan berdesakan masuk bis. Namun semua itu sebenarnya bisa dengan mudah dihindari jikalau ada sosialisasi pada jamaah untuk mau mengatur jadwal mereka menghindari rush hour. Contoh kecil adalah saat selesai shalat Isya. Jika kita masuk terminal persis setelah sholat, dipastikan jamaah akan berhadapan dengan lautan jamaah yang berebutan masuk bis yang langka karena kepadatan jalan masuk ke terminal. Namun bila jamaah mau sabar sedikit saja, katakanlah zikir lebih lama plus baca Al-Quran setelah Isya, atau keliling belanja dulu di toko-toko dekat terminal, kemudian masuk terminal sekitar pukul 21.30 keatas, saya pastikan kepadatan sudah jauh berkurang dan bis yang masuk lebih banyak jumlahnya.
Satu hal yang menurut saya membuat gambaran layanan bis ini menjadi sangat buruk adalah karakter jamaah Indonesia sendiri yang sangat buruk. Tidak mau mengalah, tidak tertib, egois, adalah beberapa dari karakter bangsa kita yang sungguh membuat hati miris dan membuat malu dilihat oleh bangsa lain. Jumlah jamaah Turki hampir sama dengan kita, namun ketertiban dan taat azas yang ada di mereka sungguh membuat bangsa kita menjadi tampak begitu “terkebelakang”. Wajar jika hingga kini bangsa kita terus terpuruk dan sulit bersaing dengan bangsa lain.
Pondokan
Sebagian besar jamaah kita, termasuk kloter kami, ditempatkan di wilayah yang belum pernah ditempati jamaah hajoi sebelumnya. Lokasi kami ada di daerah bernama Hijrah, suatu areal di utara Masjidil Haram yang jika ditarik garis lurus hanya berjarak sekitar 4-6 km. Namun bila harus menggunakan bis atau berjalan kami, maka jarak tempuh nyata bisa mencapai sekitar 7-8 km. Jika dibandingkan cerita teman-teman yang berhaji 3-4 tahun lalu, jarak ini sungguh jauh. Saat mereka dulu, pondokan semua berada dalam jarak sangat dekat dan bisa ditempuh nyaman dengan berjalan kaki.
Jika melihat peta lokasi pondokan, maka memang secara keseluruhan pondokan Indonesia yang berada diluar ring-1 sungguh jauh. Jalan kaki sangat berat dilakukan, dalam kasus kami diperlukan sekitar 50 menit berjalan kaki dari Masjidil Haram ke pondokan 507 di wilayah Hijrah tempat kami tinggal. Bagi jamaah muda yang masih kuat dan bersemangat tinggi, hal itu masih bisa dilakukan, namun bagi yang lain?
Uniknya lagi, bis tidak bisa hanya menunggu di terminal, namun terpaksa harus menjemput jemaah di pondokan masing-masing karena jauhnya jarak antar satu pondokan ke pondokan lain. Jadi seperti di wilayah Hijrah tempat kami, terminal bis rute B6 ditempatkan persis didepan pondokan kami. Jika hendak berangkat ke Masjidil Haram, maka bis akan berangkat dari terminal dengan sejumlah jamaah yang naik dari teminal, kemudian bis akan berkeliling ke sekitar 5-7 pondokan lain untuk “memungut” penumpang lain. Yang sering terjadi, jamaah dari pondokan yang terjauh terpaksa tidak mendapat tempat karena bis sudah penuh dengan penumpang dari pondokan sebelumnya, padahal bis sudah selalu dipaksakan untuk dipadatkan hingga penuh penumpang yang berdiri.
Madinah, Arafah dan Mina
Untuk pemondokan dan transportasi di Madinah, hampir tidak ada masalah sama sekali, smooth as silk…
Semua pondokan dalam jarak tempuh yang cukup dekat dan bisa berjalan kaki. Keadaan di Madinah juga cukup terkontrol karena tidak terjadi penumpukan seluruh jamaah haji dalam kurun waktu tertentu, walau keadaan di Mesjid Nabawi tetap saja sangat padat. Kalaupun ada yang masih bisa diperbaiki adalah kualitas katering bagi jamaah selama di Madinah yang banyak dikeluhkan. Kemudian juga waktu yang terlalu mepet untuk melakukan sholat wajib 40 waktu (sholat arbain). Jika terjadi masalah sedikit saja, maka jadwal sholat bisa berkurang dan tidak mencapai 40 waktu seperti yang dialami telan dari kloter lain.
Kemudian di Arafah dan Mina juga bagi saya sangat lancar, mulai dari pengorganisasian transportasi model taradudi (English: shutle system), pondokan/perkemahan serta konsumsi yang memakai sistem prasmanan dan berlebih-lebihan dari sisi kuantitas. Walau beberapa jamaah masih ngomel soal antrian di toilet dan makan prasmanan, namun bagi saya semuanya masih dalam batas toleransi dan baik. Bahkan nilai plus berikutnya bagi saya adalah kualitas menu baik di Arafah dan Mina yang jauh lebih baik dibanding di Madinah.
Kesimpulan
Secara umum, transportasi di Mekkah adalah titik terlemah dalam penyelenggaraan haji Indonesia tahun ini. Namun kalau mau dicari akar masalahnya, seharusnya Indonesia tidak harus (dan tidak perlu sama sekali) menjalankan armada 600 bis di negeri orang untuk melayani ratusan ribu jamaah. Lebih baik berjibaku (bayar lebih mahal) mencari pondokan yang dalam walking distance (bisa berjalan kaki) dan meninggalkan sama sekali chaos mengurus armada bis di wilayah yang sama sekali berbeda dengan mengurus bis di Pulogadung.
Sementara untuk hal-hal lain mulai dari keberangkatan di embarkasi, penyambutan di Jeddah, antisipasi keterlambatan pesawat saat di Jeddah, penginapan transito di Jeddah, hingga pulang ke embarkasi bagi saya sudah sangat baik, saya merasa beruntung ikut haji tahun ini yang dikelola dengan pengalaman matang penyelenggaraan haji Indonesia yang telah tertempa bertahun-tahun.
Catatan lebih rinci, insya Allah akan saya tuliskan di bagian lain.
Tulisan ini sebelumnya dimuat di: http://haji-2008.blogspot.com/2009/01/gambaran-umum-pondokan-dan-transportasi.html.
14. March 2009 at 4:21 pm
memang seharusnya buka armada bis sebanyak 600 yang disiapkan untuk mengantar para jemaah di mekah, tapi harus dipikirkan kenyamananya melakukan ibadah dengan jarak yang hanya berjalan kaki, saya rasa para jemaah tidak akan keberatan dengan membayar mahal untuk menginap di tempat yang dekat dengan masjidil haram dan bisa melakukan sholat dengan kusyuk tanpa harus antri bis yang berjubel tapi cuku dengan jalan kaki. masa sudah di niati berangkat haji dengan bekal yang banyak dan bayar mahal, kita tidak bisa melakukan ibadah sholat di masjidil haram dengan melaksanakan shloat 5 waktu…tapi hanya bisa menjalankan 2 waktu karena takut pulangnya tidak dapat bis…………..wah bener-bener ngeri kalau ingat pengalaman harus berjubel, tarik-tarikan dan skiut sana sikut sini kalau mau naik bis….bayangkan saja satu pintu dimasukan 6 orang yang bersamaan…..duh kasihan sekali bapak juga ibu-ibu yang sudah tua…kalau muda seperti saya sih tidak masalah
3. April 2009 at 11:23 am
Memang secara umum kondisi transportasi dan pemondokan jamaah RI seperti itu saya merasakan sendiri kebetulan pemondokan kami di daerah Azizah jarak ke makkah >7 km dan uniknya 2 minggu terakhir agak kacau karena pada setiap ke masjidil haram pp harus oper/ganti bus seperti damrinya makkah lha disinilah tempat rebutan naik terjadi krn bus utk jamaah umum/RI begitu pula sebaliknya ketika kami pulang tepat di bawah terowongan deket masjid maupun depan pintu utama/ king Abdul Aziz 1 pusatnya berebut naik bus kasihan para jamaah wanita/usia senja bahkan lucunya berkali2 kami lihat sering terjadi percekcokan,berantem, bahkan ketua kel kami tangannya digigit ketika posisi tangan pegangan pintu utk naik .
sekian sedikit gambaran transportasi yg kami alami th.2008 tentunya menaruh harapan semoga di th.2009/mendatang agar lebih diperhatikan shg niat dan kekhusukan kt ibadah dapat terjamin dan terjaga amin
salam hormat,
H.Sarwono,SE.MM
4. April 2009 at 6:40 am
Assalaamualaikum…Alhamdullilah saya pun brgkt sbgi TKHI..melihat keadaan jemaah haji thun 1429 h kmrin emng sgt memprihatinkan,,kebetulan kami berda pada gelombang ke 2.Saya sendiri pernah sampai salah paham kelahi dengan para petugas di lapangan bus daerah masjidil haram…krn para jemaah takut tak kebahagian bis dan kurangnya info brp bayk bus yg akan datang utk selanjutnya,,,akhirnya yaaaa saya balik lg ke masjidil haram,,,
22. April 2009 at 7:37 pm
Saya berharap semakin hari semakin baik &lancar penyelenggaraan haji.
Sebenarnya memang budaya masyarakat Indonesia untuk antri, tertib, tidak buang sampah sembarangan……sangat perlu dibina.
Banyak cara bisa dilakukan.
Mulai dari lingkup kecil hingga tercapai ketertiban bagi seluruh jamaah. Sekarang sudah banyak sekali KBIH yg sebenarnya bisa menempa calhaj untuk disiplin sejak dini. Jadi pada saat manasik harus dibiasakan untuk tertib, menjaga kebersihan. Saya optimis kebiasaan baik akan terbawa sampai kapanpun, bahkan saat sudah pulang dari Ibadah Haji.
Btw, sebagai jamaah, tiap individu harus tetap sabar & ikhlas menerima segala kondisi di tanah suci.
2. June 2009 at 6:11 am
Alhamdulillah sy haji tahun 2008 kemarin menjadi salah satu dr ratusan ribu jamaah haji Indonesia yang beruntung.
Pemondokan sy d hufair,800 m dr masjidil haram.masuk sektor 1 dan sangat dekat.
Untuk jumroh d mina jauh tp bukan masalah.
Untk pelayanan makanan dan transportasi yg sy dapat baik dan lancar.
D hotel sy dpt makan pagi,siang dan makan malam.Alhamdulillah..
Tim Tkhi jg memberi pelayanan kesehatan dgn baik.
Terimakasih depag dan timnya.
*menyeimbangkan kontroversi pelayanan haji yg tdk puas.
Klo sy Alhamdulillah puas dan lancar.Mungkin memang rezeki sy dan kloter sy.kloter 12 kabupaten bandung jawa barat,dmudahkan saat haji 2008*
23. June 2009 at 4:46 pm
saya adalah salah satu jamah haji th 2008 dari kabupaten sumedang alhamdulillah,dapat tempat tinggal yang relatif dekat , cukup dengan jalan kaki +- 20 menit ke Masjidil Haram ( waktu di Makkah) dan 10 menit ke masjid Nabawi (Madinah). selain urusan makanan katering yg disediakan oleh panitia,saya merasakan kenyamanan beribadah baik waktu di makkah , Armina maupun di Madinah, meskipun kadang agak terganggu dengan batuk dan flu. kalau yang namanya antri saya pikir hal yang sangat wajar karena dalam waktu yang bersamaan ribuan orang melakukan aktivitas yang sama, seperti wudhu, ke toilet, makan di Armina, naik bis dari makkah ke armina pp, dsb. kembali ke soal makanan, saya agak heran karena untuk sesama jamah dari Indonesia kualitasnya bisa berbeda, khususnya saya alami ketika di Madinah. tetangga kami yang tinggal satu maktab yang berasal dari Kalimantan Tengah selalu memperoleh katering dengan kualitas jauh lebih bagus yg kami peroleh. Kok bisa begitu sihhh…
selain hal itu, kami juga memoeroleh informasi dari TPHI bhw seharusnya jamaah haji dapat katering makanan selain di Madinah juga pada H-4 s/d H+ 4 musim haji, tetapi karena ada masdalah pendistribusian yang katanya tidak merata maka jatah katering selama H+4 ditiadakan… kalao memang info yg sy terima bener kenapa bisa begitu …? kan yang ga bener, panitia kok yang dirugikan jamaah, dann lagi kalo sudah menjadi hak jamaah dan ada masalah pendistribusian kenapa tidak diganti dengan uang tunai saja pada H+4 kan kami sudah berada di makkah dan sudah dpt mencari/membeli makan sendiri. selebihnya, saya tetap bersyukur karena dapat berangkat haji lebih cepat dari yang saya perkirakan yaitu tahun ini (2009). pemerintah Arab saudi juga sangat bagus dalam mengoragnise pelayanan jamah haji, dari sejak kedatangan di Jeddah sampai kepulangan di bandara Madinah.
25. June 2009 at 1:32 pm
Insalloh tahun ini saya akan berangkat,penuturan penulis sangat berharga bagi saya mudah2an pada tahun ini pemerintah dalam pengelolaannya lebih baik dari tahun sebelumnya.Amin.
25. August 2009 at 2:31 pm
Wah, perjuangan yg luar bisa, setara dengan pahala yg di dapat. Insya Allah Tahun depan sy berangkat ke tanah suci, mudah-mudahan tahun depan lebih baik pengelolaannya. tks
23. October 2009 at 3:33 pm
selamat, bagi para jamah yang berangkat haji tahun ini..insyaAllah jamuan terindah dan termegah sudah Allah persiapkan dengan balasan pahala yangtak terhingga…amien. sedikit ingin berbagi ,ketika nanti baru tiba di makkah jangan tergesa-gesa ke masjidil haram sebelum kita faham letak tempat tinggal kita supaya pulang dari haram tidak bingung mencarainya, meskipun kita sudah sangat ingin pergi ke ‘haram’ sebaiknya tahan emosi tsb utk istirahat cukup setelah menempuh perjalanan lama dan mengenali lokasi .. karena nanti akan bertemu dengan jamah yg jutaan jumlahnya yg mana flu dan batuk mudah sekali menular persiapkan obat batuk cair sejumlah lebih dari cukup.. mungkin 5x botol yg 100 ml karena tim medis tidak menyediakan obat batuk cair, juga obat flu yg cocok dan manjur,obat2an tadi masukkan kedalam kopor saja biar tdk melalui xray di bandara ,pakaian tdk perlu banyak supaya tidak berat, kain ihram cukup 3 lembar dpt bergantian atas bawah, bagi akhwat baju putih cukup 2 stel dan 2 stel baju yg yg nyaman utk bebas bergerak dan tidak panas, meskipun di madinah agak dingin ternyata tidak perlu bawa jaket yg tebal, karena saya kemarin bawa jaket tebal malah menuhin kopor . ketika waktu haji jika badan sehat usahakan bisa thawaf ifadhoh setelah lempar jumroh hari pertama, wah itu indaahhh.. sekali suasananya, selama di perjalanan maupun di masjidil haram tidak sepadat biasanya karena jamaah masih terkonsentrasi di mina, dari mina ke haram sebaiknya jalan kaki lewat terowongan tidak terlalu jauh, kira2 hanya 1 jam,tidak usah naik angkutan umum, selain mahal juga malah lama dan justru banyak yg tersesat pulang ke tenda di mina karena angkutan tidak dpt sampai ke perkemahan serta sopir susah berkomunikasi dan banyak yg tidak ngerti peta tempat tinggal kita, uuntuk urusan belanja oleh2 sebaiknya setelah haji selesai supaya kita lebih konsentrasi ibadah dan harganya juga sudah lebih murah dibanding seblum haji.., muntuk urusan makan sebaiknya kita pelit ke diri sendiri dan jangan menilai harga di sana dengan rupiah.. karena jadi berkesan mahal jadi sering banyak jamaah terlalu hemat utk makan tapi belanja oleh22 royal akibatnya stamina tidak bagus.. banyak makan buah minum jus juga jangan lupa banyak minum air putih selama persiapan dan sewaktu di Armina supaya tdk dehidrasi.. semoga bermanfaat .. haji mabrur … salam rindu utk ka’bah.. semoga Allah memberi kesempatan kami untuk sampai kesana lagi…
28. October 2009 at 10:38 am
Saya adalah jamaah haji indonesia tahun 2008 yang merasakan betapa jauhnya jarak pondokan kami dengan masjidil haram. Kloter kami berada di sektor 7 kawasan Syauqiyah, jarak dengan masjidil haram jika ditarik garis lurus 7-8 km tetapi jika ditempuh dengan bis bisa mencapai 14 km. Butuh perjuangan yang luar biasa untuk bisa pergi ke masjidilharam. Apalagi kami gelombang kedua, kami sampai ke mekah H-7 ketika masjidilharam sudah penuh-penuhnya. Kondisi ini menyebabkan kondisi jamaah langsung drops sepulang dari masjidilharam. Hampir setiap ada rombongan berangkat ke masjidilharam pulangnya ada saja yang sakit, entah itu diare, demam, batuk, masuk angin sampai muntah2. Akhirnya menjelang puncak haji kami banyak beristirahat di pondokan. Jangankan bisa sholat 5 waktu brangkat setiap hari ke masjidilharam pun tak banyak yang bisa melakukannya kecuali yang benar-benar fit.
Alla kulli hal innalhamda lillah, dibalik semrawutnya masalah pondokan dan transportasi haji 2008 ada banyak jalan Allah memuliakan dan menghibur tamu-tamunya. Itu pula yang kami rasakan. Haji tetaplah nikmat.
Mudah-mudahan kondisi haji yang akan datang jauh lebih baik dan masalah yang terjadi kemarin tidak terulang lagi.
5. December 2009 at 7:55 am
Selamat datang kembali di tanah air jemaah haji tahun 2009 semoga menjadi haji yang mabrur dan menjadi haji yang memberi nilai tambah bagi diri, keluarga dan masyarakat. Amin.
Semoga masalah transportasi haji 2009 lebih baik dari tahun 2008 yang menurut berita tetap kurang baik… karena tahun 2008 dilayani 600 bis sedangkan tahun 2009 315 bis.
Pengalaman sebagai jemaah haji 2008 yang tinggal di syauqiyah dengan jarak lebih dari 10 km menjadikan transportasi sebagai satu-satunya tulang punggung ibadah ke masjidil haram. Keberadaan bis yang disediakan pemerintah RI sangat membantu karena rutenya jelas meskipun pengelolaannya kurang profesional. Meskipun gratis .. tapi supir umumnya minta baksis 1 real yang mungkin juga karena kesalahan jemaah yang inisiatif memberi tips/baksis meskipun ditulis di bis “tidak diperkenankan memberi tips” dalam bahasa inggris (lucu juga kenapa tidak dalam bahasa Indonesia…?..orang Arab juga gak banyak yang bisa bahasa Inggris).
Kalau tidak pakai bis resmi ada juga bis preman atau angkutan lain yang tarifnya 2 real (cuma beda 1 real) … hanya saja pulangnya agak repot karena banyak supir yang tidak tahu arah ke syauqiyah dan celakanya banyak jemaah yang tidak hapal jalan … ini yang menyebabkan banyak jamaah yang tersesat dan kalau yang tidak berani akhirnya sering tinggal di maktab dan haji maktabis… kalau berebutan naik bis waktu pulang ke maktab mah sudah biasa … kasihan jamaah yang sudah tua.
Menjelang wuquf semua bis pemerintah ditarik sehingga otomatis jamaah harus naik angkutan preman yang tarifnya naik menjadi 5 sd.10 real yang menguras dompet jamaah hingga makin banyak jamaah yang tidak pergi ke masjidil haram yang terlihat dari longgarnya saf di masjidil haram akibat sedikitnya jemaah Indonesia ( di situ terasa bahwa jamaah Indonesia itu banyak ..lho!).
Banyak juga cerita lucu naik masalah transportasi mulai dari jenis kendaraan yang bermacam-macam … ada bus, minibus, taxi, sedan, bahkan mobil bak terbuka untuk ngangkut kambing (mungkin) … ysang penting mau ngangkut jemaah. Belum masalah bahasa untuk penunjuk arah bagi supir yang hanya bisa bahasa Arab, bahkan supir juga tidak tahu rute ke maktab. Untuk bis pemerintah pada awal-awal kedatangan di mekah jemaah yang mencari bis karena terbatasnya jumlah bis.. tapi pada menjelang kepulangan ke tanah air justru bis yang mencari jamaah arena sedikitnya penumpang .. bahkan bis diparkir di maktab berjam-jam nunggu permintaan berangkat …
Banyak suka dukanya masalah transportasi jemaah haji Indonesia.. namun apapun kita harus sabar, pasrah dan ikhlas serta tetap berusaha …. Insya Allah semuanya menjadi ringan dan nikmat rasanya.
Kepada para calon haji, janganlah surut langkah ataupun takut mendengar informasi yang kurang baik di tanah suci … di sana kita menjadi tamu Allah, jika kita menjadi tamu Allah yang baik, Insya Allah berbagai kemudahan dan kenikmatan akan kita peroleh… sehingga kita ingin selalu kembali mengunjungi tanah suci … Labbaika Allohumma labbaik…
Kepada pengelola haji semoga dapat memberikan layanan yang terbaik bagi jemaah haji, selain Saudara-saudara digaji untuk itu, Saudara-saudara berpeluang memperoleh ganjaran pahala yang luar biasa besar dari Allah SWT karena mengurus tamu Allah dengan sepenuh hati dan usaha .. Insya Allah. Amin
Wassalam