Menu Katering Di Madinah Kurang Variatif
Sumber: Antara, 8 Jan 2009
Madinah (ANTARA News) – Jemaah haji Indonesia di Madinah umumnya mengeluhkan variasi menu katering yang dinilai terlalu monoton, khususnya jenis menu dan sayur.
“Menu sering membosankan, karena hari ini daging ayam, tapi besoknya juga ayam, sehingga saya kadang-kadang makan di kantor daker (Daerah Kerja),” kata jemaah asal Surabaya, Syukron Djazilan, di Madinah, Kamis.
Bahkan, katanya, ia seringkali mengetahui jemaah membawa sambal goreng, abon daging, sambal pecel, dan serundeng sebagai penyedap makanan bila terasa membosankan.
Senada dengan itu, petugas tanring (penempatan dan katering) sektor IV Madinah, Khamid, mengatakan hasil pemantauan katering yang dilakukan umumnya menemukan keluhan jemaah tentang variasi menu dan sayur.
“Jemaah umumnya mengeluhkan menu makanan dan sayur yang kurang variatif. Menu seharusnya tidak harus daging saja atau ayam saja dalam seharian, namun variatif,” katanya setelah mengikuti evaluasi haji.
Selain itu, katanya, pihaknya juga menilai etika pelayan katering dalam melayani jemaah haji Indonesia perlu diperbaiki agar tidak terkesan kasar kepada jemaah.
“Masalahnya, usulan perbaikan itu baru dijalankan untuk tahun depan, tapi kami juga mengusulkan petugas tanring agar dipisahkan antara petugas penempatan dan petugas katering, karena sektor IV saja ada 55 pemondokan, sehingga pengawasan relatif kurang intensif,” katanya.
Secara terpisah, supervisor katering dari sebuah perusahaan di Madinah, Muhammad Syahroni, mengaku perusahaan katering tempatnya bekerja mempunyai pengawas katering seperti dirinya untuk menjaga kualitas layanan katering.
“Tapi, saya hanya melapor ke perusahaan untuk perbaikan. Kalau memang ada pengawas katering di setiap sektor seharusnya mereka juga memberikan catatan atau usulan ke kami agar kami langsung bisa memperbaiki,” katanya.
Menurut dia, pengawasan katering dari sektor seharusnya menyerahkan laporan rutin kepada perusahaan katering agar ada perbaikan. “Jangan menunggu perbaikan untuk tahun berikutnya,” katanya.
Ia menambahkan laporan pengawas katering di tingkat sektor juga cenderung menyamakan semua perusahaan katering, sehingga katering yang jelek bisa saja dipakai terus dan jemaah yang akhirnya dirugikan.(*)
15. October 2009 at 1:48 pm
Alhamdulilah tahun lalu kami berangkat (kloter 56 provinsi NTT)
tanggapan
Di mina menu makanan sudah baik tapi petugas katering sangat pelit dan kasar (utk kloter provinsi NTT), kami sering pindah ke kloter lain karena petugas yang kasar (misalnya mau menagmbilkan orangtua yg sedang sakit tidak boleh),nasi tidak matang sehingga banyak jamaah (termasuk saya) kumat maagnya, ibadah lempar jumroh jadi terhambat.
sedangkan di madinah menunya sama,sampai-sampai beberapa jamaah haji bergurau mengatakan bahwa sayurnya sudah dimasak untuk 8 hari sehingga tiap hari hanya tinggal memanaskan karena sama persis, kami prihatin untuk jamaah haji yang punya penyakit tertentu tidak dapat makan,menu spt itu atau jamah yang tidak punya cukup uang saku untuk membeli makanan di luar.