Dua Jemaah Indonesia Tidak Terbukti Meningitis
Sumber: Antara, 8 Jan 2009
Madinah (ANTARA News) – Dua jemaah haji Indonesia yakni jemaah dari Lampung Timur (kloter 34 JKG) dan jemaah dari Jawa Barat (kloter 64 JKS) yang semula diduga terjangkit meningitis (peradangan selaput otak), ternyata tidak terbukti.
“Keduanya adalah Pariman ES bin Rono Karyo yang dirawat di RSAS King Fahd dan Ny Wati’ah binti Kamari yang dirawat di RSAS Al-Anshar,” kata Wakil Daerah Kerja (Wakadaker) bidang Kesehatan Madinah, dr Bermawi Syahdjam SpP, kepada ANTARA di Madinah, Kamis.
Setelah mengikuti rapat evaluasi, ahli penyakit paru itu mengatakan Ny Wati’ah sudah kembali ke Tanah Air, karena dipulangkan dengan kloter 80 JKS pada 8 Januari 2008 pukul 00.35 WAS (04.35 WIB).
“Awalnya, Ny Wati’ah diduga menderita suspect meningitis, tapi hasil pemeriksaan lanjutan, ternyata hanya menyimpulkan chest infection (infeksi paru-paru),” katanya.
Menurut dia, Pariman ES bin Rono Karyo (71) dari Lampung Timur justru yang paling mengkhawatirkan, karena dia sudah diduga “meningitis” sehingga rencana isolasi pun dipersiapkan.
“Sejak awal, saya sendiri tidak yakin, karena dia hanya positif untuk test pungsi lumbal atau test pandy, sedangkan test kultur justru negatif, padahal WHO sendiri mensyaratkan kedua test itu, kemudian diuji lagi dengan test ICT (Imun Chronete Test) untuk memastikan suspect meningitis bila hasil test kultur negatif,” katanya.
Masalahnya, katanya, RSAS King Fahd tidak memiliki alat test ICT itu, kemudian dilakukan test ulang yang akhirnya menghasilkan kesimpulan yang sebaliknya yakni pasien hanya menderita chest infection (infeksi paru) dan pneumonia (radang paru).
“Jadi, hasil diagnosa final yang semula disimpulkan RSAS King Fahd sebagai Menengocus Meningitis untuk pak Pariman, ternyata tidak terbukti, melainkan hanya suspect meningitis, bahkan hanya infeksi dan radang paru,” katanya.
Hingga kini, jemaah haji yang dirawat di Madinah tercatat 24 orang yakni 14 orang dirawat di RSAS (King Fahd, Al-Anshar, dan RS Uhud) dan 10 orang dirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Daker Madinah.
“Dari jumlah itu tampaknya ada enam jemaah sakit yang mungkin belum bisa pulang saat proses pemulangan jemaah haji berakhir pada 9 Januari,” katanya, didampingi petugas Sansur (Sanitasi dan Surveilans/ Pendataan Kesehatan) Daker Madinah, Ade Mashuri. (*)
Tulis Tanggapan