Blog cerita, hikmah, dan informasi haji
Cerita Haji » Post 'Jemaah Indonesia Tak Persoalkan Cuaca Dingin Madinah'

Jemaah Indonesia Tak Persoalkan Cuaca Dingin Madinah

Sumber: Antara, 19 Des 2009=8

Madinah (ANTARA News) – Jemaah haji Indonesia, tampaknya tidak mempersoalkan cuaca dingin di kota Madinah Almunawaroh, bahkan ada juga jemaah yang menerima kondisi pemondokan di Mekkah Almukarromah yang jauh dengan ikhlas.

“Kondisi apa pun, kami siap, apakah di Madinah yang dingin atau di Mekkah yang jauh dan panas,” kata jemaah haji kloter 43 JKS, Siti Rohmah, di Madinah, Jumat.

Jemaah asal Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan yang berangkat lewat Jakarta itu mengaku dirinya sudah terbiasa dengan kondisi panas dan dingin, karena Indonesia juga memiliki dua musim yakni kemarau dan penghujan.

“Apalagi, kami orang desa yang biasa jalan, karena itu kami tidak ada masalah dengan pemondokan yang jauh di Madinah dan cuaca dingin di Mekkah,” katanya.

Ketika ditemui saat jalan-jalan bersama tiga rekannya untuk mencari “buah tangan” (oleh-oleh) untuk dibawa ke Tanah Air, ia mengatakan pihaknya juga tidak terlalu banyak persiapan dengan musim dingin di Madinah.

“Saya orang desa yang terbiasa dengan cuaca dingin, karena itu saya jalan-jalan hanya pakai kaos kaki. Saya tidak pakai sarung tangan, bahkan ada teman saya yang tidur di lantai di hotel,” katanya, sambil tersenyum.

Oleh karena itu, katanya, jemaah dari kloter (kelompok terbang) 43 JKS tetap melakukan salat Arbain (salat 40 waktu tanpa terputus) di Masjid Nabawi, meski suhu di “kota nabi” pada Jumat (19/12) pagi mencapai 9 derajat celsius.

Hal yang sama juga dikemukakan jemaah asal Magelang, Nur Mahin, apalagi Magelang (Jawa Tengah) juga relatif dingin.

“Sebagai orang Magelang, kami tidak terlalu kaget dengan cuaca dingin di Madinah, karena Magelang juga dingin,” kata pimpinan rombongan kloter SOC 35 itu.

“Umumnya, jemaah juga sudah memperkirakan tibanya musim dingin di Madinah pada awal Januari mendatang, karena itu mereka sudah menyiapkan kaos kaki, jaket, dan celana panjang (training), bahkan ada jemaah saya yang kakinya diberi plastik, lalu baru diberi kaos kaki,” katanya.

Tentang pemondokan bagi jemaahnya yang terlalu jauh di Ka`kiah yang berjarak 7-8 kilometer dari Masjidilharam, ia mengaku hal itu tidak menjadi masalah bagi yang muda.

“Mungkin, kami kasihan saja dengan jemaah yang tua-tua. Kalau yang muda-muda sering jalan kaki 7-8 kilometer dengan waktu tempuh 1,5 jam, tapi yang tua-tua terpaksa hanya 2-3 kali ke Masjidilharam selama di Mekah, karena itu kami berharap ada perbaikan pada tahun depan,” katanya. (*)

Tulis Tanggapan

XHTML - You can use:<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Top of page