Info: Katering Gagal, Jemaah Haji Terlantar di Arafah

Sumber: Kompas, 30 Desember 2006

Katering Gagal, Jemaah Haji Terlantar di Arafah Presiden Yudhoyono Prihatin Soal Keterlambatan Pengurusan Makanan

:Syamsul Hadi

arafah, Kompas - Kegelisahan, kelaparan kekacauan melanda jemaah haji Indonesia yang tengah melaksanakan wukuf di Arafah, sejak Kamis hingga Jumat (30/12) malam. Selama lebih dari 30 jam mereka tidak mendapatkan suplai makanan maupun minuman.

Perusahaan katering yang ditunjuk Departemen Agama gagal menyediakan makanan dan minum untuk sekitar 189.000 jemaah haji Indonesia. Jamaah haji Indonesia tahun ini termasuk haji plus berjumlah 205.000 orang.

Padahal para jemaah haji itu bersiap mengikuti wukuf sebagai puncak ibadah haji di Arafah.

Suasana menyedihkan akibat kelaparan itu melanda maktab-maktab jemaah haji Indonesia. Mereka terpaksa meminum air ledeng untuk bertahan atau memakan sisa makanan kecil yang dibawa jemaah. Dilaporkan, beberapa orang–terutama jemaah sepuh– pingsan. Mereka yang pingsan dan lemas segera dibawa ke rumah sakit. Banyak juga jamaah yang tersesat setelah mencoba mencari makanan ke luar maktab.

“Ada pengkhianatan yang dilakukan perusahaan katering di Arab Saudi,” tegas Direktur Pembinaan Haji Direktorat Penyelenggaran Haji dan Umrah Departemen Agama M Mukhtar Ilyas di Jakarta, Jumat (29/12).

Perusahaan katering Ana Service and Suply yang menangani ransum seluruh jemaah haji Indonesia tahun ini merupakan perusahaan baru. Padahal selama bertahun-tahun sebelumnya, penyediaan makanan bagi jemaah haji Indonesia dilakukan panitia haji setempat yaitu muassasah (yayasan per wilayah) dan maktab (kelompok per enam kelompok terbang).

Tanpa menyebut nama, Muchtar mengatakan, katering itu dipilih karena menawarkan harga lebih murah dan memiliki peralatan modern.

Biaya yang dipatok muassasah dan maktab adalah sebesar 300 riyal Arab Saudi bagi setiap jemaah untuk lima hari, yaitu satu hari di Arafah saat melakukan wukuf dan 3-4 hari di Mina saat melontar jumroh. Ransum yang disediakan berupa nasi beserta lauk pauk, aneka minuman, serta buah-buahan

Perusahaan katering baru menawarkan biaya ransum sebesar 250 riyal Arab Saudi untuk lima hari. Lebih murah (hanya) 50 riyal. Pemerintah telah memberikan uang muka sepertiga dari biaya total ransum atau senilai 9 juta riyal Arab Saudi.

Dipastikan, perusahaan katering tersebut milik seorang anggota keluarga Kementerian Dalam Negeri Kerajaan Arab Saudi.

“Situasi sangat buruk. Hingga Jumat malam belum ada kepastian kapan makanan dan minuman itu bisa diterima jamaah,” kata Ketua Tim Pengawas Haji DPR Hasrul Azwar. Penunjukan katering baru itu tanpa sepengetahuan DPR.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung menugaskan Menteri Agama M Maftuh Basyuni mengatasi masalah tersebut secara cepat. “Presiden prihatin atas keterlambatan makanan jemaah haji di Tanah Suci,” demikian siaran pers yang ditandatangani Juru bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng.

Sebagai langkah darurat pemerintah berusaha mengirim ratusan ribu mi instan. Namun itu bukan usaha mudah karena sulitnya menembus kepadatan jemaah haji di Arafah yang mencapai empat juta orang.

Pemerintah Kerajaan Saudi membagikan minuman dan buah-buahan gratis bagi jamaah. Pembagian makanan itu langsung diserbu jamaah haji Indonesia.

“Ini merupakan kejadian terburuk dalam penyelenggaraan haji Indonesia, “kata seorang petugas haji.

Dalam sambutan wukuf di tenda utama misi haji Indonesia, Dubes RI untuk Arab Saudi, Salim Segaf Aljufri mengatakan, dirinya malu karena tidak mampu melayani jemaah haji hingga terjadi masalah suplai makanan. Sambil menitikkan air mata, mengajak semua jemaah berdoa agar masalah cepat teratasi.

Sedangkan Amirul Haj Tarmizi Taher menyatakan bertanggung jawab dalam kasus itu. (idr/MAM/osd/ush/ant)

Leave a Reply