Menjual Rumah untuk Biaya Haji
Sumber:
Dimuat ulang bekerjasama dengan PesantrenVirtual
Pertanyaan
Assalamualaikum Wr. Wb.
Nama saya Rini, sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada para pengurus Pesantren Virtual yang telah banyak memberikan ilmunya. Saya sedang gelisah, saya ingin sekali menunaikan ibadah haji, apabila mendengar seseorang akan pergi haji, atau mendengar nasyid tentang menunaikan ibadah haji, tidak terasa saya sering menangis. Tetapi apabila melihat kondisinya, seperti saat ini belum memungkinkan bagi saya untuk dapat melaksanakannya.
Saya, dan suami mempunyai sebuah rumah yang sedang kami kontrakan.. saat ini saya tinggal dengan orang tua di Bandung, sedangkan suami saya kost dekat kantor di Jakarta. Kami berdua mempunyai satu orang anak (2 tahun). Saya mendesak pada suami untuk menjual rumah kami, dengan niat untuk melaksanakan ibadah haji. Akan tetapi suami saya ragu, karena apabila itu dijual, kami tidak mempunyai sesuatu/bekal untuk anak kami. Saya berkeyakinan… pasti Allah akan memberikan rezeki lain untuk anak kami dan saya tidak khawatir menjadi tidak punya apa-apa, karena pasti Allah akan memberikan gantinya.. Kami berdua bekerja… Tolong diberikan solusinya.. apakah salah niat saya menunaikan ibadah haji dengan menjual satu-satunya milik kami.. kami belum mempunyai kendaraan. kalaupun kami menggunakan kendaraan, itu adalah milik orang tua saya. Mohon diberikan doa apa yang harus saya amalkan.. agar Allah SWT berkenan mengundang saya dan suami untuk dapat menunaikan ibadah haji. Terimakasih sebelumnya. Wassalamualaikum Wr. Wb.
Rini Isroni
Jawab
Waalaikumussalam,
Mohon maaf barangkali sangat terlambat. Kami kebanjiran pertanyaan2, sehingga kerepotan menjawabnya.
1) Haji hanya wajib bagi mereka yang mampu. “mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah”, (QS. 3:97)
Mampu artinya adalah memiliki harta yang melebihi untuk kehidupan yang layak. Anjuran Islam pertama kali adalah agar umatnya hidup dalam keadaan layak. Setelah ini terpenuhi, baru mereka berkewajiban haji.
Kata Nabi Muhammad, seorang mukmin yang kuat lebih disenangi oleh Allah ketimbang mukmin yang lemah. Banyak muslim Indonesia yang menjual tanahnya, atau hewan ternaknya demi berangkat haji, sementara kehidupannya sendiri belum bisa dikatakan layak. Banyak mereka yang sebetulnya masih membutuhkan biaya untuk pendidikan anaknya.
Hal-hal demikian ini tidak dibenarkan. Karena itu, jika Ibu dan keluarga membutuhkan rumah itu untuk biaya pendidikan putra/i Ibu, maka rumah tsb. jangan dijual. Haji yang mabrur selalu dimulai dari cara yang benar. Menjual rumah yang dibutuhkan untuk kehidupan yang layak, termasuk biaya untuk anak-anak, adalah cara yang tidak benar.
2) Untuk mendekatkan diri kepada Allah masih banyak jalannya. Memang haji adalah diantara jalan yang mulia, tapi ia tidak bisa ditempuh dengan cara yang tidak benar. Sungguh mulia niat Ibu. Saya percaya Allah akan membalas niat Ibu seperti mereka yang telah melaksanakan ibadah haji. Kata Nabi Muhammad, barang siapa berniat melakukan amal baik, dan ia tidak mengerjakannya maka Allah telah mencatatnya sebagai perbuatan baik. Demikian, semoga membantu.
Wassalam,
Abdul Ghofur Maimoen
Dewan Asaatidz PesantrenVirtual
June 9th, 2006 at 2:47 pm
assalam mualaikum wr,wb
bu rini semoga ALLAH dengan cepat mengabulkan niat mulia bu amin amin amin.
mungkin ibu bisa banyak baca AL FATIHAH setiap selesai sholat fardhu, karna saya juga punya keinginan yg sama dengan ibu. dan syukur alhamdulillah saya sudah bayar onh kini saya hanya tinggal lebih banyak lg berdoa agar saya diberi umur,rezeki,kemudahan dan diijinkan oleh ALLAH berangkat ditahun ini juga.bukankah tdk ada yg tak mungkin dimata ALLAH amin 3x.
doa saya selalu untuk ibu rini dan keluarga semoga cepat di ijabah 0leh ALLAH amin 3x satu lg bu rini doa itu saya dapat dari kyai haji Moehktar ilyas kita acaranya sabtu pagi di tvri .
wasallam
aisyah
September 5th, 2006 at 10:53 am
Ass. wr. wb.
Bu Rini, saya dulu juga tidak yakin bisa melaksanakan haji. Dulu, ketika mengontrak rumah saya juga tidak yakin akan punya rumah, biar kecil sekalipun. Namun, hanya dengan usaha (menabung) dan do’a kepada Allah semua bisa terkabul. Saya memang tidak pernah berdo’a untuk punya mobil, alhamdulillah sampai sekarang masih naik motor. Sabar!
Wass. wr. wb.
October 11th, 2006 at 1:15 pm
Ass wr wb,
Bu Rini, lebih dari 15 tahun lalu saya diundang kenalan saya, saat beliau bertugas di Riyadh, untuk menunaikan ibadah haji. Cukup ongkos pesawat pp sekitar Rp 1.500.000, karena selama di Saudi beliau akan urus semuanya. Selama 3 tahun masa tugasnya, beliau selalu mengundang saya untuk menunaikan ibadah haji. Namun, apa daya, uang pun belum memungkinkan.
Lima tahun lalu, saya dan istri berniat menunaikan ibadah haji, namun uang belum juga terkumpul hingga akhir tahun 2005. Kami sepakat, bahwa bila Allah kehendaki, maka kami suatu saat berangkat haji walau entah darimana biayanya.
Alhamdulillah, Oktober 2006 dan atas izin Allah, kami mendapat undangan menunaikan ibadah haji. Insya Allah….
Semua adalah rahasia Allah semata. Kami hanya bisa berdoa, bersabar, berserah diri dgn penuh keilhlasan, maka bila Alllah kehendaki semua bisa terjadi. Insya Allah…………..
November 14th, 2006 at 2:14 pm
Bu Rini, semoga Allah segera membukakan jalan bagi orang yang berniat kuat seperti Ibu. Karena banyak orang yang mampu secara finansial tapi mengelak dengan alasan belum ada panggilan, belum mantap, anak masih kecil dll.
Memang ber-haji adalah kewajiban bagi muslim yang mampu, namun yang sering dibiaskan adalah batasan mampu ini. Saya lihat trend-nya di Indonesia, orang dibilang mampu jika rumah sudah megah dan mobil sudah mewah. Kelewatan, bukan?
Alhamdulillah, waktu SMA saya mendapatkan pengalaman yang akhirnya selalu memompakan semangat. Penjual rujak cingur keliling (orang Madura), yang tiap siang keliling dengan gendongan dagangan di punggung, berhasil pergi haji! Pak Bupati waktu itu sampai terharu karena si Mbo cuma bawa uang saku sekedarnya, dan menambahkan uang saku dari dompetnya sendiri.
Tukang jual keliling berhasil berhaji! Luar biasa dan berhasil membuat saya malu tiap kali saya berniat memakai uang lebihan untuk hal lain instead ditabung ke THI.
Alhamdulillah, kemarin saya sudah membayar siskohat untuk tahun depan. Dan karena suami berniat pergi bersama, maka siskohat satunya lagi saya ambilkan kredit lunak (karena ternyata dana talangan haji sudah dihapus), dengan kalkulasi sudah lunas ketika pelaksanaan ibadah haji. Anak kami juga baru 1, umur 4 tahun. Punya rumah sederhana 1 dan alhamdulillah belum tergoda membeli mobil selama masih ada mobil pinjaman dari kantor.
Ketika kita punya niat, ketika kita mampu berencana, kita kita masih kuat bekerja, kenapa harus ragu?! Ada pernah saya baca “buatlah rencana sehebat mungkin hingga Tuhan pun tertawa”
Yang penting : bulatkan tekad, teguhkan niat dan disiplin nabung!
Sampai jumpa di rumah Allah ya, Bu!