Persiapan Spiritual: Antara Panggilan dan Kemantapan

Dalam tulisan tentang topik persiapan haji, saya telah menyinggung beberapa hal yang selayaknya diperhatikan bagi setiap orang yang akan menunaikan ibadah haji. Persiapan itu meliputi: persiapan dana atau biaya, persiapan fisik, dan persiapan mental atau spiritual. Dua tulisan sebelumnya sudah membahas (kurang lebih) dua hal pertama. Kali ini kita coba mengapa persiapan mental atau spiritual itu penting sebelum menunaikan ibadah haji.

Sebelumnya, saya ingin mohon maaf kepada pembaca sekalian. Ternyata, memberi pengantar tentang kesiapan mental atau spiritual sungguh sangat sulit. Hal inilah yang mendorong saya terus menunda untuk menulis hal ini. Hingga tak terasa beberapa bulan berjalan.

Tapi hari ini, dengan niat yang mantap, saya coba menuliskan apa yang saya bisa. Biarpun saya tidak yakin diri ini pantas untuk memberi pengantar tentang hal ini, tapi saya memohon kerelaan dan maaf dari pembaca semua, semoga tulisan ini bisa memberi manfaat. Dan bila ada kekurangan, ini adalah kepunyaan penulis semata.

Alasan Belum Mantap atau Belum Cukup Umur

Banyak orang bilang, “Saya tidak berani menunaikan ibadah haji terlebih dahulu. Belum mantap!” Ada juga yang bilang, “Saya masih terlalu muda, nanti lah (naik haji) kalau sudah cukup umur.”

Selalu begitu alasan-alasan kita, bukan? Apa yang belum mantap? Kita pasti tahu, mantap dalam pengertian ini adalah keyakinan bahwa spiritual dan mental belum cukup mantap untuk menunaikan haji. Lebih gampangnya, kita juga pasti merasa, keimanan kita belum tertata dengan baik sehingga tidak yakin bisa menjalani ibadah haji dengan mantap.

Lalu belum cukup umur. Pertanyaan saya, adakah aturan dalam Islam yang mengatakan bahwa haji hanya diperuntukkan bagi orang yang cukup umur? Berapa umur yang pantas untuk naik haji? Empat puluh tahun? Limah puluh tahun? Ataukah enam puluh tahun?

Tentang Iman

Mari kita coba telaah. Pertama, siapa bisa mengukur iman?

Kalau menurut Islam, ada beberapa hal yang dikategorikan sebagai tolak ukur keimanan seseorang, percaya kepada Allah, malaikat, rasul, kitab-kitab, hari akhir, dan takdir.

Tapi bagaimana bentuk dan ukuran iman, terus terang tidak ada penjelasannya. Memang ada beberapa tuntunan dan indikator, tapi itu tidak berbicara dan tidak bisa menjadi tolak ukur. Dan sesungguhnya, saya pribadi percaya, yang tahu keimanan seseorang tentu saja hanya Allah.

Apakah seseorang tidak tahu keimanan dirinya? Kalau boleh ditanyakan, bagaimana Anda mengukur kadar keimanan Anda hari ini? Apakah hari ini cenderung menguat, seperti suhu global, atau kali ini cenderung menurun seperti jatuhnya nilai Rupiah terhadap Dolar AS? Tidak pernah ada alat pengukur keimanan. Belum pernah ada yang menjual termometer keimanan. Dan tidak ada lembaga pengukur keimanan.

Jadi, kalau dibuat statistiknya, keimanan seseorang ada naik turunnya. Spiritualisme diri kita ada naik turunnya.

Kalau kita memutuskan naik haji tahun depan, mungkin kita takut ketika di tanah suci, kondisi spiritual kita sedang rendah banget. Kita takut ibadah kita kurang bermutu. Kita takut tidak bisa khusyuk. Dan banyak ketakutan lainnya, begitu? Apakah ini yang menjadi alasan kita untuk menunda-nunda panggilan mulia ini?

Kalau menurut saya, dengan pemahaman diri dan ketakutan terhadap keimanan diri sendiri tersebut, justru Anda dalam kondisi yang tepat. Menurut saya, keimanan seseorang yang paling sempurna adalah orang yang selalu introspeksi terhadap dirinya. Seseorang yang senantiasa tidak puas bahwa dirinya belum sempurna “bersimpuh”, belum sempurna “mengabdi” kepada Allah, belum sempurna “menjadi penyembah” Tuhan, inilah kondisi ideal iman seseorang. Seseorang yang puas diri bahwa dirinya sangat beriman kepada Allah sesungguhnya adalah orang yang takabur. Seseorang yang senantiasa takut dan merasa dirinya rendah di hadapan Allah adalah seseorang yang memahami hakikat keimanannya.

Jadi, kalau diri Anda merasakan perasaan dan keyakinan semacam di atas, kerendahdirian Anda sesungguhnya saat yang tepat untuk memulai menjawab panggilan mulia ini.

Beribadah haji adalah ibadah yang indah. Di tempat yang mulia dan suci itu, Anda pasti dapat merasakan kenikmatan indah untuk berdoa dan memuji Allah Tuhan Pengasih dan Penyayang.

Cukup Umur

Kemudian tentang umur. Pertanyaan sederhana ini mungkin bisa menjawab keraguan Anda, apakah dengan umur yang lebih tua Anda yakin keimanan dan spiritualisme Anda lebih bagus kondisinya dari saat ini? Apakah sepuluh tahun mendatang ibadah salat Anda lebih khusyuk dari saat ini? Apakah ketika berusia lima puluh tahun Anda yakin jiwa lebih tenang dan mantap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini?

Bila jawaban Anda tidak, saatnyalah Anda bergegas memantapkan diri. Bila tabungan sudah cukup, segera ungkapkan niat Anda kepada keluarga dekat Anda, entah pada istri, orang tua, anak. Dukungan moril dari seluruh keluarga akan menjadi pendorong yang sempurna bagi kesiapan ibadah menunaikan panggilan suci ini.

Akhir kata, semoga kita menjadi manusia-manusia yang setiap saat selalu sadar bahwa kita adalah makhluk-makhluk yang tidak punya kekuasaan apa-apa di hadapan Allah. Kekayaan, usia, dan anak-anak kita sesungguhnya bukan milik kita. Semuanya dapat kembali diambil-Nya. Saatnyalah memantapkan panggilan hati, memuliakan dan memuji, menjadi penyembah Allah sejati.

2 Responses to “Persiapan Spiritual: Antara Panggilan dan Kemantapan”

  1. velly Says:

    AssWW,Subhanallah,membaca tips anda,membuat hati saya tergugah untuk segera berangkat ke tanah suci menunaikan rukun Islam ke -5.Mudah2 an niat saya ini menjadi pendorong semangat utk kesana,di tambah dgn tulisan anda semakin memotifasi saya.Terimaksih banyak atas tulisan anda,semoga Allah SWT melimpahkan karunia,rahmat & hidayah-Nya kepada anda & seluruh keluarga.Amin.Jazakumullah Khairot.WassWW,velly

  2. jordan lubis Says:

    Assalamu’alaikum WrWb.

    Cerita yang Anda sampaikan sungguh sistematis dan memotivasi kesadaran seseorang tentang hakekat dirinya.

    Bagus, sekali lagi cerita yang bagus, moga Allah SWT melimpahkan karunianya kepada kita semua.

    Wassalam,

Leave a Reply