Archive for May, 2006

Duka Yogya Luka Indonesia

Monday, May 29th, 2006

Innalillahi wa inna Ilaihi Raaji’un.

Seperti kita semua tahu, pada Sabtu (27/5) pagi yang sejuk kemarin, bumi kembali menunjukkan kekuasaanya pada kita. Di pusat bumi beberapa kilometer sebelah selatan Yogyakarta, lempengan bumi begerak, Terjadilah gempa tektonik.

Bumi Yogya dan Jawa Tengah, juga beberapa daerah di Jawa Timur bergetar. Goncangan ini bahkan dirasakan hingga Semarang dan Surabayat. Ribuan rumah roboh. Ribuan bangunan ambruk atau bergeser, retak, dan sebagainya.

Dari berita terakhir, sekitar 4.000 manusia meninggal. Daerah terparah yang terkena bencana ini dikabarkan adalah Bantul (korban 2.000 orang lebih), Klaten (sekitar 1.000 orang), dan kota Yogya serta beberapa daerah di sekitarnya.

Ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal. Ratusan ribu orang terluka. Ribuan orang kehilangan keluarga.

Mereka butuh obat. Mereka butuh makanan dan minuman. Mereka kekurangan pakaian. Mereka butuh tempat berteduh. Mereka butuh uluran tangan Anda.

Salurkan bantuan Anda pada lembaga sosial terdekat.

Semoga keluarga dan masyarakat Yogya, Klaten dan sekitarnya diberi ketabahan menghadapi cobaan ini.

Informasi ONH/BPIH 1427H/2006

Monday, May 29th, 2006

Seperti telah kami kutip, Pemerintah melalui Peraturan Presiden No.70 Tahun 2006 telah menetapkan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) tahun 1427H/2006. Biaya ini sudah turun beberapa puluh dolar (kami perkirakan sekitar 2 juta lebih rendah), dibandingkan biaya yang telah diajukan Menteri Agama kepada DPR yang kami publikasikan sebelumnya.

Berikut data lengkap ONH/BPIH 1427H/2006.

ZONA BPIH* Total dalam Rupiah**
(asumsi $1 = Rp 9.250)
Zona I
Aceh, Medan, dan Batam
$2,753.7 dan Rp 466.864,- Rp 25,938,589.00
Zona II
Jakarta, Solo dan Surabaya
$2,851.7 dan Rp 466.864,- Rp 26,845,089.00
Zona III
Makasar, Banjarmasin dan Balikpapan
$2,969.3 dan Rp 466.864,- Rp 27,932,889.00

Catatan: * Data BPIH FINAL dari Peraturan Pemerintah 2006. ** Data ini dihitung dari data dengan mengambil asumsi 1 dolar = Rp 9.250,-

Data dan informasi pelengkap lainnya tentang BPIH (atau ONH) akan kami tambahkan di halaman ini.

Sumber: Depag

Info Haji: Telah Disewa Pondokan Jemaah Haji di Mekkah Bagi 147 Ribu Orang

Monday, May 29th, 2006

Sumber:

Situs InformasiHaji.com Depag

Rabu, 24 Mei 2006 6:54:16 PM

Jakarta(MCH)-—Saat ini tim pemondokan haji Depag yang sedang bekerja di Arab Saudi dan telah berhasil memesan pondokan dengan kapasitas bagi 147 ribu jemaah di Mekkah. Pondokan tersebut berjarak kurang dari 1 km dariMasjidil Haram yang akan dipergunakan pada musim haji 1427 H/2006. Hal itu diungkapkan Menag Muhammad Maftuh Basyuni seusai membuka Orientasi Wartawan, di Jakarta, Rabu (24/5).

Menurut Maftuh, masalah pondokan ini tahun lalu banyak dikeluhkan jemaah haji. Oleh karena itu plafon sewan pondokan dinaikkan menjadi 2.000 riyal yang tahun sebelumnya 1.550 riyal. ”Upaya ini dilakukan agar mutu pondokan yang dipergunakan lebih baik,” ujarnya.

Untuk musim haji 1427 H, kata Maftuh, soal pondokan ini akan diberlakukan sistem proporsional, sehingga jemaah yang menempati pondokan di Mekkah di bawah harga plafon, maka kelebihannya akan dikembalikan kepada jemaah haji itu sendiri. ”Kita hapus sistem subsidi silang, agar berazas keadilan,” katanya.

Menag juga mengatakan, musim haji mendatang embarkasi yang ada ditambah dengan embarkasi Padang, berhubung bandara tersebut telah memenuhi syarat yakni bisa digunakan pesawat berbadan lebar dan memiliki fasilitas standar internasional.

“Jemaah Sumatera Barat yang jumlahmya mencapai 7.000 orang sudah
memenuhi syarat perlunya embarkasi di sana, semakin banyak embarkasi
menolong jemaah,” katanya.

Hanya saja soal zona apakah akan dimasukkan dalam zona I atau zona II masih perlu pembahasan, ujarnya. (ts)

Info Haji: Mengoptimalkan Fungsi KBIH

Friday, May 26th, 2006

Sumber:

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=249605&kat_id=301

Republika, Jumat, 26 Mei 2006

Peran Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) masih diperlukan. Bukan saja oleh jamaah haji, tapi juga Depag.

Berdasarkan UU Nomor 17/1999 tentang Penyelenggaraan Haji, pembinaan terhadap jamaah haji, mutlak dilakukan. Hal ini untuk mewujudkan kemandirian jamaah dalam melaksanakan ibadah haji. Sejak dari pendaftaran hingga pelaksanaan ibadah haji.

Untuk membina dan membimbing jamaah haji ini, penyelenggara haji dalam hal ini Departemen Agama (Depag) harus melibatkan unsur masyarakat. Dari sinilah kemudian lahir Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Saat ini terdapat sekitar 1.800 KBIH di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.300 di antaranya telah terdaftar dan terakreditasi oleh Depag, untuk memberikan bimbingan manasik kepada calon jamaah haji.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Kholil Ridwan mengatakan, keberadaan KBIH sangat dibutuhkan. ”Banyak jamaah haji yang ingin melaksanakan haji dan meminta agar dibimbing oleh ustadnya (melalui KBIH),” ujar KH Kholil, pembimbing manasik dari Hudaya Safari.

Ketua KBIH Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Kaspul Anwar mengatakan, KBIH berfungsi membina dan membimbing jamaah dari Tanah Air hingga Tanah Suci dan kembali lagi ke Tanah Air. ”Pembinaan dan bimbingan manasik yang biasa dilakukan KBIH sebanyak tiga tahap, yakni pembinaan pra haji, saat pelaksanaan haji dan sepulang haji,” ujar Kaspul.

Ketua KBIH Riyadhul Jannah Semarang, Drs H Ahmad Anas mengatakan, bagaimanapun keberadaan KBIH sangat dibutuhkan. Bukan saja oleh jamaah haji, tetapi oleh Depag sendiri. ”Bahkan banyak petugas dari Depag yang akhirnya ikut mengekor pada KBIH,” jelas Anas, kepada Republika.

Anas mengatakan, walaupun akhir-akhir ini banyak pihak yang menggugat keberadaan KBIH, peran dan fungsinya masih sangat dibutuhkan. ”Jumlah jamaah haji mencapai 200.000 orang. Sementara, petugas hanya jumlahnya sangat terbatas. Bahkan, seorang petugas haji memiliki kewajiban membimbing dan mengawasi satu kloter. Ini jelas tidak efektif,” ujarnya.

Mengenai himbauan agar KBIH cukup membimbing jamaah haji hingga embarkasi, KH Kholil Ridwan mengaku tidak setuju dengan kebijakan tersebut. Alasannya, peranan KBIH itu lebih banyak di lapangan (Tanah Suci). ”Kalau sampai di embarkasi, saya khawatir banyak jamaah yang akan kesulitan dalam mengerjakan prosesi ibadah haji selama di Tanah Suci,” ujarnya. Hal yang sama juga disampaikan Ahmad Anas. Menurutnya, jika itu yang terjadi, ibarat anak, dia akan kehilangan panutannya. ”Ibarat ayam, dia kehilangan induknya,” filosofi Anas.

KH Kholil Ridwan, Kaspul Anwar, dan Ahmad Anas, menyatakan setuju kalau optimalisasi KBIH terus ditingkatkan. Namun, mereka juga mengharapkan Departemen Agama untuk tegas memberikan bimbingan dan arahan kepada KBIH. ”Tidak hanya sekedar pertemuan informal, yang kurang jelas arah dan tujuannya,” tegas Anas.

KH Kholil menambahkan, pihaknya juga setuju dengan langkah Depag yang mencabut izin dan melarang pembentukan pendirian KBIH baru. Sebab, selain sudah terlalu banyak KBIH, juga untuk menghindari makin banyaknya penipuan yang berkedok agama. ”Saya sudah buat edaran kepada Kakanwil di setiap provinsi agar tidak lagi mengeluarkan izin KBIH untuk musim haji mendatang,” kata Direktur Pembinaan Haji Muchtar Ilyas.

KH Kholil mengharapkan ada aturan tegas yang mengatur batasan maksimal biaya bimbingan kepada jamaah haji. ”Saya mengusulkan, maksimal antara Rp 2-3 juta per jamaah. Dan itu belum termasuk dam,” ujar Kholil.
(sya )

Info Haji: Biaya Haji Tahun Ini Naik 200 Dolar AS

Friday, May 26th, 2006

Sumber:

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=249526&kat_id=3

Republika, Jumat, 26 Mei 2006

Biaya Haji Tahun Ini Naik 200 Dolar AS

JAKARTA — Menteri Agama, HM Maftuh Basyuni, dan Komisi VIII DPR RI, menyepakati besaran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) tahun 2006/1427 H. Kesepakatan itu diambil setelah ada keputusan dari Garuda Indonesia tentang besaran biaya penerbangan jamaah haji.

Untuk tahun ini, BPIH naik sekitar 200 dolar AS per jamaah, dibanding tahun lalu. Yakni menjadi sebesar 2.833,04 dolar AS dan Rp 830.000 untuk Zona I (Aceh, Medan dan Batam), 2.934,04 dolar AS dan Rp 830.000 untuk Zona II (Jakarta, Solo dan Surabaya) serta 3.055,24 dolar AS dan Rp 830.000 untuk Zona III (Makasar, Banjarmasin dan Balikpapan).

”Kenaikan ini disebabkan naiknya biaya penerbangan yang ditetapkan direksi Garuda dan biaya pemondokan di Arab Saudi,” kata Menag Maftuh Basyuni dalam rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI, di Jakarta, Selasa (23/5) malam. Biaya penerbangan haji untuk zona I sebesar 1.235 dolar AS, zona II 1.335 dolar AS dan zona III 1.435 dolar AS. Menag mengungkapkan, biaya penerbangan yang ditawarkan Garuda, lebih murah dibandingkan penawaran yang diajukan maskapai penerbangan lain seperti Saudi Arabia Airlines (SA), Malaysia Airlines (MAS), Qatar Airlines, Asia Air dan lainnya.

Sementara itu, biaya pemondokan di Arab Saudi juga mengalami kenaikan sebesar 450 riyal — dari 1.550 riyal menjadi 2.000 riyal. Biaya sebesar itu untuk mendapatkan pemondokan yang lebih dekat dengan Masjidil Haram, atau berjarak tidak lebih dari 1,2 kilometer (km). ”Jika lebih dari 1,2 kilometer, biaya pemondokan tentu harus lebih murah,” ujar Menag.

Mantan dubes RI untuk Arab Saudi ini menegaskan, pihaknya telah mendapatkan informasi dari petugas urusan haji Indonesia di Makkah, saat ini telah didapatkan rumah sebanyak 147.000 buah yang berjarak kurang dari 1 kilometer.

”Meski ada kenaikan, namun jamaah haji akan memperoleh peningkatan pelayanan, terutama pemondokan di Makkah dan Madinah,” jelasnya. Sementara, komisi VIII DPR RI, walau menyepakati BPIH 2006/1427 H, memberikan sejumlah catatan untuk menjadi perhatian pemerintah. KH Ahmad Thoyfoer MC dari Fraksi PPP menyatakan, penyelenggaraan haji tahun ini harus lebih baik dari penyelenggaraan tahun sebelumnya. ”Ini sudah menjadi komitmen kita bersama, bahwa penyelenggaraan haji tahun ini harus lebih baik. Kita tidak ingin mendengar lagi adanya persoalan yang menimpa jamaah haji,” tegas politisi asal Rembang, Jateng, ini.

Ketua Komisi VIII DPR RI, Hasrul Azwar mengharapkan, agar penerbangan dari Tanah Air ke Tanah Suci dan sebaliknya, tidak ada lagi penundaan atau keterlambatan. ”Dengan kenaikan ini, kita harapkan Garuda juga memperbaiki kinerjanya. Jangan sampai biaya sudah dinaikkan, pelayanan masih seperti dulu, terjadi delay dan keterlambatan yang merugikan jamaah,” tegasnya.

Sementara, dari Bandung diberitakan, tahun ini jamaah haji Indonesia akan mengenakan seragam nasional. Yakni berbentuk jas atau blazer berwarna hijau telur asin dengan bawahan (celana atau rok) bebas.

”Di saku dada kiri, ada logo merah putih dan tulisan Indonesia serta provinsi di bawahnya,” kata Direktur Pembinaan Haji, Depag, Mochtar Ilyas, Kamis (25/5). Seragam tersebut harus selalu digunakan di tanah suci, baik ketika pergi ke Masjidil Haram, ziarah dan lain-lain. Menurut Mochtar, jemaah diminta mencari sendiri bahan seragam tersebut dan menjahitnya sendiri, Depag hanya menetukan warna dan bentuknya. Namun diakuinya bahan berwarna seperti yang diajukan Menag itu masih sulit ditemui di pasaran.

Mochtar mengatakan, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) dilarang memiliki seragam sendiri-sendiri, atau menambah atribut pada seragam itu. ”Kalau ada yang menambahkan atribut KBIH, akan dicabut izinnya,” katanya, dipersilakan kalau ada yang menambahkan semacam selendang untuk tanda.
(sya/rfa )

Menjual Rumah untuk Biaya Haji

Wednesday, May 24th, 2006

Sumber:

Dimuat ulang bekerjasama dengan PesantrenVirtual

Pertanyaan

Assalamualaikum Wr. Wb.

Nama saya Rini, sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada para pengurus Pesantren Virtual yang telah banyak memberikan ilmunya. Saya sedang gelisah, saya ingin sekali menunaikan ibadah haji, apabila mendengar seseorang akan pergi haji, atau mendengar nasyid tentang menunaikan ibadah haji, tidak terasa saya sering menangis. Tetapi apabila melihat kondisinya, seperti saat ini belum memungkinkan bagi saya untuk dapat melaksanakannya.

Saya, dan suami mempunyai sebuah rumah yang sedang kami kontrakan.. saat ini saya tinggal dengan orang tua di Bandung, sedangkan suami saya kost dekat kantor di Jakarta. Kami berdua mempunyai satu orang anak (2 tahun). Saya mendesak pada suami untuk menjual rumah kami, dengan niat untuk melaksanakan ibadah haji. Akan tetapi suami saya ragu, karena apabila itu dijual, kami tidak mempunyai sesuatu/bekal untuk anak kami. Saya berkeyakinan… pasti Allah akan memberikan rezeki lain untuk anak kami dan saya tidak khawatir menjadi tidak punya apa-apa, karena pasti Allah akan memberikan gantinya.. Kami berdua bekerja… Tolong diberikan solusinya.. apakah salah niat saya menunaikan ibadah haji dengan menjual satu-satunya milik kami.. kami belum mempunyai kendaraan. kalaupun kami menggunakan kendaraan, itu adalah milik orang tua saya. Mohon diberikan doa apa yang harus saya amalkan.. agar Allah SWT berkenan mengundang saya dan suami untuk dapat menunaikan ibadah haji. Terimakasih sebelumnya. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Rini Isroni

Jawab

Waalaikumussalam,

Mohon maaf barangkali sangat terlambat. Kami kebanjiran pertanyaan2, sehingga kerepotan menjawabnya.

1) Haji hanya wajib bagi mereka yang mampu. “mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah”, (QS. 3:97)

Mampu artinya adalah memiliki harta yang melebihi untuk kehidupan yang layak. Anjuran Islam pertama kali adalah agar umatnya hidup dalam keadaan layak. Setelah ini terpenuhi, baru mereka berkewajiban haji.

Kata Nabi Muhammad, seorang mukmin yang kuat lebih disenangi oleh Allah ketimbang mukmin yang lemah. Banyak muslim Indonesia yang menjual tanahnya, atau hewan ternaknya demi berangkat haji, sementara kehidupannya sendiri belum bisa dikatakan layak. Banyak mereka yang sebetulnya masih membutuhkan biaya untuk pendidikan anaknya.

Hal-hal demikian ini tidak dibenarkan. Karena itu, jika Ibu dan keluarga membutuhkan rumah itu untuk biaya pendidikan putra/i Ibu, maka rumah tsb. jangan dijual. Haji yang mabrur selalu dimulai dari cara yang benar. Menjual rumah yang dibutuhkan untuk kehidupan yang layak, termasuk biaya untuk anak-anak, adalah cara yang tidak benar.

2) Untuk mendekatkan diri kepada Allah masih banyak jalannya. Memang haji adalah diantara jalan yang mulia, tapi ia tidak bisa ditempuh dengan cara yang tidak benar. Sungguh mulia niat Ibu. Saya percaya Allah akan membalas niat Ibu seperti mereka yang telah melaksanakan ibadah haji. Kata Nabi Muhammad, barang siapa berniat melakukan amal baik, dan ia tidak mengerjakannya maka Allah telah mencatatnya sebagai perbuatan baik. Demikian, semoga membantu.

Wassalam,

Abdul Ghofur Maimoen

Dewan Asaatidz PesantrenVirtual

Info Haji: DPR Beri Lampu Hijau Rencana Kenaikan Biaya Ibadah Haji

Tuesday, May 23rd, 2006

Sumber: detikcom, 23 Mei 2005
M. Rizal Maslan - detikcom

Jakarta - Pemerintah berencana menaikkan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) - dulu Ongkos Naik Haji (ONH) - tahun ini. DPR sepertinya memberikan lampu hijau terhadap rencana ini. Rencana kenaikan BPIH ini akan dibahas Komisi VIII DPR dengan Menteri Agama Maftuh Basyuni malam ini.

“Ini (kenaikan BPIH) menjadi persoalan yang akan dibahas di Komisi VIII nanti malam. Dan DPR ’setuju’ dengan kenaikan BPIH ini,” kata Keuua Komisi VIII DPR Hasrul Azwar di sela-sela menjadi pembicara dalam ‘Seminar Manajemen Penyelenggaran Haji Indonesia’ yang digelar Koperasi Haji Indonesia (KHI) di Hotel Sari Pan Pacific, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (23/7/2006).

Informasi yang didengar Hasrul, BPIH tahun ini akan naik menjadi US$ 2.800 ditambah komponen dalam negeri Rp 830 ribu. Kenaikan BPIH ini terutama untuk meningkatkan kualitas pemondokan di Makkah dan Madinah, Arab Saudi.

Menurut Hasrul, ada dua persoalan penting dalam penyelenggaran haji, yaitu kendala yang dihadapi di dalam negeri dan luar negeri. Masalah di dalam negeri dapat diselesaikan oleh antardepartemen. Sementara urusan luar negeri, masalah penerbangan dan pemondokan menjadi faktor yang paling penting.

Saat ini, biaya penerbangan yang dilakukan Garuda Indonesia untuk haji cukup mahal. “Kita tidak memiliki armada yang kuat. Garuda tidak memiliki pesawat yang banyak, sehingga harus sewa dan itu sangat mahal. Kita menjadi ditentukan dan menjadi objek,” ujar politisi dari Fraksi PPP ini.

Selama ini, kata Hasrul, Garuda menyediakan pesawat untuk jamaah haji dengan jalan menyewa dari maskapai dari Australia, Kanada, dan sejumlah negara lain. “Pesawat Garuda terbatas. Untuk jenis Boeing 747 hanya ada 4-5 buah. Padahal, untuk satu hari di musim haji, akan ada 12 flight,” kata dia. Garuda, kata Hasrul, mengaku mendapat untung Rp 28 miliar setiap musim haji.

Selain penerbangan, masalah pemondokan di Arab Saudi juga sangat pelik. “Ini memang sulit untuk menyiapkan pemondokan bagi 250 ribu orang sekaligus. Persoalan ini merupakan persoalan utama yang harus diselesaikan, karena semua calon jamaah berharap memiliki pemondokan yang dekat Masjidil Haram di Mekkah atau Masjid Nabawi di Madinah,” kata dia.

Hasrul mengaku saat menjadi tim pengawas haji DPR musim haji kemarin, dirinya melihat ada pemondokan jamaah haji dari kloter SOlo yang sangat memprihatinkan. “Lantainya harus disiram air terlebih dulu sebelum dipakai, karena ternyata di bawahnya pabrik roti. Pemondokan seperti ini tidak layak,” ujar dia.

Hasrul mendukung langkah Menteri Agama untuk mengubah kebijakan soal pemondokan yang selama ini dilakukan dengan sistem undian. Dengan kebijakan baru nanti, maka pemondokan jamaah haji akan diupayakan lebih dekat dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, meski dengan biaya yang bertambah gemuk. “Sepertinya jamaah tidak mempermasalahkan harga mahal, asal ada AC, box safety, dan dekat dengan Masjidil Haram dan Nabawi,” jelas dia. (asy)

Rangkuman Berita tentang Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2006

Tuesday, May 23rd, 2006

Banyak pembaca yang menulis dan bertanya kepada kami tentang informasi Ongkos Naik Haji (ONH) atau saat ini dikenal sebagai Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2006. Berhubung informasi yang kami himpun belum tuntas dan akurat, dan pemerintah juga belum menetapkan angka resmi BPIH tahun ini, kami menunda hingga kami mendapat data-data dan informasi yang lengkap. Tapi kami rasa informasi rangkuman informasi berikut dapat kami bagi kepada pembaca semua.

Ongkos Naik Haji Kemungkinan Naik

Sumber: Kompas, Jakarta, Selasa
http://www.kompas.com/utama/news/0605/10/011918.htm

Komisi VIII DPR RI dan Departemen Agama (Depag) menyepakati Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) sebesar 1.145,73 dolar AS dan Rp830.000 per jemaah, namun biaya itu belum termasuk komponen penerbangan yang komposisinya mencapai 45 persen dari BPIH dan living cost (biaya hidup di tanah suci).

“Kami sudah tawar-menawar dengan Garuda, Saudi Arabian Airlines, bahkan Air Asia, tetapi tetap belum ada keputusan, mereka tak mau lagi menurunkan tarifnya. Kementerian BUMN belum menjawab,” kata Menteri Agama Maftuh Basyuni di depan Komisi VIII DPR RI di Jakarta, Selasa (9/5) malam.

Komponen BPIH sebesar 1.145,73 dolar AS dan Rp830.000 itu terdiri atas biaya langsung (direct cost) sebesar 1.127.07 dolar AS dan Rp457.913 serta biaya tidak langsung (indirect cost) 18,67 dolar AS dan Rp363.869,26 dan program public relation Rp13.216,84. Angka itu juga belum termasuk living cost 1.500 Riyal (400 dolar AS), juga freeseat 11,15 dolar AS dan safeguarding sebesar satu persen dari BPIH.

Tahun lalu, BPIH untuk zona I sebesar 2.632,44 dolar AS, zona II
2.732,44 dan zona III 2.842,44 dolar AS dan komponen dalam negeri Rp722.327 untuk ketiga zona, namun angka itu sudah termasuk komponen penerbangan dan living cost.

Dengan demikian tarif BPIH 2006/1427H kemungkinan naik lebih dari 100 dolar jika angka tersebut memasukkan living cost dan komponen penerbangan seharga tahun lalu.

Dikatakan Menag, pihaknya telah meminta tarif penerbangan kepada Garuda minimal seperti tahun lalu yakni zona I (Aceh, Medan, Batam) sebesar 1.235 dolar AS, zona II (Jakarta, Solo, Surabaya) 1.335 dan zona III (Makassar, Banjarmasin, Balikpapan) 1.435 dolar AS.

Namun demikian, Garuda tak bersedia menurunkannya dan bertahan dengan tarif 1.279 dolar AS untuk zona I, 1.379 untuk zona II dan 1.479 dolar AS untuk zona III dengan alasan naiknya harga BBM, ujarnya.

“Untuk menurunkan tarif komponen penerbangan bahkan pihaknya telah menawar Air Asia, namun harga final yang bisa diberikan Air Asia rata-rata 1.463 dolar AS, malah lebih mahal dari Garuda,” katanya.

Sementara itu, Komisi VIII DPR RI meminta Depag terus bernegosiasi dengan PT Garuda Indonesia dan Saudia Arabian Airlines untuk menurunkan harga komponen penerbangan dalam BPIH.

Hal ini karena sekarang ini dolar sudah turun menjadi Rp8.700 per dolar AS, bandingkan dengan kurs dolar tahun lalu sebesar Rp9.500, jadi seharusnya tarifnya turun, kata anggota DPR Zulkarnain Jabar.

Info Haji: Menag Terbitkan SK Tetapkan Porsi Haji 2006

Tuesday, May 23rd, 2006

Sumber: http://www.humasdepag.or.id/anunce_isi.php?AnunceID=71

Jakarta (MCH)–Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni melalui Surat Keputusan Nomor 290 tahun 2006, tentang penetapan porsi jemaah haji Indonesia 2006, terdiri dari 189.000 orang jemaah haji biasa dan 16.000 orang jemaah haji khusus.

Dalam keputusan ini, selain diatur soal porsi haji bagi jemaah, juga diatur porsi bagi petugas haji daerah yang terdiri dari Tenaga Pembimbing Haji Daerah (TPHD) dan Tenaga Kesehatan Haji Daerah (TKHD).

Terdapat 32 propinsi yang memperoleh porsi haji adalah Nanggroe Aceh Darussalam 3.558 orang, terdiri 3.525 jemaah dan 33 orang petugas. Sumatera Utara 8.050 orang, terdiri 7.997 jemaah dan 53 orang petugas. Sumatera Barat 4.347 orang, terdiri 4.318 jemaah dan 29 orang petugas. Riau 4.995 orang, terdiri 4.962 orang jemaah dan 33 orang petugas. Jambi 2.606 orang, terdiri 2.589 jemaah dan 17 orang petugas. Sumsel 6.290 orang, terdiri 6.249 jemaah dan 41 orang petugas. Bengkulu 1.596 orang terdiri 1.585 jemaah dan 11 orang petugas. Lampung 6.216 orang, terdiri 6.175 orang jemaah dan 41 orang petugas. Bangka Belitung 904 orang, terdiri 898 orang jemaah dan 6 orang petugas. Kepulauan Riau 982 orang, terdiri 975 orang jemaah dan 7 orang petugas.

DKI Jakarta 7.012 orang, terdiri 6.966 orang jemaah dan 46 orang petugas. Jawa Barat 37.227 orang, terdiri 36.979 orang jemaah dan 248 orang petugas. Jawa Tengah 29.363 orang, terdiri 29.092 orang jemaah dan 271 orang petugas. DI Yogyakarta 3.059 orang, terdiri 3.031 orang jemaah dan 28 orang petugas. Jawa Timur 33.810 orang, terdiri 33.585 orang jemaah dan 225 orang petugas. Banten 8.451 orang, terdiri 8.395 orang jemaah dan 56 orang petugas.

Bali 207 orang, terdiri 206 orang jemaah dan 1 orang petugas. NTB 4.446 orang, terdiri 4.416 orang jemaah dan 30 orang petugas. NTT 417 orang, terdiri 414 orang jemaah dan 3 orang petugas. Kalbar 2.314 orang, terdiri 2.299 orang jemaah dan 15 orang petugas. Kalteng 1.335 orang, terdiri 1.323 orang jemaah dan 12 orang petugas. Kalsel 3.461 orang, terdiri 3.429 orang jemaah dan 32 orang petugas. Kaltim 2.790 orang, terdiri 2.764 orang jemaah dan 26 orang petugas.

Propinsi Sulut 627 orang, terdiri 621 orang jemaah dan 6 orang petugas. Sulteng 1.740 orang, terdiri 1.724 orang jemaah dan 16 orang petugas. Sulsel 6.826 orang, terdiri 6.763 orang jemaah dan 63 orang petugas. Sultra 1.660 orang, terdiri 1.645 orang jemaah dan 15 orang petugas. Gorontalo 881 orang, terdiri 873 orang jemaah dan 8 orang petugas. Maluku 608 orang, terdiri 602 orang jemaah dan 6 orang petugas. Maluku Utara 972 orang, terdiri 963 orang jemaah dan 9 orang petugas. Papua 822 orang, terdiri 814 orang jemaah dan 8 orang petugas. Sulawesi Barat 1.428 orang, terdiri 1.415 orang jemaah dan 13 orang petugas. Porsi haji biasa seluruhnya 189.00 orang, untuk jemaah 187.592 orang dan untuk petugas daerah 1.408 orang. (ts)

Persiapan Spiritual: Antara Panggilan dan Kemantapan

Tuesday, May 23rd, 2006

Dalam tulisan tentang topik persiapan haji, saya telah menyinggung beberapa hal yang selayaknya diperhatikan bagi setiap orang yang akan menunaikan ibadah haji. Persiapan itu meliputi: persiapan dana atau biaya, persiapan fisik, dan persiapan mental atau spiritual. Dua tulisan sebelumnya sudah membahas (kurang lebih) dua hal pertama. Kali ini kita coba mengapa persiapan mental atau spiritual itu penting sebelum menunaikan ibadah haji.

Sebelumnya, saya ingin mohon maaf kepada pembaca sekalian. Ternyata, memberi pengantar tentang kesiapan mental atau spiritual sungguh sangat sulit. Hal inilah yang mendorong saya terus menunda untuk menulis hal ini. Hingga tak terasa beberapa bulan berjalan.

Tapi hari ini, dengan niat yang mantap, saya coba menuliskan apa yang saya bisa. Biarpun saya tidak yakin diri ini pantas untuk memberi pengantar tentang hal ini, tapi saya memohon kerelaan dan maaf dari pembaca semua, semoga tulisan ini bisa memberi manfaat. Dan bila ada kekurangan, ini adalah kepunyaan penulis semata.

Alasan Belum Mantap atau Belum Cukup Umur

Banyak orang bilang, “Saya tidak berani menunaikan ibadah haji terlebih dahulu. Belum mantap!” Ada juga yang bilang, “Saya masih terlalu muda, nanti lah (naik haji) kalau sudah cukup umur.”

Selalu begitu alasan-alasan kita, bukan? Apa yang belum mantap? Kita pasti tahu, mantap dalam pengertian ini adalah keyakinan bahwa spiritual dan mental belum cukup mantap untuk menunaikan haji. Lebih gampangnya, kita juga pasti merasa, keimanan kita belum tertata dengan baik sehingga tidak yakin bisa menjalani ibadah haji dengan mantap.

Lalu belum cukup umur. Pertanyaan saya, adakah aturan dalam Islam yang mengatakan bahwa haji hanya diperuntukkan bagi orang yang cukup umur? Berapa umur yang pantas untuk naik haji? Empat puluh tahun? Limah puluh tahun? Ataukah enam puluh tahun?

Tentang Iman

Mari kita coba telaah. Pertama, siapa bisa mengukur iman?

Kalau menurut Islam, ada beberapa hal yang dikategorikan sebagai tolak ukur keimanan seseorang, percaya kepada Allah, malaikat, rasul, kitab-kitab, hari akhir, dan takdir.

Tapi bagaimana bentuk dan ukuran iman, terus terang tidak ada penjelasannya. Memang ada beberapa tuntunan dan indikator, tapi itu tidak berbicara dan tidak bisa menjadi tolak ukur. Dan sesungguhnya, saya pribadi percaya, yang tahu keimanan seseorang tentu saja hanya Allah.

Apakah seseorang tidak tahu keimanan dirinya? Kalau boleh ditanyakan, bagaimana Anda mengukur kadar keimanan Anda hari ini? Apakah hari ini cenderung menguat, seperti suhu global, atau kali ini cenderung menurun seperti jatuhnya nilai Rupiah terhadap Dolar AS? Tidak pernah ada alat pengukur keimanan. Belum pernah ada yang menjual termometer keimanan. Dan tidak ada lembaga pengukur keimanan.

Jadi, kalau dibuat statistiknya, keimanan seseorang ada naik turunnya. Spiritualisme diri kita ada naik turunnya.

Kalau kita memutuskan naik haji tahun depan, mungkin kita takut ketika di tanah suci, kondisi spiritual kita sedang rendah banget. Kita takut ibadah kita kurang bermutu. Kita takut tidak bisa khusyuk. Dan banyak ketakutan lainnya, begitu? Apakah ini yang menjadi alasan kita untuk menunda-nunda panggilan mulia ini?

Kalau menurut saya, dengan pemahaman diri dan ketakutan terhadap keimanan diri sendiri tersebut, justru Anda dalam kondisi yang tepat. Menurut saya, keimanan seseorang yang paling sempurna adalah orang yang selalu introspeksi terhadap dirinya. Seseorang yang senantiasa tidak puas bahwa dirinya belum sempurna “bersimpuh”, belum sempurna “mengabdi” kepada Allah, belum sempurna “menjadi penyembah” Tuhan, inilah kondisi ideal iman seseorang. Seseorang yang puas diri bahwa dirinya sangat beriman kepada Allah sesungguhnya adalah orang yang takabur. Seseorang yang senantiasa takut dan merasa dirinya rendah di hadapan Allah adalah seseorang yang memahami hakikat keimanannya.

Jadi, kalau diri Anda merasakan perasaan dan keyakinan semacam di atas, kerendahdirian Anda sesungguhnya saat yang tepat untuk memulai menjawab panggilan mulia ini.

Beribadah haji adalah ibadah yang indah. Di tempat yang mulia dan suci itu, Anda pasti dapat merasakan kenikmatan indah untuk berdoa dan memuji Allah Tuhan Pengasih dan Penyayang.

Cukup Umur

Kemudian tentang umur. Pertanyaan sederhana ini mungkin bisa menjawab keraguan Anda, apakah dengan umur yang lebih tua Anda yakin keimanan dan spiritualisme Anda lebih bagus kondisinya dari saat ini? Apakah sepuluh tahun mendatang ibadah salat Anda lebih khusyuk dari saat ini? Apakah ketika berusia lima puluh tahun Anda yakin jiwa lebih tenang dan mantap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini?

Bila jawaban Anda tidak, saatnyalah Anda bergegas memantapkan diri. Bila tabungan sudah cukup, segera ungkapkan niat Anda kepada keluarga dekat Anda, entah pada istri, orang tua, anak. Dukungan moril dari seluruh keluarga akan menjadi pendorong yang sempurna bagi kesiapan ibadah menunaikan panggilan suci ini.

Akhir kata, semoga kita menjadi manusia-manusia yang setiap saat selalu sadar bahwa kita adalah makhluk-makhluk yang tidak punya kekuasaan apa-apa di hadapan Allah. Kekayaan, usia, dan anak-anak kita sesungguhnya bukan milik kita. Semuanya dapat kembali diambil-Nya. Saatnyalah memantapkan panggilan hati, memuliakan dan memuji, menjadi penyembah Allah sejati.