Tahun Depan Jemaah Haji Indonesia Dapat Jatah Makan di Mekkah

Sumber: Republika, Rabu, 22 Februari 2006 7:03:00
Tahun Depan Jemaah Haji Indonesia Dapat Jatah Makan di Mekkah

Jakarta-RoL– Tahun depan jemaah haji Indonesia diusulkan akan mendapat jatah makan, tidak saja di Madinah, tetapi juga selama 20 hari di Mekkah, namun konsekuensinya uang “living cost”-nya (uang biaya hidup selama di tanah suci) juga dikurangi.

“Untuk makan di Mekkah senilai tujuh Riyal per porsi dikali dua kali makan selama 20 hari akan mengurangi uang living cost jemaah sebesar 280 Riyal,” kata Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji Depag Slamet Riyanto dalam Rapat Kerja dengan komisi VIII DPR RI yang dihadiri Menag Maftuh Basyuni di Jakarta, Selasa malam.

Jemaah haji sejak dua tahun terakhir mendapat makan selama menjalankan ibadah arbain delapan hari di Madinah, namun selama tinggal di Mekkah jemaah mencari sendiri makanannya dengan bekal uang living cost 1.500 Riyal. Slamet juga mengatakan, pengurangan uang living cost rencananya juga dilakukan bagi peningkatan plafon harga perumahan sebesar 450 Riyal per jemaah, dari pondokan seharga 1.550 Riyal menjadi 2.000 Riyal per jemaah.

Karena plafonnya selama ini rendah, kebanyakan pondokan jemaah haji Indonesia juga buruk kondisinya dan jauh dari Masjidil Haram. “Dengan demikian living cost 1.500 Riyal dikurangi makan di Mekkah 280 Riyal dan peningkatan plafon harga rumah 450 Riyal menjadi 730 Riyal,” katanya. Jadi jemaah, ujarnya, masih mendapat uang living cost sebesar 770 Riyal.

Dalam kesempatan itu, Slamet juga mengatakan bahwa ke depan Bank Penerima Setoran Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) hanyalah Bank Syariah dan hanya akan dipilih dua atau tiga bank saja agar lebih efisien. Pihaknya juga akan mengkaji jasa giro yang diberikan kepada jemaah apakah tetap diberikan kepada jemaah atau dikembalikan kepada umat melalui Dana Abadi Umat (DAU). antara/mim

Artikel diambil tanpa ijin dari:
http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=236326&kat_id=361

11 Responses to “Tahun Depan Jemaah Haji Indonesia Dapat Jatah Makan di Mekkah”

  1. Tuti Nani Suryo Says:

    Ass.wr.wb.,
    Mohon informasi keadaan cuaca pada musim haji Desember 2006 di Mekkah dan Medinah.
    Atas pehatian dan tanggapannya saya mengucapkan terima kasih.
    wass. wr.wb,
    Tuti Nani Suryo
    Telp. : 62 21 5245145

  2. al Faqir Says:

    DINGIN BU,
    di madinah sampai 8-10 derajat

    di makkah antara 9-11 derajat

    alhamdulillah,

  3. al Faqir Says:

    Tolong,
    JANGAN SEKALI-KALI MAKAN UANG JAMA’AH DENGAN CARA TAK HALAL, DOSA !!!!!!!!!

    JANGAN PUNGLI, WAHAI SAUDARA-SAUDARA DI DEPAG

    JANGAN KASIH MAKAN ANAK ISTRIMU DENGAN UANG HARAM
    JANGAN KASIH API NERAKA ANAK ISTRIMU …..

    INGAT KORUPSI ITU DOSA !!!!!

    RAKYAT, AWASI DAN TANGKAP SAJA PELAKU PUNGLI BAGI CALON HAJI KHUSUSNYA DI DAERAH.

    MENTERI AGAMA HARUS AKTIF DONG NGAWASINYA

  4. iqbal Abdul Jabbar Says:

    emang selama ini jamaah haji maknnya setip hari dari mana??
    Iya klu makanannya cocok buat jamaah haji nanti yan ditanggung penyediannya
    klu selera maknnya berbeda kan ongkos makan segitu jadi mubazir buat mereka
    pemerintah jangan memberatkan dan mambuat keputusan dengan mengambil keuntungan dari situ donggggggggg

  5. 4N0N1M Says:

    kalau pengalaman saya dulu ikutan haji biasa (bukan plus) melalui satu KBIH, makan selama di mekkah maupun madinah berasal dari katering lokal. ini memang kesepakatan jemaah haji dengan KBIH, apakah makan melalui katering (katering dicarikan oleh KBIH dan living cost diserahkan ke KBIH) atau setiap jamaah mencari makan sendiri2.

    Ada plus minusnya masing makan dengan katering atau makan cari sendiri. Pertimbangan kami dulu memilih katering agar kami bisa lebih konsen kepada kegiatan ibadah dan tidak disibukkan dengan aktivitas mencari/membuat makanan (belanja, memasak). Menurut saya pribadi, relatif sulit untuk mencari makanan siap-santap di mekkah yg benar2 sesuai dengan lidah orang indonesia. Yg tidak sulit adalah mencari bahan2 makanan; di sana relatif mudah didapat. Cuman gak semua jamaah haji bisa masak kan? Kalau pengalaman mertua saya dulu, memasak sendiri jauh lebih hemat daripada beli makanan jadi.

  6. Sukamto Says:

    Saya setuju bila jamaah haji indonesia dengan ONH biasa mulai tahun ini mendapatkan makan/ sistim katering di mekah-medinah sehingga para jamaah akan lebih konsen ibadahnya dan tak terlalu repot-repot jajan diluar atau masak sendiri. hanya saja perlu dipertimbangkan besar biayanya dengan biaya yang tidak boros dan berpihak pada keuntungan para jamaah, bukan dipergunakan untuk keuntungan dan kepentingan lain. Penyelenggara haji harus mempunyai jiwa dan pemikiran bahwa mengkorup harta jamaah haji adalah perbuatan tercela dan hina dihadapan Allah.
    Semoga sukses, lancar.aman dan penuh barokah. Amiin. terima kasih

  7. eddy Says:

    Saat di Mekkah pada musim haji yang lalu, saya dan beberapa jamaah sangat menikmati berlama-lama di masjidilharam. Jadi jarang makan di pemondokan sebab di seputar masjid banyak dijumpai rumah makan dengan menu Indonesia atau yang bisa kita sesuaikan dengan lidah kita, misalnya fried chicken (broast) dsb.
    Selain itu kami tinggal di Misfalah Kuday yang jaraknya k.l 2,5 km, jadi sangat beralasan kalau jarang pulang. Nah, kalau demikan, tentunya jadi mubadzir makanan yang akan disediakan oleh Depag tsb.

  8. Muhammad Says:

    Persiapan apa yang urgen dalam pelaksanaan ibadah haji? trus ..berapa ONH tahun 1427 H mendatang? saya tunggu jawabanya, trims.

  9. jamaal Says:

    jangan - jangan dengan menambah jatah makan (memperpanjang lama jatah makan) akan menambah peluang untuk koprupsi baru ???

    Biarlah seperti kemarin kemarin aja pak. sebab jamaah kita banyak yang suka berlama - lama di makkah. Apalagi nyari makanan disana mudah….

    hidup depag…. jangan jadi ajang korupsi. dosa lho pak….

  10. Legiman Misdiyono Says:

    Ass. Wr. Wb. Mohon informasi, menurut perkiraan terakhir, cuaca di Madinah dan Makkah pada pelaksanaan ibadah haji Desember 2006 berapa derajat? Wass. Wr. Wb

  11. H. Raja Ahmad Ismail Says:

    Maaf, jangan bilang Jema’ah dapat jatah makan, Mas Slamet.
    Karena kenyataannya uang mereka juga yang dipotong ( alias jatah bayar bukan gratis ). Ini sama juga dengan membohongi umat.
    Seharusnya pemerintah dapat mencari dan menghilangkan pos-pos anggaran lainnya yang tidak perlu, untuk dapat menyediakan makan gratis untuk jamaah haji kita. Mungkin juga dapat diambil dari uang DAU ( Dana Abadi Umat ) yang dikumpulkan selama ini dari penyelenggaraan haji dan umrah ( entahlah kalau DAUnya juga sudah habis dikorupsi ). Atau mungkin fee-fee yang diperoleh dari penyelenggara haji dan umrah swasta. Atau menekan maskapai penerbangan yang biasa mengangkut jamaah haji ( dalam hal ini Garuda atau Saudi Arabia) untuk menurunkan harga tambang pesawat ( kecuali kalau pemerintah tidak punya nyali atau keberanian untuk berbuat begitu - wallahu a’lam ). Atau membuka peluang kepada penerbangan swasta lainnya dengan jalan mengadakan tender terbuka untuk angkutan haji.
    Setiap perbuatan kita selalu akan dimintakan pertanggung jawabannya di Yaumil Akhir. Wassalam.

Leave a Reply