Persiapan Fisik: Usia, Kesehatan, dan Logistik

Logistik

(Persiapan Fisik Naik Haji, halaman empat dari empat halaman)

Hal terakhir adalah logistik. Logistik yang saya maksud adalah persiapan dan kelengkapan untuk menunaikan haji, termasuk obat-obatan di atas, makanan, minuman, dan rencana kelengkapan ibadah.

Rombongan haji saya dulu adalah contoh yang lucu dan unik dalam hal ini. Karena jamaah dari kampung, sudah dikenal mereka membawa banyak sekali logistik yang dibawa dari tanah air, termasuk: beras, kopi, teh, rempah-rempah, bumbu-bumbuan, kecap, saos. Begitu juga peralatan memasak, semua dibawa dari tanah air. Saya ingat, saat itu saya membawa beras 10kg yang dibungkus di dalam cirigen air 10 liter. Rencananya, setelah beras dihabiskan, cirigen itu bisa diisi dengan air zam-zam untuk oleh-oleh orang di rumah. Tentu saja semua bawaan ini tidak boleh melebihi kapasitas bagasi yang diijinkan oleh penerbangan. Dan alhamdulillah semua berjalan lancar tidak kurang suatu apa pun juga.

Dalam ibadah inti haji, seluruh jamaah haji bergerak secara massal ke tiga tempat utama pelaksanaan ibadah haji, yakni Muzdalifah, Mina dan Arafah. Tempat-tempat tersebut terletak di luar kota Mekkah yang jaraknya sekitar 5km hingga 7km. Untuk menuju ke berbagai tempat itu, pemerintah Saudi menyediakan sarana angkutan bus umum yang diatur per negara dan per kelompok. Namun, karena saking banyaknya jamaah, sering terdengar cerita bus yang macet hingga berjam-jam bahkan dari malam hingga pagi tiba. Padahal pada paginya harus dilaksanakan ibadah lanjutan. Misalnya, setelah mencari batu di Muzdalifah, jamaah harus bergerak untuk mabit di Mina, dan esok harisnya harus menuju Arafah, dan seterusnya. Contohnya setelah selesai Wukuf di Arafah, jamaah harus segera bergerak untuk mabit (mampir sebentar di Muzdalifah) guna mencari batu kecil untuk jumrah, kemudian bergerak ke Mina untuk melempar jumrah di hari-hari tasyriq.

Seluruh perjalanan itu sangat melelahkan. Kalau persiapan logistik kurang memadai, bisa-bisa batin tersiksa dan ibadah Wukuf yang merupakan inti haji jadi kurang khusyuk.

Khususnya tentang makanan. Kalau di Mekkah, jamaah bisa masak dan berbelanja sayur-mayur di dekat lokasi penginapan. Di Mina dan Arafah lain keadaannya. Dua tempat ini pada hari biasa adalah padang kosong, maka tidak ada penduduk lokal atau pendatang yang berjualan makanan pada umumnya. Ada penjual, itu pun makanan dan minuman instan atau cepat saji, dan harganya selangit. Sebenarnya pihak pemerintah Saudi sudah menyediakan katering makanan, namun menurut pengalaman berbagai jamaah haji, makannya sangat tidak layak. Selain rasanya yang kurang cocok di lidah Indonesia, biasanya dari daging onta dan bumbu kering, rasanya cukup eneg dan hambar, menunya juga tidak bervariasi, sehingga jamaah kebanyakan hanya menghabiskan buah-buahan saja.

Begitu pula persiapan untuk kegiatan-kegiatan inti haji. Persiapan makanan mendapat perhatian yang serius dari rombongan jamaah haji kami saat itu. Untuk ibadah Wukuf ini, rombongan kami secara khusus memasak Sambal Bajak, sambel ala Jawa Timuran yang terbuat dari tomat dan trasi. Sambal ini dikenal enak, mudah dimasak, dan tahan lama. Jadi kira-kira empat-lima hari cukup tahan lah.

Maka dengan bekal Sambel Bajak itulah kami bertahan hidup nyaman ketika beribadah inti haji. Bahkan beberapa orang dari rombongan lain yang tergiur dengan kesigapan kami jadi ikut mencicipi dan sambil bercanda, mereka bilang, “Tahu begini, kalau saya diberi rejeki bisa naik haji lagi, saya akan bawa Sambel Bajak yang banyak. Ternyata makan daging onta sangat tidak enak!”

* * *

Akhir kata, tentu saja cerita di atas hanya sebuah contoh untuk gambaran bahwa persiapan fisik ibadah haji adalah hal serius. Macam-macam cara bisa dilakukan, baik dengan membawa makanan dan masakan sendiri, atau dengan cara lain yang mungkin lebih praktis dan mudah.

Namun pada intinya, kalau fisik sehat, makanan cukup, dan istirahat memadai, ibadah haji tentu akan bisa dilaksanakan dengan tenang, nyaman, dan khusyuk. Lebih-lebih kalau bisa melaksanakan berbagai ibadah sunnah lainnya.

[]

SELESAI.

Pages: 1 2 3 4

4 Responses to “Persiapan Fisik: Usia, Kesehatan, dan Logistik”

  1. 4N0N1M Says:

    Anda menulis gini:
    “…Misalnya, setelah mencari batu di Muzdalifah, jamaah harus bergerak untuk mabit di Mina, dan esok harisnya harus menuju Arafah, dan seterusnya.”

    Apa ada kesalahan tulis, ya? Sejauh yg saya tahu urutan wajib haji adalah:
    1. Berihram dari miqot.
    2. Wuquf di Arafah
    3. Mabit di Muzdalifah
    4. Mabit di Mina pada malam-malam hari tasyriq.
    5. Melempar jumrah pada hari-hari tasyriq.
    6. Mencukur rambut
    7. Thawaf Wada’.

    Kalau ditambah dengan sunnah nabi dulu, di mana pada hari Tarwiyah (8 Zulhijjah) jamaah haji bermalam dulu di Mina, maka seharusnya urutan tempat sesuai prosesi haji adalah:
    “Miqot-Arafah-Muzdalifah-Mina-Mekkah”

    Sementara, kalau dilihat dari letak geografis, urut-urutan lokasi adalah:
    “Mekkah-Mina-Muzdalifah-Arafah”.

    Oleh karena itu tidak heran karena keadaan sekarang yg berbeda dengan jaman nabi dulu di mana jumlah jamaah haji sekarang sudah 3 juta-an, maka prosesi mabit di Mina pada hari Tarwiyah diganti (diringankan) dengan cukup melewati Mina saja. Entah kebetulan atau tidak, pada saat kita menuju ke Arofah untuk wuquf, para jamaah haji dipastikan akan melewati Mina.

  2. 4N0N1M Says:

    Saya setuju dengan Anda, betapa hebatnya gelombang arus orang2 yg mendekati jamarat ataupun meninggalkan jamarat.

    Saya ingat dengan pengalaman saya dulu saat jumroh Aqobah. Saat itu saya tidak sadar (dan sama sekali tidak sadar) bahwa saya sangat dekat dengan ajal. Saat itu pembimbing haji saya mengatur bahwa yg melempar jumroh Aqobah (kebetulan di lantai bawah) adalah yg laki-laki dulu (termasuk saya). Dengan segala tenaga yg ada, saya sama sekali tidak bisa menahan kekuatan himpitan arus dari belakang saya, padahal gerak maju arus orang2 di depan saya sendiri berjalan dengan pelan sekali. Akibatnya tentu orang2 akan saling berhimpitan satu sama lain TANPA BISA BERBUAT APA-APA!

    Selesai dari melempar jumroh Aqobah di lantai bawah, saya dan rombongan saya yg laki2 gantian mengawal rombongan jamaah wanita untuk lempar jumroh. Karena melihat keadaan yg “LUAR BIASA” padat, maka oleh pembimbing haji kami, rombongan kami diperintahkan untuk pindah lempar jumroh di lantai atas. Saat itu rombongan kami belum menyadari keadaan di lantai atas yg “aneh” antara lain: tidak ada sama sekali jamaah haji lain yg ada di depan kami, yg ada adalah tumpukan sampah berupa sandal, pakaian ihrom, dll yg tingginya kira2 30cm mulai dari tempat kami berdiri sampai di dekat jamarat Aqobah (sehingga untuk berjalan tegak saja kami susah karena adanya tumpukan sampah ini, walaupun praktis keadaan di lantai atas sepi sekali).

    Saya baru sadar bahwa saya baru saja lolos dari kematian setelah mendengar berita bahwa beberapa saat sebelumnya telah terjadi peristiwa injak-menginjak di atara jamaah haji di lantai atas yg mengakibatkan sekitar 300 jamaah tewas. Rombongan kami-lah yg diijinkan pertama kali oleh asykar Saudi untuk bisa lempar jumroh di lantai atas setelah tragedi tersebut.

    Makanya, kalau ada orang bilang bahwa ibadah haji sebenarnya dekat dengan kematian adalah benar adanya.

  3. Arif Widianto Says:

    Buat pak 4N0N1M,

    Terima kasih atas koreksinya. Saya salah menulis urutan tempat tersebut. Dengan ini, kesalahan saya perbaiki langsung di tulisan di atas.

    Terima kasih atas masukannya.

    NB: Apakah Anda jamaah haji 2006, kok ada cerita korban 300 jamaah haji?

  4. 4N0N1M Says:

    Bukan Mas Arif, kebetulan saya tahu bahwa tanggal 1 Februari 2004 (10 Zulhijjah 1424) juga ada tragedi saling menginjak di jamarat Aqobah, korban tewas sekitar 300 orang (hampir 40 orang korban dari Indonesia)

Leave a Reply