Persiapan Fisik: Usia, Kesehatan, dan Logistik

Kesehatan

(Persiapan Fisik Naik Haji, halaman tiga dari empat halaman)

Hal kedua dalam persiapan fisik adalah masalah dasar, yaitu menjaga kesehatan.

Untuk naik haji, selain membawa perlengkapan jaga-diri pada umumnya seperti sabun mandi, pasta gigi, sikat gigi, shampo, perangkat pembersih lain, jangan lupa mempersiapkan peralatan untuk jaga-kesehatan. Bisa saja Anda berniat membeli di Arab Saudi, tapi tentu harus disiapkan dana yang lebih untuk menyesuaikan harga di sana.

Anda tentu harus membawa obat-obatan umum, disamping vitamin dan mineral agar badan Anda sehat. Obat-obatan umum diantaranya adalah obat flu, obat sakit kepala, sirup obat batuk hitam, balsem-balseman, minyak kayu putih, penyegar tenggorokan (inhaler), salep kulit, pelembab bibir. Tidak salah juga untuk membawa vitamin dan mineral agar badan Anda prima. Juga untuk kaum ibu, mungkin bisa pula membawa obat untuk menunda menstruasi, meski pemakaiannya oleh para ulama dianjurkan untuk dihindari. Mungkin Anda bisa pula membawa obat-obatan dan vitamin lainnya, lebih baik siap daripada tidak bukan?

Untuk menjaga kesehatan, penting pula mempersiapkan baju dan pelindung yang cukup. Keadaan di negara Arab sangat berbeda dengan tanah air. Contohnya, saat ini cuaca di Arab adalah musim dingin. Jangan bayangkan Arab Saudi hanyalah padang pasir yang gersang. Pada musim dingin seperti itu, cuaca siang hari di sana memang sama dengan di tanah air, tapi sejuknya tidak terkira. Begitu pula malam harinya, dinginnya tidak tertolong. Bahkan, beberapa saat saya pernah mendengar ada salju turun di Madinah, sesaat sebelum saya datang ke sana.

Kalau bisa sebelum berangkat haji, fisik Anda sudah diistirahatkan cukup. Contohnya, cukupkan beristirahat dengan mengambil ijin cuti dari tempat Anda bekerja. Kalau sempat, berlatihlah dengan olahraga dan jalan kaki ringan, minimal 5km. Lebih tentu lebih baik. Di sana Anda dituntut untuk banyak-banyak berjalan. Contohnya, untuk menunikan umrah yang terdiri dari tawaf dan Sai, Anda harus siap berjalan sekitar 6km, belum termasuk perjalanan ke masjid di luar area kota suci Mekkah untuk berniat, dan belum termasuk perjalanan pergi-pulang ke asrama Anda!

Untuk itu, persiapkan segala hal dengan matang. Bila Anda sehat, tentu ibadah akan jadi mudah dan ringan bukan?

Pages: 1 2 3 4

4 Responses to “Persiapan Fisik: Usia, Kesehatan, dan Logistik”

  1. 4N0N1M Says:

    Anda menulis gini:
    “…Misalnya, setelah mencari batu di Muzdalifah, jamaah harus bergerak untuk mabit di Mina, dan esok harisnya harus menuju Arafah, dan seterusnya.”

    Apa ada kesalahan tulis, ya? Sejauh yg saya tahu urutan wajib haji adalah:
    1. Berihram dari miqot.
    2. Wuquf di Arafah
    3. Mabit di Muzdalifah
    4. Mabit di Mina pada malam-malam hari tasyriq.
    5. Melempar jumrah pada hari-hari tasyriq.
    6. Mencukur rambut
    7. Thawaf Wada’.

    Kalau ditambah dengan sunnah nabi dulu, di mana pada hari Tarwiyah (8 Zulhijjah) jamaah haji bermalam dulu di Mina, maka seharusnya urutan tempat sesuai prosesi haji adalah:
    “Miqot-Arafah-Muzdalifah-Mina-Mekkah”

    Sementara, kalau dilihat dari letak geografis, urut-urutan lokasi adalah:
    “Mekkah-Mina-Muzdalifah-Arafah”.

    Oleh karena itu tidak heran karena keadaan sekarang yg berbeda dengan jaman nabi dulu di mana jumlah jamaah haji sekarang sudah 3 juta-an, maka prosesi mabit di Mina pada hari Tarwiyah diganti (diringankan) dengan cukup melewati Mina saja. Entah kebetulan atau tidak, pada saat kita menuju ke Arofah untuk wuquf, para jamaah haji dipastikan akan melewati Mina.

  2. 4N0N1M Says:

    Saya setuju dengan Anda, betapa hebatnya gelombang arus orang2 yg mendekati jamarat ataupun meninggalkan jamarat.

    Saya ingat dengan pengalaman saya dulu saat jumroh Aqobah. Saat itu saya tidak sadar (dan sama sekali tidak sadar) bahwa saya sangat dekat dengan ajal. Saat itu pembimbing haji saya mengatur bahwa yg melempar jumroh Aqobah (kebetulan di lantai bawah) adalah yg laki-laki dulu (termasuk saya). Dengan segala tenaga yg ada, saya sama sekali tidak bisa menahan kekuatan himpitan arus dari belakang saya, padahal gerak maju arus orang2 di depan saya sendiri berjalan dengan pelan sekali. Akibatnya tentu orang2 akan saling berhimpitan satu sama lain TANPA BISA BERBUAT APA-APA!

    Selesai dari melempar jumroh Aqobah di lantai bawah, saya dan rombongan saya yg laki2 gantian mengawal rombongan jamaah wanita untuk lempar jumroh. Karena melihat keadaan yg “LUAR BIASA” padat, maka oleh pembimbing haji kami, rombongan kami diperintahkan untuk pindah lempar jumroh di lantai atas. Saat itu rombongan kami belum menyadari keadaan di lantai atas yg “aneh” antara lain: tidak ada sama sekali jamaah haji lain yg ada di depan kami, yg ada adalah tumpukan sampah berupa sandal, pakaian ihrom, dll yg tingginya kira2 30cm mulai dari tempat kami berdiri sampai di dekat jamarat Aqobah (sehingga untuk berjalan tegak saja kami susah karena adanya tumpukan sampah ini, walaupun praktis keadaan di lantai atas sepi sekali).

    Saya baru sadar bahwa saya baru saja lolos dari kematian setelah mendengar berita bahwa beberapa saat sebelumnya telah terjadi peristiwa injak-menginjak di atara jamaah haji di lantai atas yg mengakibatkan sekitar 300 jamaah tewas. Rombongan kami-lah yg diijinkan pertama kali oleh asykar Saudi untuk bisa lempar jumroh di lantai atas setelah tragedi tersebut.

    Makanya, kalau ada orang bilang bahwa ibadah haji sebenarnya dekat dengan kematian adalah benar adanya.

  3. Arif Widianto Says:

    Buat pak 4N0N1M,

    Terima kasih atas koreksinya. Saya salah menulis urutan tempat tersebut. Dengan ini, kesalahan saya perbaiki langsung di tulisan di atas.

    Terima kasih atas masukannya.

    NB: Apakah Anda jamaah haji 2006, kok ada cerita korban 300 jamaah haji?

  4. 4N0N1M Says:

    Bukan Mas Arif, kebetulan saya tahu bahwa tanggal 1 Februari 2004 (10 Zulhijjah 1424) juga ada tragedi saling menginjak di jamarat Aqobah, korban tewas sekitar 300 orang (hampir 40 orang korban dari Indonesia)

Leave a Reply