Persiapan Fisik: Usia, Kesehatan, dan Logistik
Usia
(Persiapan Fisik Naik Haji, halaman 2 dari empat halaman)
Ada guyonan umum di antara orang yang pernah menunaikan haji. Mereka biasanya menyesal telah menunda haji hingga sekian lama, ketika usia sudah udzur dan fisik tidak memadai lagi. Mereka bisanya menyarankan segeralah menyegarakan naik haji ketika usia masih muda.
Ya, persiapan haji yang utama adalah usia.
Kalau Anda sudah dikarunia rejeki yang cukup, sedang usia Anda masih muda, bersyukurlah pada Allah. Sesungguhnya Anda beruntung. Kalau Anda naik haji pada usia seperti itu tentu akan sungguh nikmat.
Ada yang bilang, “Saya ragu naik haji. Usia masih tiga puluhan. Takut kalau sudah balik, perilaku saya masih tetap seperti dulu.” Benar. Kemantapan rohani dan spiritual adalah penting, tapi tidak kalah penting pula kesiapan fisik Anda. Kalau usia Anda 50 puluhan, bahkan banyak jamaah haji Indonesia yang berusia antara 60 hingga 70 tahun, apa yang Anda bayangkan agar ibadah haji Anda nyaman?
Misalnya saja, jarak pondokan ke Masjidil Haram rata-rata sekitar 2-3 km (bahkan ada yang lebih). Kalau Anda ingin tiap hari (atau tiap waktu salat) ke masjid, apakah Anda membayangkan harus berjalan pergi-pulang 5 km tiap waktu salat. Apalagi kalau subuh, di Mekkah, pada pukul 04.00 pagi biasanya jamaah berduyun-duyun ke Masjidil Haram. Kalau Anda telat, pasti hanya dapat tempat di pinggir luaran masjid saja. Padahal cuaca di sana cukup dingin, bahkan pernah bersalju.
Belum lagi untuk menjalankan ibadah inti, yang karena sifat waktunya berdekatan, bersamaan (seluruh jamaah haji sedunia yang dua juta orang itu) juga menjalankannya, dan ketat, akan sangat membutuhkan fisik yang siap dan sehat. Puncak kebutuhan akan fisik yang prima tentulah pada ibadah jumrah Aqobah yang dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah itu. Jumrah Aqobah adalah syarat wajib haji. Saat itulah dua juta lebih jamaah haji sedunia berkumpul untuk melempar batu pada sebuah tugu simbol iblis. Semua harus tuntas pada periode itu. Berita kecelakaan jamaah haji yang lalu terjadi pada puncak kegiatan haji ini.
Dalam jumrah Aqobah inilah, karena dianggap muda di antara jamaah lain, saya memimpin iring-iringan jamaah dari rombongan saya. Ketika mendekati tiang dan berniat melempar yang pertama, tiba-tiba jamaah rombongan yang terpental oleh gelombang jamaah lain dan kami pun terpisah. Saat itulah saya merasakan gelombang hentakan yang paling dahsyat dalam hidup saya. Seumur-umur, tidak pernah saya merasakan hentakan gelombang manusia berdesakan dalam tempat di dunia ini, kecuali di dekat tugu tempat Jumrah Aqobah. Hentakan gelombang manusia terkuat kedua saya rasakan ketika hendak menyentuh Hajar Aswad di Masjidil Haram.
Dalam jumrah itu, seorang jamaah rombongan kami, Pak Bardan, seorang sopir truk, dikenal badannya cukup besar, akhirnya menyerah dan mempercayakan kepada kami setelah istrinya terpisah. Akhirnya setelah kami atur untuk meminggir terlebih dahulu, saya dan beberapa jamaah yang muda mencari di antara gelombang jamaah tersebut, dan syukurlah istri Pak Bardan ditemukan bersama beberapa ibu lainnya.
Jadi, lebih muda Anda berhaji, tentu sedikit membantu kenyamanan Anda beribadah.
January 25th, 2006 at 1:38 pm
Anda menulis gini:
“…Misalnya, setelah mencari batu di Muzdalifah, jamaah harus bergerak untuk mabit di Mina, dan esok harisnya harus menuju Arafah, dan seterusnya.”
Apa ada kesalahan tulis, ya? Sejauh yg saya tahu urutan wajib haji adalah:
1. Berihram dari miqot.
2. Wuquf di Arafah
3. Mabit di Muzdalifah
4. Mabit di Mina pada malam-malam hari tasyriq.
5. Melempar jumrah pada hari-hari tasyriq.
6. Mencukur rambut
7. Thawaf Wada’.
Kalau ditambah dengan sunnah nabi dulu, di mana pada hari Tarwiyah (8 Zulhijjah) jamaah haji bermalam dulu di Mina, maka seharusnya urutan tempat sesuai prosesi haji adalah:
“Miqot-Arafah-Muzdalifah-Mina-Mekkah”
Sementara, kalau dilihat dari letak geografis, urut-urutan lokasi adalah:
“Mekkah-Mina-Muzdalifah-Arafah”.
Oleh karena itu tidak heran karena keadaan sekarang yg berbeda dengan jaman nabi dulu di mana jumlah jamaah haji sekarang sudah 3 juta-an, maka prosesi mabit di Mina pada hari Tarwiyah diganti (diringankan) dengan cukup melewati Mina saja. Entah kebetulan atau tidak, pada saat kita menuju ke Arofah untuk wuquf, para jamaah haji dipastikan akan melewati Mina.
January 25th, 2006 at 2:02 pm
Saya setuju dengan Anda, betapa hebatnya gelombang arus orang2 yg mendekati jamarat ataupun meninggalkan jamarat.
Saya ingat dengan pengalaman saya dulu saat jumroh Aqobah. Saat itu saya tidak sadar (dan sama sekali tidak sadar) bahwa saya sangat dekat dengan ajal. Saat itu pembimbing haji saya mengatur bahwa yg melempar jumroh Aqobah (kebetulan di lantai bawah) adalah yg laki-laki dulu (termasuk saya). Dengan segala tenaga yg ada, saya sama sekali tidak bisa menahan kekuatan himpitan arus dari belakang saya, padahal gerak maju arus orang2 di depan saya sendiri berjalan dengan pelan sekali. Akibatnya tentu orang2 akan saling berhimpitan satu sama lain TANPA BISA BERBUAT APA-APA!
Selesai dari melempar jumroh Aqobah di lantai bawah, saya dan rombongan saya yg laki2 gantian mengawal rombongan jamaah wanita untuk lempar jumroh. Karena melihat keadaan yg “LUAR BIASA” padat, maka oleh pembimbing haji kami, rombongan kami diperintahkan untuk pindah lempar jumroh di lantai atas. Saat itu rombongan kami belum menyadari keadaan di lantai atas yg “aneh” antara lain: tidak ada sama sekali jamaah haji lain yg ada di depan kami, yg ada adalah tumpukan sampah berupa sandal, pakaian ihrom, dll yg tingginya kira2 30cm mulai dari tempat kami berdiri sampai di dekat jamarat Aqobah (sehingga untuk berjalan tegak saja kami susah karena adanya tumpukan sampah ini, walaupun praktis keadaan di lantai atas sepi sekali).
Saya baru sadar bahwa saya baru saja lolos dari kematian setelah mendengar berita bahwa beberapa saat sebelumnya telah terjadi peristiwa injak-menginjak di atara jamaah haji di lantai atas yg mengakibatkan sekitar 300 jamaah tewas. Rombongan kami-lah yg diijinkan pertama kali oleh asykar Saudi untuk bisa lempar jumroh di lantai atas setelah tragedi tersebut.
Makanya, kalau ada orang bilang bahwa ibadah haji sebenarnya dekat dengan kematian adalah benar adanya.
January 25th, 2006 at 4:21 pm
Buat pak 4N0N1M,
Terima kasih atas koreksinya. Saya salah menulis urutan tempat tersebut. Dengan ini, kesalahan saya perbaiki langsung di tulisan di atas.
Terima kasih atas masukannya.
NB: Apakah Anda jamaah haji 2006, kok ada cerita korban 300 jamaah haji?
January 26th, 2006 at 8:44 am
Bukan Mas Arif, kebetulan saya tahu bahwa tanggal 1 Februari 2004 (10 Zulhijjah 1424) juga ada tragedi saling menginjak di jamarat Aqobah, korban tewas sekitar 300 orang (hampir 40 orang korban dari Indonesia)