Persiapan Fisik: Usia, Kesehatan, dan Logistik
Seperti saya katakan dalam tulisan sebelumnya, persiapan haji pada intinya ada tiga hal: persiapan dana atau biaya, persiapan fisik, dan persiapan mental atau spiritual. Kalau Anda sudah membaca tulisan sebelumnya tentang mempersiapkan biaya untuk menunaikan haji, syukur-syukur kalau sudah ada yang memulainya, mari kita diskusi tentang persiapan fisik.
Persiapan Fisik Naik Haji
Ibadah haji sejujurnya bukan ibadah yang hanya melibatkan rohani saja. Bisa dibilang ibadah ini justru lebih banyak sifat fisiknya, yang kenyataannya memang mengarah pada ujian rohani dan spiritual. Dari seluruh proses kegiatan ibadah haji, untuk jamaah Indonesia biasanya berlangsung antara 20-40 hari (paket ONH plus atau ONH biasa). Dari seluruh hari itu, inti ibadah haji hanya terdiri dari beberapa hari, sisanya adalah kegiatan ibadah rutin dan sunnah, yang membutuhkan daya tahan fisik dan kesehatan yang prima.
Menurut pendapat umum ulama, rukun ibadah haji ada empat, yakni: ihram, thawaf ziarah (ifadhah), Sai antara Safa dan Marwah, dan Wukuf. Semua kegiatan inti, kira-kira hanya berlangsung antara 4 hari hingga seminggu saja. Jadi, sisa hari lainnya, antara 14 hari sampai 30 hari adalah kegiatan bebas yang harus dilalui oleh para jamaah haji. Sekitar tigapuluh hari harus hidup di negara orang adalah sungguh bukan masalah fisik yang kecil. Maka, di sinilah perlunya persiapan fisik yang mantap.
January 25th, 2006 at 1:38 pm
Anda menulis gini:
“…Misalnya, setelah mencari batu di Muzdalifah, jamaah harus bergerak untuk mabit di Mina, dan esok harisnya harus menuju Arafah, dan seterusnya.”
Apa ada kesalahan tulis, ya? Sejauh yg saya tahu urutan wajib haji adalah:
1. Berihram dari miqot.
2. Wuquf di Arafah
3. Mabit di Muzdalifah
4. Mabit di Mina pada malam-malam hari tasyriq.
5. Melempar jumrah pada hari-hari tasyriq.
6. Mencukur rambut
7. Thawaf Wada’.
Kalau ditambah dengan sunnah nabi dulu, di mana pada hari Tarwiyah (8 Zulhijjah) jamaah haji bermalam dulu di Mina, maka seharusnya urutan tempat sesuai prosesi haji adalah:
“Miqot-Arafah-Muzdalifah-Mina-Mekkah”
Sementara, kalau dilihat dari letak geografis, urut-urutan lokasi adalah:
“Mekkah-Mina-Muzdalifah-Arafah”.
Oleh karena itu tidak heran karena keadaan sekarang yg berbeda dengan jaman nabi dulu di mana jumlah jamaah haji sekarang sudah 3 juta-an, maka prosesi mabit di Mina pada hari Tarwiyah diganti (diringankan) dengan cukup melewati Mina saja. Entah kebetulan atau tidak, pada saat kita menuju ke Arofah untuk wuquf, para jamaah haji dipastikan akan melewati Mina.
January 25th, 2006 at 2:02 pm
Saya setuju dengan Anda, betapa hebatnya gelombang arus orang2 yg mendekati jamarat ataupun meninggalkan jamarat.
Saya ingat dengan pengalaman saya dulu saat jumroh Aqobah. Saat itu saya tidak sadar (dan sama sekali tidak sadar) bahwa saya sangat dekat dengan ajal. Saat itu pembimbing haji saya mengatur bahwa yg melempar jumroh Aqobah (kebetulan di lantai bawah) adalah yg laki-laki dulu (termasuk saya). Dengan segala tenaga yg ada, saya sama sekali tidak bisa menahan kekuatan himpitan arus dari belakang saya, padahal gerak maju arus orang2 di depan saya sendiri berjalan dengan pelan sekali. Akibatnya tentu orang2 akan saling berhimpitan satu sama lain TANPA BISA BERBUAT APA-APA!
Selesai dari melempar jumroh Aqobah di lantai bawah, saya dan rombongan saya yg laki2 gantian mengawal rombongan jamaah wanita untuk lempar jumroh. Karena melihat keadaan yg “LUAR BIASA” padat, maka oleh pembimbing haji kami, rombongan kami diperintahkan untuk pindah lempar jumroh di lantai atas. Saat itu rombongan kami belum menyadari keadaan di lantai atas yg “aneh” antara lain: tidak ada sama sekali jamaah haji lain yg ada di depan kami, yg ada adalah tumpukan sampah berupa sandal, pakaian ihrom, dll yg tingginya kira2 30cm mulai dari tempat kami berdiri sampai di dekat jamarat Aqobah (sehingga untuk berjalan tegak saja kami susah karena adanya tumpukan sampah ini, walaupun praktis keadaan di lantai atas sepi sekali).
Saya baru sadar bahwa saya baru saja lolos dari kematian setelah mendengar berita bahwa beberapa saat sebelumnya telah terjadi peristiwa injak-menginjak di atara jamaah haji di lantai atas yg mengakibatkan sekitar 300 jamaah tewas. Rombongan kami-lah yg diijinkan pertama kali oleh asykar Saudi untuk bisa lempar jumroh di lantai atas setelah tragedi tersebut.
Makanya, kalau ada orang bilang bahwa ibadah haji sebenarnya dekat dengan kematian adalah benar adanya.
January 25th, 2006 at 4:21 pm
Buat pak 4N0N1M,
Terima kasih atas koreksinya. Saya salah menulis urutan tempat tersebut. Dengan ini, kesalahan saya perbaiki langsung di tulisan di atas.
Terima kasih atas masukannya.
NB: Apakah Anda jamaah haji 2006, kok ada cerita korban 300 jamaah haji?
January 26th, 2006 at 8:44 am
Bukan Mas Arif, kebetulan saya tahu bahwa tanggal 1 Februari 2004 (10 Zulhijjah 1424) juga ada tragedi saling menginjak di jamarat Aqobah, korban tewas sekitar 300 orang (hampir 40 orang korban dari Indonesia)