Archive for January, 2006

Hidayah Haji Selagi Muda

Wednesday, January 25th, 2006

Ini adalah kiriman cerita pengalaman seorang pembaca kita yang ada di Jakarta. Mas R, demikian saja kita sebut dirinya, sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan IT di daerah Jakarta pusat. Suatu waktu, karena pekerjaannya yang bagus, ia mendapat bonus dari perusahaannya. Dari sinilah ia bercerita tentang bagaimana hatinya mantap menunaikan panggilan untuk naik haji, biarpun masih bujangan dan indekos. Mas R lahir pada 1973. Ia naik haji pada awal 2004. Di Tanah Suci, ia diberi petunjuk Allah dengan menemukan “jodoh”-nya. Lebih jelasnya, selamat membaca ceritanya.

Cerita Pengalaman Haji Muda

Oleh Mas R di Jakarta

Pada awal 2003, alhamdulillah saya mendapatkan bonus dan insentif karena performance kerja saya bagus. Saat itu saya sama sekali tidak mempunyai rencana mau diapakan uang itu. Tetapi kemudian separuh dari uang itu saya berikan kepada orang tua saya di kampung.

Saat itu saya masih bujangan. Saya tinggal indekos di daerah Setiabudi. Kebetulan indekos saya tersedia fasilitas langganan koran Kompas. Sekitar akhir Mei 2003, secara kebetulan saya membaca iklan training ESQ dari Kang Ary Ginanjar di koran itu (berbeda dengan sekarang, saat itu iklan training ESQ berukuran sangat kecil dan sehingga tidak “eye-chatching” seperti sekarang yang seperempat halaman sendiri. Saya yakin bahwa hanya pembaca yang teliti dan cermat saja yang bisa melihat iklan tersebut. Saya merasa, bahwa sepertinya Allah memang mengatur agar saya bisa melihat iklan tersebut). Saya sendiri sebelumnya memang pernah mendengar tentang buku ESQ, tetapi saat itu saya cuman berpikir bahwa buku ESQ tidak ada bedanya dengan buku-buku motivasi lain seperti “Seven Habit” karangan Steven Covey atau buku-buku lainnya.

Malam harinya, ayah saya di kampung (Kendal) menelpon saya untuk dibelikan buku karangan Ary Ginanjar Agustian (judulnya Emotional Spiritual Quotient atau ESQ) dan ayah saya minta dikirimkan ke kampung. Ayah saya sudah 8 tahun menderita stroke (sehingga lumpuh separoh); kegiatan sehari-harinya sebagian dihabiskan untuk membaca. Akhir pekan kemudian saya pergi ke toko buku Gramedia di Mal Taman Anggrek (saya memang hobi membaca gratisan di toko buku) dan sekilas telah membaca buku ESQ tersebut sebelum mengirimkannya ke ayah saya via paket pos.

Sepertinya ada kekuatan yang mendorong saya untuk ikut training ESQ, sehingga saya kembali berusaha untuk mencari-cari iklan yang pernah saya lihat dulu di koran Kompas (lumayan juga mengaduk-aduk tumpukan kroan itu, dan alhamdulillah saya bisa menemukan iklan tersebut). Padahal kalau saya ingat-ingat lagi, koran di kos saya biasanya akan “menghilang” diambil oleh anak-anak. Jadi, saya merasa Allah memang menghendaki saya untuk ikut training tersebut, walau bayarnya lumayan mahal; sebagian besar peserta training saat itu karyawan kantor yang ditugaskan perusahaan.

Alhamdulillah, Allah membuka hati saya. Allah memberikan hidayah melalui training itu. Di training itu, saya dibuat sesadar-sadarnya tentang betapa besar kekuasaan Allah dan betapa beraninya saya “mengecilkan” Allah, betapa beraninya saya melanggar larangan Allah dan tidak menaati perintah-perintahNya. Sudah lama saya tidak bisa menangis jika ingat Allah, tetapi di training itu, saya tidak malu-malu untuk menangis sekeras-kerasnya menyadari betapa zalimnya saya ini.

Perubahan drastis saya rasakan setelah training itu: saya jadi berlama2 untuk sholat dan menyimak kata per kata bacaan-bacaan di dalam sholat, sehingga sering menangis di dalam sholat seolah-olah saya merasa Allah yang Maha Kuasa berada di depan saya. Saya jadi rajin untuk sholat lima waktu berjamaah di masjid. Teman-teman kos lama-kelamaan melihat perubahan di dalam diri saya, karena setiap main Playstation bareng-bareng, saya minta ijin berhenti sebentar main saat azan berkumandang untuk sholat berjamaah sebentar. Setelah pulang dari masjid, saya kembali melanjutkan main lagi. Memang, saat itu saya bujangan, belum punya pacar dan tinggal di kos, aktivitasnya paling-paling main playstation bareng atau jalan ke mal. Saya heran dengan betapa luar biasanya hidayah yang datang kepada saya tersebut, sehingga saya merasa di manapun saya dan kapan pun, saya merasa Allah berada di depan saya dan selalu mengawasi saya. Saya merasa Allah bisa mencabut saya sewaktu-waktu. Tetapi pada dasarnya, tidak ada perubahan di dalam diri saya dalam hal pergaulan dengan teman-teman atau dalam lingkungan kerja saya, karena semuanya saya jalanin dengan apa adanya seperti sebelumnya, dan memang saya tidak punya teman curhat mengenai gejolak perubahan spiritual di dalam diri saya ini.

Persiapan Fisik: Usia, Kesehatan, dan Logistik

Tuesday, January 24th, 2006

Seperti saya katakan dalam tulisan sebelumnya, persiapan haji pada intinya ada tiga hal: persiapan dana atau biaya, persiapan fisik, dan persiapan mental atau spiritual. Kalau Anda sudah membaca tulisan sebelumnya tentang mempersiapkan biaya untuk menunaikan haji, syukur-syukur kalau sudah ada yang memulainya, mari kita diskusi tentang persiapan fisik.

Persiapan Fisik Naik Haji

Ibadah haji sejujurnya bukan ibadah yang hanya melibatkan rohani saja. Bisa dibilang ibadah ini justru lebih banyak sifat fisiknya, yang kenyataannya memang mengarah pada ujian rohani dan spiritual. Dari seluruh proses kegiatan ibadah haji, untuk jamaah Indonesia biasanya berlangsung antara 20-40 hari (paket ONH plus atau ONH biasa). Dari seluruh hari itu, inti ibadah haji hanya terdiri dari beberapa hari, sisanya adalah kegiatan ibadah rutin dan sunnah, yang membutuhkan daya tahan fisik dan kesehatan yang prima.

Menurut pendapat umum ulama, rukun ibadah haji ada empat, yakni: ihram, thawaf ziarah (ifadhah), Sai antara Safa dan Marwah, dan Wukuf. Semua kegiatan inti, kira-kira hanya berlangsung antara 4 hari hingga seminggu saja. Jadi, sisa hari lainnya, antara 14 hari sampai 30 hari adalah kegiatan bebas yang harus dilalui oleh para jamaah haji. Sekitar tigapuluh hari harus hidup di negara orang adalah sungguh bukan masalah fisik yang kecil. Maka, di sinilah perlunya persiapan fisik yang mantap.

Wajib Haji Dulu atau Sedekah Dulu?

Friday, January 13th, 2006

Kali ini saya ingin mengetengahkan pertanyaan umum, sebenarnya wajib mana, haji dulu atau sedekah dulu. Kali ini saya tampilkan sebuah pertanyaan dari PesantrenVirtual.com.

> Pengasuh pesantren virtual yang dirakhmati Allah. Begini saat ini secara ekonomi kami sebenarnya sangat cukup siap untuk melaksanakan ibadah haji. Tetapi saya bingung, anak saya masih balita, semuanya masih tergantung kepada saya. Belum bisa mandiri, walaupun kami punya pembantu, tetapi anak-anak secara psikologis tetap sangat tergantung sekali pada saya ( ibunya ).

> Apa bisa diterima alasannya kami menunda ibadah haji, karena alasan anak masih kecil, tidak ada yang dapat dititipi, walaupun saudara sendiri?

[Baca tanya jawab selengkapnya »](http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6&Itemid=1)

Persiapan Biaya Haji: Tabungan dan Arisan

Thursday, January 12th, 2006

Setelah sebelumnya kita berbicara tentang niat, kali ini saya ingin mengajak Anda berbicara tentang suatu proses yang boleh kita sebut sebagai upaya mewujudkan niat. Semua orang bisa berniat, dan niat yang baik dijanjikan Allah sebuah pahala. Maka, setiap niat Anda yang ingin menunaikan haji, bila Anda mampu, tentu mendapat karunia-Nya. Mewujudkan niat adalah kelebihan lain dan tentu akan mendapat balasan yang lebih. Mewujudkan niat haji Anda pada dasarnya adalah sebuah proses persiapan yang terdiri dari persiapan biaya, persiapan fisik, persiapan spiritual.

## Biaya ##

Sekarang, bagaimana cara mewujudkan niat agar ibadah haji Anda terlaksana?

Hal pokok agar Anda terwujud dan terpanggil naik haji, tentu saja adalah Ongkos Naik Haji (ONH). Jadi kali ini kita coba berbicara hal praktis, mengumpulkan dana untuk berhaji.

Banyak yang bertanya, apa mungkin saya bisa berhaji, sedang tiap bulan saja gaji langsung habis dioper ke sana-sini, ditransfer ke bank ini-ke bank itu, tuntas untuk pembayaran cicilan rumah, motor, kartu kredit, uang belanja, gaji pembantu, uang saku anak-anak, dan berbagai macam keperluan lainnya.

Tapi tunggu dulu, saya boleh mengingatkan, mengutip tulisan berbagai penasihat keuangan keluarga yang saya baca di media massa, kalau Anda punya niat, semua bisa diwujudkan dengan kedisiplinan dan keteguhan hati.

Ada seorang nenek bisa berhaji sampai dua kali dengan mengumpulkan sekeping sisa uang jerih payahnya berjualan di pasar desa. Uang itu disimpannya di bawah bantal, keping demi keping, ribuan demi ribuan, hingga terkupul puluhan ribu dan ratusan ribu dan tak terasa sudah cukup untuk melunasi ONH. Ada pula yang memakai trik agak modern, menginvestasikan uangnya di hewan ternak, dan sebagainya. Jadi, kuncinya adalah niat dan kedisplinan.

### Tabungan Haji ###

Dari majalah Intisari edisi khusus Family Financial Planning, saya kutip, setiap pengeluaran terencana jangka panjang seperti tabungan untuk haji ini, harus direncanakan dengan matang dan dilaksanakan dengan disiplin tinggi, sampai semua terkumpul dan bisa melunasi ONH.

Contoh gampangnya begini, bila gaji Anda 2 juta per bulan, coba Anda pilah-pilah bagaimana kebutuhan keuangan Anda tiap bulannya. Pisahkan kebutuhan pokok, misalnya cicilan rumah/kendaraan, uang sekolah anak Anda, gaji pembantu, uang listrik, uang PAM, dsb. Kemudian atur pula kebutuhan belanja yang cukup memadai tapi juga ketat, agar cukup ada sisa. Dari pengaturan itu, hitung totalnya, apakah masih ada sisa? Bila Anda sudah mengatur dan menghitung ketat, dan masih ada sisa, misal saja Rp100.000,-, mungkin Anda bisa mulai berpikir untuk merencanakan uang sisa ini sebagai tabungan haji.

Mengutip ahli perencana keuangan keluarga, bila Anda ingin menabung, ambil dana tabungan di awal bulan (setelah gaji keluar) agar tidak keburu dihabiskan oleh Anda sendiri. Maksudnya, jangan-jangan ketika jalan ke sebuah mal, Anda keburu tergoda menggesek kartu sehingga pada akhir bulan, gaji bulanan Anda tidak tersisa sama sekali. Bengong kan?

Setelah itu, coba buat rekening khusus haji di bank. Ada banyak bank yang menyediakan layanan ini seperti Bank BRI, BNI 46, Mandiri, dll. Dengan rekening terpisah, paling tidak Anda dapat mengerem godaan untuk belanja tiap bulannya. Setelah itu, kalau ada pemasukan tambahan, coba sisihkan dan prioritaskan ke rekening haji ini. Setiap kegigihan dan tambahan dana Anda tentu akan mempercepat tercukupinya dana ONH di rekening haji Anda.

Itu mungkin cara sederhana dan umum.

Bila penghasilan Anda lebih besar, mungkin Anda bisa memakai cara dan trik lain. Atau bisa juga pakai trik kampung yang sederhana tapi cukup tokcer ini. Ikut atau buat Arisan Haji bersama teman-teman dekat dan keluarga Anda. Bagaimana caranya? Baca tulisan berikut.

### Arisan Haji ###

Arisan ini tentu berbeda dengan jenis arisan yang biasa. Pada intinya arisan haji adalah usaha bersama dari sekelompok orang yang setiap periode tertentu mengumpulkan uang dengan tujuan agar pada suatu saat mereka semua bisa menunaikan ibadah haji.

Bagaimana konsepnya?

Saya hanya mengetahui satu jenis konsep arisan haji, sejujurnya, saya dulu bisa naik haji menggunakan cara ini. Konsepnya dasarnya kira-kira begini.

1. **Jumlah iuran arisan bulanan**. Angka ini ditentukan dari hitungan sederhana, ambil contoh grup arisan haji Anda ada dua puluh lima orang (ambil gampangnya). Misalnya saja ONH pada periode saat ini adalah Rp25 juta, maka uang arisan haji per bulan pada tahun ini adalah Rp25 juta dibagi 25 orang, jadi kita ambil angka kasar Rp 1 juta per orang per tahun. Jadi kira-kira begini, kewajiban masing-masing anggota pada tahun itu adalah mengumpulkan sejumlah Rp1 juta selama satu tahun itu, sehingga ada satu orang yang dapat naik haji. Bila dalam rapat anggota diputuskan untuk memberangkatkan dua anggota, maka cicilan tinggal dikalikan dua, dan seterusnya. Perlu dicatat, dalam arisan ini, setiap orang yang berangkat haji tahun ini sudah harus ditentukan tahun sebelumnya, dan seterusnya. Bila pada tahun berikut ONH naik, maka iuran arisan akan naik juga disesuaikan dengan hitungan di atas. Begitu pula bila ONH turun. Sebaliknya, ada contoh ketika ONH membumbung tinggi (seperti pada masa krisis 1998), arisan haji bisa batal memberangkatkan dan dananya diakumulasikan pada periode berikutnya. Tentu saja semua ini ditentukan bersama dan secara kekeluargaan.

2. **Pertemuan arisan**. Setiap arisan tentu ada pertemuannnya. Selain sebagai ajang penentuan hal-hal penting seperti hal di atas, pertemuan arisan bisa digunakan sebagai ajang silaturrahmi. Jadi, setelah jumlah iuran tahunan diketahui, arisan tersebut dapat rapat bersama untuk menentukan berapa jumlah pertemuan direncanakan dan tentu saja siapa orang yang diberangkatkan haji. Pertemuan tentu tidak harus terjadi setiap bulan, begitu pula cara dan metode pembayaran di atas tidak harus per bulan, bisa saja pembayaran dilakukan per tiga bulan, begitu pula pembayarannya. Jadi, kalau direncanakan bertemu setiap tiga bulan, maka akan ada empat pertemuan dan empat kali pembayaran haji. Jadi, tiap tiga bulan, uang yang harus disetor dalam ilustrasi di atas adalah Rp250rb per pertemuan. Cukup ringan kan?

3. **Penentuan pemberangkatan yang fleksibel**. Dari ilustrasi di atas, kalau diputuskan akan memberangkatkan seorang anggotanya untuk haji pada tahun berikutnya, diketahui cicilan per tiga bulannya adalah Rp250 bulan. Bilamana dipandang iuran cukup ringan, arisan bisa pula memutuskan memberangkat dua orang anggotanya, dan seterusnya seperti ilustrasi di atas. Semua secara terbuka dan kekeluargaan. Begitupula penentuan siapa anggota yang berangkat haji. Selain diundi pakai cara kocok kertas, namun hal ini tidak bersifat kaku. Ambil contoh bila seorang yang mendapat undian merasa tidak siap, ia bisa mengalihkan kepada anggota lain, dan tentu saja dengan sepertujuan rapat anggota arisan. Begitupula memungkinkan seorang anggota meminta arisan untuk memprioritaskan dirinya bila dirasa perlu, dan tentu saja ini harus disetujui semua anggota arisan.

4. **Ahli waris dan hukum**. Arisan ini tentu harus diatur dalam koridor hukum yang baik, terbuka, dan adil. Pada prinsipnya, setiap anggota pada awal masa arisan harus menentukan ahli warisnya, gunanya untuk pengalihan kewajiban dan hak pada arisan tersebut. Tentu saja ahli waris juga wajib mengetahui penyertaan nama dirinya. Ahli waris bisa saja anak atau keluarga dekat. Dari sini, bila seorang anggota keburu meninggal sementara dirinya belum mendapat giliran haji, ahli warisnyalah yang melanjutkan cicilan dan dia pula yang mendapat hak pemberangkatan haji. Begitupula sebaliknya, bila seorang anggota sudah diberangkatkan haji dan keburu meninggal sementara putaran arisan haji belum selesai, maka ahli warisnya wajib melanjutkan cicilan hajinya. Dan seterusnya.

Begitulah sekilas tentang arisan haji. Cukup sederhana dan membantu bukan? Bila ada kurangnya mohon maaf. Kalau ada pertanyaan silakan kirim via kolom kontak di atas.

Selamat Hari Raya Haji

Wednesday, January 11th, 2006

Sebelumnya, saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1426H atau juga disebut Hari Raya Kurban atau Hari Raya Haji. Saya hanya bisa mengucap semoga amal ibadah orang-orang yang berkurban dan menyelesaikan hajinya diterima Allah dan diberi balasan yang berlipat. Amin.

Saya juga mengucapkan duka atas terjadinya musibah di tanah air dan di tanah suci, semoga keluarga yang terkena musih diberi ketabahan dan kekuatan, dan semoga bantuan-bantuan cepat mengalir. Amin.

Alhamdulillah kita ketemu lagi di halaman kita ini. Ijinkan saya mohon maaf karena kesibukan, sehingga situs kesayangan kita ini lama tidak terupdate.