Kesaksian Spiritual Haji

Oleh H. Budi Hikmat, kontributor ceritahaji.com di Depok

(Halaman 6 dari 6 halaman)

Sholat Di Atap Masjid dan Jemaah Mesir

Saat sholat Jumat kali kedua, aku terlambat datang sehingga sulit mendapatkan tempat yang menyenangkan. Sholat Jumat sebelumnya, akupun tidak memperoleh tempat datar, terpaksa harus berdiri di tangga. Pengalaman pertama kali sholat Jumat yang tidak memungkinkan sujud. Demikian padatnya keadaan Masjidil Haram saat sholat Jumat.

“Suara” itu terdengar menyarankan, “Mengapa engkau tidak mencoba sholat di bagian atap Masjid?” Usulan tidak menarik. Sholat di lantai dekat pintu Babus Salam saja panas, apalagi di atap. “Nggak ah, mana tahan. Terik sekali!”

“Suara” itu kembali menjawab. Malah menantang. “Tidak! Akan menyenangkan. Ayolah.” Kuputuskan mengikuti saran’nya’. Akhirnya terpilih tempat yang cukup strategis, tetapi tetap saja terpanggang panas. Lalu kukenakan topi payung dan selendang untuk menahan panas.

Tidak berapa lama datang seorang jamaah, yang akhirnya kukenal berasal dari Mesir. Ia membawa payung. Teduh bayangan payung jatuh tepat ke arahku, melindungiku dari sengatan panas. Ingin sekali aku mengaji. Tetapi suaraku serak. Sebab sedari selesai Subuh hingga Dhuha aku membaca Al Quran di dalam Masjid.

Jemaah Mesir itu membaca Al Quran dengan dialek khas namun bacaannya jelas. Tiba-tiba dia terbatuk. Dengan cepat, kutawarkan permen menthol. “Good for your throat” bujukku. Dia menerimanya, tetapi tidak memakannya. Ketika ingin membaca surah yang lain, aku memberanikan diri ‘memesan’ surat Al Mulk untuk dia baca. Dan diapun membaca dengan baik. Ketika surat Al Mulk selesai, dia kembali batuk. Aku lalu tawarkan Komix. Dia menerimanya. Dan aku kembali ‘memesan’ surah Ar Rahman. Dia menyetujui, lalu membacanya dengan tartil.

Selesai membaca surat Ar Rahman, aku menawarkan dirinya untuk istrirahat minum. Kutunjukkan botol mineral Dua Tang yang aku bawa dari Indonesia. Aku peragakan bagaimana air tidak akan muncrat bila knopnya ditekan dan air akan muncrat bila knop ditarik. Kuberikan kepadanya sebagai hadiah. Dia senang sekali. Tetapi sekali lagi kembali “memesan” surah Al Waqiah. Dia kembali dengan suka hati membacanya dengan baik. Selesai dia mengaji, kami ngobrol sebentar. Dia nampak tidak banyak mengerti bahasa Inggris. Ketika dia menyebutkan Egypt, aku menduga dia berasal dari Mesir.

Spontan aku berkata: “Oh…Firaun…Firaun.” Dia hanya tersenyum simpul membenarkan. Meski pakai bahasa tarzan, suasana menyenangkan. Tidak terasa sengatan terik matahari. Namanya Ahmad. Dia mendoakanku suatu hari dapat mengunjungi negerinya Mesir. Sobat, jangan menyepelekan doa di Masjidil Haram. InsyaAllah, suatu saat aku - malah kudoakan beserta anak mantuku - berziarah ke Mesir.

Akhirnya saat sholat Jumat tiba. Ada keraguan panas akan menyengat meski seorang yang badannya tinggi berada di depanku. Keraguanku tercampakkan, saat semilir angin terasa sejuk membelai kulitku berulang-ulang. Ya Allah, janjimu benar. Sholat di atap Masjidil Haram menyenangkan. Sejuk. Dan aku dapat mendengarkan surah yang ingin kubaca pada hari Jumat lewat perantaraan lisan seorang jemaah Mesir.

Minuman Hangat Sebelum Tahajjud

Aku menguatkan niat untuk Tahajjud di Masjidil Haram. Saat terbangun, aku ingin lebih dulu menyenangkan diri dengan minuman hangat. Teh Susu misalnya. Namun sayang sekali, pemanas air di penginapan kami belum berfungsi. Air masih dingin untuk membuat seduhan. Aku mengharapkan dalam situasi dini hari seperti ini masih ada penjual minuman. “Suara” itu kembali terdengar, “InsyaAllah, engkau akan mendapatkan penjual minuman teh susu hangat.”

Aku melanjutkan langkah menelusuri pertokoan Pasar Seng yang masih sepi. Kucoba memperlambat langkah sembari mengawasi jika ada penjual minuman. Ternyata tidak ada hingga mendekati tangga atas Masjidil Haram. Aku langsung kembali membathin. Tak apalah. Minum air Zam Zam saja cukup.

Ketika hendak masuk pintu masjid, aku melihat seseorang melintas sambil hati-hati memegang gelas yang nampak mengepul. Nah, pasti di sekitar sini ada penjual minuman. Lalu kucoba mengikuti jalan yang agak mendaki. Masya Allah, tidak jauh kulihat satu-satunya kedai yang masih buka. Langsung ku hampiri membeli segelas teh-susu.

Berhajilah Selagi Muda

Ketika kami selesai sholat di lantai dua menghadap Multazam, aku merasa ada tangan seseorang yang menyentuh pundakku. Ketika aku menoleh, kulihat seorang bapak yang cukup tua. Tersenyum. Namun tiba-tiba dia menangis. Aku salah tingkah. Mau bertindak apa? Kudekati saja sambil meletakkan tanganku di pundaknya. Seolah merangkul. Aku menunggu hingga dia puas menangis. Masih dalam keadaan terisyak, bapak itu berkata: “Bapak terharu melihat kalian. Masih begitu muda, tetapi sudah memenuhi panggilan Allah berhaji.”

Kami jadi turut terharu. Sembari berusaha keras menutup rapat celah-celah kesombongan yang ditiupkan syaitan, aku menyarankan supaya bapak itu untuk mendoakan semoga anak-anaknya dapat berangkat haji selagi muda. Bapak itu mengangguk. Dia kemudian menceritakan asal dan kondisi anak-anaknya. Ya Allah, mudahkanlah bagi anak keturunannya menunaikan haji selagi muda.

Doa Untuk Pak Sabeni

Setelah merampungkan tawaf haji, kami menghubungi bapak mertua di Jakarta. Ada kabar duka. Pak Sabeni, supir kami yang baik hatinya, berpulang tiba-tiba. Kami memanjatkan doa untuknya. Aku membacakan Surat Yasin khusus untuknya di Masjidil Haram. Semoga Allah mengabulkan doa kami, mensejahterakan almarhum di alam barzahnya. Memberi kesabaran dan keikhlasan kepada keluarga yang ditinggalkan. Istriku sangat terkejut. Ia mengenang kebaikan almarhum yang akan menjaga anak-anak kami selama kami menunaikan ibadah haji.

Penutup

Kami cukupkan penuturan pengalaman haji kami di sini. Penuturan ini hanyalah sebagian ekspresi kesyukuran kami kepada Allah. Tidak mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun dari siapapun. Kecuali dari Allah. Semoga penuturan ini dapat menjadi pelajaran yang bermanfaat bagi calon jemaah haji khususnya. Rawatlah kerinduan Anda berhaji dengan menyakini haji adalah kewajiban. Niatkan pergi haji dengan menyisihkan sejumlah uang tabungan pembuka. Semoga Allah menjadikan perjalanan haji sebagai bagian penting untuk kematangan spiritual kita. Semoga Allah berkenan menunjukkan sebagian tandatanda keagunganNya saat Anda berhaji.

Salam

Budi Hikmat dan Adelina Syarif

Depok 16412

Pages: 1 2 3 4 5 6

20 Responses to “Kesaksian Spiritual Haji”

  1. Susilo Zulfachmi Says:

    Tulisan dan kesaksian ini sangat menyentuh penuh makna dan isyarat, mengingatkan saya khususnya sebagai manusia biasa yang penuh dengan noda dan dosa akan kebesaran-Nya.

  2. Anonim Says:

    Waduh, jadi inget nich ama Pak Budi Hikmat…..mohon maaf, Pak Budi Hikmat, saya lupa mengucapkan terima kasih atas kiriman buku doa haji untuk persiapan berangkat haji tahun 2004 dulu.

    Saya juga mempunyai pengalaman spiritual saat haji 2004 dulu. Sehari sepulang dari Mina, saya mimpi melihat wajah jodoh saya (wajah yg semula tidak saya kenal). Dan ternyata mimpi itu menjadi kenyataan

  3. amelia Says:

    Membaca kesaksian ini hati saya berdesir-desir, bahkan saya berusaha keras untuk menahan air mata sy keluar, tp hati sy merintih dan menangis, mengingat dosa-dosa. Subhanallah, Allahu Akbar.

  4. Dedy Widyanto Says:

    sangat senang saya membaca kesaksian ini.
    meskipun saya belum dalam mengerti soal agama.
    tapi saya sangat senang dan merasa terharu.

    ingin rasanya mengantarkan ayah dan ibu saya pergi haji.
    Amin

  5. ade Says:

    membaca kesaksian ini jadi terharu , ingat akan dosa2 yang pernah hamba lakukan dan bahkan sering hamba lakukan dgn sengaja maupun tidak.
    akan kah hamba seberuntung beliau…. i wish that

    ingin rasanya hamba mengantarkan ayah dan ibu menunaikan haji… insya Allah
    ya Allah… berilah hamba kemudahan dan kelancaran.
    amien

  6. Umar Says:

    Membaca kesaksian itu, saya sangat terharu, saya ingat akan dosa2ku kepada kedua orang tuaku.
    akan saya beruntung seperti itu. Hanya Allah SWT yang maha tahu.
    ingin hamba mau menunaikan ibadah haji setelah aku menikah tahun ini bersama calon istriku yang tercinta..
    Ya Allah ….. segerakan kami menikah ya Allah, berikan kami rezeki yang barokah untuk memudahkan dan kelancaran niatku ini ya Allah… amin ya Robil Alamin/

  7. nargis Says:

    Membaca kesaksian ini saya jadi ingat kembali kenangan waktu saya (Yang sudah cukup tua) berhaji di tahun 2000.
    Ya Rahman Engkau maha kasih dan sealau membayar penuh amal ibadah hambamu dengan pahala dan bimbingan.

  8. iqbal Abdul Jabbar Says:

    Saya sangat terkesan dengan kisah rohani yang Bapak Budi dan Ibu alami. Tentunya semua umat islam menginginkan juga apa yang telah dirasakan Bapak dan Ibu. Terutama saya yang sekarang ini kepingin sekali membantu orang tua saya yang sudah tua dan mengimpikan serta menyebut2 terus untuk menunaikan rukun islam yang kelima tersebut. Saya memang punya niat apabila mendapatkan bagian dari watrisan dari Eyang saya dan kakeknya Ibu saya dana tersebut akan dipergunakan untuk kesana, namun sayang niat itu masih ada kata mungkin dikarenakan tanah warisan tersebut ada orang lain yang mengakuinya juga setelah harga tanah tersebut bernilai jual. Saya yangmengurus tanah tersebut hanya berdoa dan mengharapkan petunjuk serta bimbingan dari Allah SWT untuk dapat mengemban amanah ini dan diberikan kemudahan agar niat orang tua saya benar2 dapat terwujud dengan izin Allah SWT. Semoga kebenaran selalu mendampingi saya. amin.

  9. Rakyat anti Pungli Says:

    PESAN MORAL UNTUK PENGURUS HAJI :

    Karena saya mencintai Anda, wahai kawan-kawan di DEPAG pusat maupun daerah. Tolong jangan menyimpang atau melakukan pungli sekecil apapun ketika anda mengurusi calon haji.

    Demi Allah, para jama’ah khususnya yang pas-pasan, mereka telah susah mengumpulkan rupiah demi rupiah karena ingin naik haji. Dengan dalih ini-itu, tanpa dasar dan anda melakukan pungli, itu dosa besar !

    MINTALAH KWITASI JIKA ANDA DISURUH MEMBAYAR SESUATU, SELAIN ADA KEPUTUSAN MENTERI AGAMA RI.

    LAPORKAN SAJA OKNUM YANG MELAKUKAN PUNGLI, TANGKAP DAN ADILI. KARENA KURANG AJAR PERBUATAN PUNGLI ITU …..

  10. joice Says:

    assalammualaikum wr,wb
    cerita anda benar benar bagus, hampir sama dengan yg saya alami sekarang ini. keinginan saya yg begitu besar untuk menunaikan ibadah haji, sehingga saya selalu mohon kepada ALLAH dalam doa dan sholat saya agar saya diijinkan untuk pergi haji. dan ALLAH mendengar doa saya. suami saya dapat rejeki yg tak diduga yaitu dengan jalan dapat komisi penjualan tanah, sedangkan tanah tersebut tadinya milik kami tapi sudah kami jual ditahun 2004 awal uang nya untuk bayar onh suami saya pada saat itu saya tidak ikut karna saya masih punya anak bayi. dan ditahun ini orang yg membeli tanah tersebut menyuruh kami untuk menjualkan lagi. dan alhamdulillah kami mendapat bagian jadi saya dan suami saya pergi haji karna rejeki ditanah itu amin amin amin ya robbal alamin. doakan saya yah mudah mudahan saya bisa berangkat ditahun ini juga karna tidak ada yg tidak mungkin dimata ALLAH. karna memang itu keinginan saya semoga ALLAH mengabulkan doa saya lagi amin amin amin ya robbal alamin

  11. kusmaningrum Says:

    Assalamualaikum Wr. Wb.,
    Yh. Bapak/Ibu Budi Hikmat dan Adelina Syarif
    “Aku sangat menyakini doa Ibu sangat mustajab. Tidak terhalang atau mampu dihalangi oleh syetan atau iblis durjana sekalipun. Ibuku lalu mengajarkan sepasang doa. Doa pertama dibaca oleh sang anak. Kemudian dibalas oleh orang tua. Doa itu kami senantiasa ajarkan kepada anak-anak kami. “

    Kalau diijinkan saya ingin mendapatkan teks doa tersebut beserta artinya. Terimakasih atas perkenannya.

  12. Budi Hikmat Says:

    Wa alaikum salam, doa anak kepada orang tua sangat populer (variasi dari Surat Al Isra 24): Rabbigfirli waliwaa lidayya warham huma kama robbayani shogiro. Adapun doa orang tua kepada anak ada di surat Al Furqoon (25) ayat 74.

    Setelah pemuatan pengalaman spiritual haji, kami menerima pertanyaan seperti ini dan sudah menyiapkan latar belakang kedua doa tersebut. Sekira Mbak tertarik, silakan email ke budi_hikmat@yahoo.com. Salam. Budi Hikmat

  13. Titie03 Says:

    Assalamu’alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

    Subhanallah…
    Bertambah kerinduan dan Cinta ini akan kasih sayang Allah yang begitu nyata setelah membaca kesaksian haji.
    semoga kita umat muslim dapat merasakan kebahagiaan yang sama setelah membacanya. walaupun ada sebagian dari kita yang belum mampu untuk berhaji.. dan berharap semoga Allah SWT memberikan kemudahan untuk kita beribadah lebih baik lagi…

  14. Nurul Nuraini Says:

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Subhanaah……. Allah Maha Besar.

    Saya terharu, gemetar dan menitikan air mata membaca tulisan bapak budi, Saya ingin sekali menaikkan haji kedua orang tua saya, dan saya bersama pun ingin . tai semoga Allah mendengar do’a kami. Pak Budi ayat apakah yang menyatakan “Bersih, sabar , syukur dan Ilmu. Maklum pak saya ndak hapal Al Quran . Trim sebelumnya.

  15. donny darmawan Says:

    ass.wr.wb. membaca kisah anda teringatkan saya akan umrah saya sebulan yg lalu… demi Allah tidak ada tmpt yg plng indah di dunia ini selain madinnah dan mekkah… mesjid termegah tiada duanya… tmpt yg penuh dgn mukjizat2 Allah dan berkahNya….

  16. Fathamsyah Says:

    Mendengar kisah-kisah terebut saya jadi teringan dengan kebesaran Allah Swt…Bahwa Allah itu maha besar dan maha penyayang…Sebagaimana Manusia wajib menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangnnya…

  17. Maman Surahman Says:

    Kisah yang sarat dengan hikmah, sesungguhnya Alloh tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang benar-benar rindu akan rahmat dan Ridho-Nya. Ya Alloh, limpahkanlah rahmat dan Ridho-Mu kepada kami, amien. Dan mudahkan urusan kami (dunia dan akherat) dan terimalah segala amal ibadah kami, amien….

  18. Didi Says:

    Saya sangat terhar membaca cerita-cerita diatas.
    Saya sangat menginginkan orangtua saya untuk dapat berangkat kesana.
    Semoga Allah memberi jalan.

  19. Budhi Says:

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Subhanaah……. Allah Maha Besar.

    Saya sangat terharu dengan uraian pengalaman bp. Budi, sangat nikmat sekali bisa beribadah ditanah suci. Insya Allah tahun ini saya dan istri di izinkan Allah untuk beribadah haji ditahun ini, amien. Boleh saya mendapatkan doa yang bp. Budi lakukan saat berhaji tersebut, terimakasih.

    Wasalam

  20. syarief oebaidillah/Oebay Says:

    ASSALAMUALAIKUM, WR.WB,
    Subhanallah, walhamdulillah, Allah maha Besar, pengalaman saudara budi membuktikan kebesaran Allah, bagi hambanya yang ikhlas untuk beribadah kepada Nya menuju ke tanah suci. Innama amruhu idja aroda syai an an yakula lahu kun fayakun,:Kalau Allah sudah berkehendak Dia hanya cukup berkata Kun jadilah maka jadilah iya, (QS Yasin ayat 82)>Subhanallah semoga kita yang membacanya dapat mengambil hikmat dari pengalaman haji budi dan keluarganya. dan bagi anda sdr budi semoga antum dan keluarga meraih haji yang mabrur yang mendapat perubahan kehidupan yang lebih baik pasca haji dalam beribadah,bermuamalah dan bermasyarakat, aamin. wassalam,Oebay di ciputat

Leave a Reply