Kesaksian Spiritual Haji

Oleh H. Budi Hikmat, kontributor ceritahaji.com di Depok

(Halaman 5 dari 6 halaman)

Sai’: Kuatkan Dirimu Dalam Beriktiar

Berbeda dengan tawaf yang pasif, ketika menunaikan Sai jemaah harus aktif menguatkan ikhtiar. Kewajiban setiap muslim hanyalah berikhtiar sekuatnya. Jangan mengharapkan hasil lebih dulu. Sebab mengharapkan hasil setara menabur bibit kekecewaan yang engkau akan tuai apabila harapanmu tidak tergapai. Kuatkan ikhtiarmu, engkau akan menjadi seorang profesional dalam bidangmu. Hargai anakmu berdasarkan disiplinnya mengerjakan tugas, bukan dari nilai yang dia peroleh. Hargai kegigihan ikhtiar suamimu mencari nafkah, bukan besar uang yang dibawanya pulang.

Alhamdulillah Sai dapat kami tunaikan dengan lancar. Seorang teman menceritakan ‘teguran’ untuk istrinya saat Sai. Sang istri terlepas dari pegangannya. Seolah hilang tertelan di antara kerumunan orang banyak. Sang istri dijumpanya kembali di penginapan dalam keadaan menangis. Temanku menceritakan langsung bahwa kejadian itu hanya terjadi seketika. Beberapa detik saja. Dia tidak menemukan istrinya di daerah Sai.

Jumrah: Melempar Kejahatan Dalam Dirimu

Rangkaian ibadah yang cukup berat adalah melempar jumrah. Sebab seringkali, jemaah yang kurang memahami hakikatnya berdesakan hingga memakan korban.

Buku “Haji” Ali Syariati mengupas secara mendalam makna melempar jumrah. Ketiga berhala yang dilempar melambangkan tiga atribut Allah (Rabb, Maalik dan Ilah) yang ingin dimiliki makhluk. Hayatilah Surat Al Fatihah dan An Nass, pembuka dan penutup Al Quran. Keduanya memuat kesepadanan ketiga atribut Allah diatas. Ingatlah, sesungguhnya kita melempar kejahatan syetani yang ada di dalam diri kita. Jangan sampai justru kita yang meragakan syetan, melempar dengan penuh nafsu.

Aku berdoa kepada Allah untuk memberikan keselamatan dan kemudahan saat mengerjakan rangkaian ibadah ini. Aku berkonsentrasi menghayati kedua surat diatas, banyak beristifgar, dan menunggu bimbingan. Kembali “suara” itu terdengar menunjukkan jalan, belok kiri atau belok kanan. Setelah menunaikan lemparan salah satu jumrah, kami menepi untuk berdoa, bersyukur kepada Allah.

Tidak terlupakan saat “suara” itu menyuruhku berhenti padahal kulihat ada jarak untuk masuk mendekati Jumrah Aqobah. Tiba-tiba aku merasa mengerti maksudnya. Jarak itu berguna untuk menyelamatkan jemaah yang berada di depan dari tekanan orang yang datang. Seorang jemaah yang ingin keluar memelukku. Ia berterima kasih mendapatkan ruangan. Kemudian kami dapat masuk mendekati jumrah. Melempar untuk diri sendiri dan anggota jemaah yang berhalangan. Saking dekatnya dengan jumrah, terasa beberapa kali kepalaku menerima lemparan batu kecil.

Arafah: Padang Kebijakan

Arafah puncak haji. Tidak sah haji tanpa kehadiran di Arafah. Meski menemukan banyak pepohonan hijau, daerah itu sangat panas. Setelah mendengar kutbah Arafah, kami keluar mencari tempat sendiri-sendiri untuk merenung. Ada buku doa Arafah milik anggota jemaah yang kubaca. Bagus sekali isinya. Sampai menangis. Lalu buku itu diedarkan untuk dibaca jemaah lain. Istriku sangat tertarik dengan buku itu. Sepulang haji, ia mengcopy beberapa eksemplar untuk dibagikan kepada jemaah calon haji.

Setelah berdoa, aku tertarik memantau kondisi sekitar. Sebagaimana di Mina, begitu banyak sampah di Arafah. Terutama bekas makanan dan minuman yang melimpah di tempat itu. Banyak orang berderma membagikan makanan kepada jemaah. Aku berdisplin tidak ingin membuang sampah sembarangan. Bila ada kesempatan membersihkan sampah, aku berdoa “Ya Allah, sebagaimana hambaMu ini tidak ingin mengotori bumiMu yang suci, maka sucikan pula hati hamba dari kemusyrikan dan kemunafikan”.

Doa Orang Tua Terkabul

Begitu banyak kenikmatan yang kami rasakan selama menunaikan ibadah membuatku bertanya. Mengapa semua kemudahan itu aku rasakan? Pertanyaan itu kuajukan setelah selesai sholat di lantai dua Masjidil Haram menghadap ke Multazam. Terdengar kembali ‘suara’ itu menjawab: “Itu karena doa Ibumu…”

Sontak aku menangis terharu. Tidak mempedulikan tangis itu bakal terdengar siapa saja. Berkali-kali aku memanggil ibuku. Untuk berterima kasih. Allah menitipkan kasihNya kepada setiap orang tua, terutama Ibu, agar kita mengenal cintaNya.

Aku teringat ‘kebangkitan’ spiritualku awal 1997. Hanyalah doa ibu yang menyelamatkanku dari goncangan kejiwaan saat pertama kali aku mendengar ‘suara-suara.’ Saat semua orang tidak berdaya dengan masalahku, ibuku datang. Kukatakan kepada beliau bahwa aku sedang mengalami “sesuatu”. Aku hanya minta didoakan keselamatan. Aku sangat menyakini doa Ibu sangat mustajab. Tidak terhalang atau mampu dihalangi oleh syetan atau iblis durjana sekalipun. Ibuku lalu mengajarkan sepasang doa. Doa pertama dibaca oleh sang anak. Kemudian dibalas oleh orang tua. Doa itu kami senantiasa ajarkan kepada anak-anak kami. Dan Ibuku benar. Setelah didoakan keadaanku membaik. Kemudian ‘suara’ itu menjelaskan banyak hal, termasuk kandungan surat Al Fatihah. Peristiwa itu kami abadikan sebagai nama putri kami Dina Zahra Fatihah.

Dalam keharuan, aku menyampaikan kesaksian kepada Allah bahwa kedua orang tuaku telah menunaikan amanah mereka mendidik anak-anaknya dengan sebaik-baiknya. Aku mendoakan kebaikan untuk keduanya. Di sanalah, aku berdoa kepada Allah semoga mudah menghapalkan ayat 23 dan 24 surat Al Israa’ untuk bacaan sholat:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.

Sobatku, bacalah dan hafalkan ayat itu dengan tartil. Nikmatilah alunan Firman Allah itu. Resapi pesan moral yang dikandung. Ada awal untuk menghadirkan dan menikmati Tuhan melalui kepandaian kita berterima kasih menghargai pengorbanan orang tua.

Pages: 1 2 3 4 5 6

20 Responses to “Kesaksian Spiritual Haji”

  1. Susilo Zulfachmi Says:

    Tulisan dan kesaksian ini sangat menyentuh penuh makna dan isyarat, mengingatkan saya khususnya sebagai manusia biasa yang penuh dengan noda dan dosa akan kebesaran-Nya.

  2. Anonim Says:

    Waduh, jadi inget nich ama Pak Budi Hikmat…..mohon maaf, Pak Budi Hikmat, saya lupa mengucapkan terima kasih atas kiriman buku doa haji untuk persiapan berangkat haji tahun 2004 dulu.

    Saya juga mempunyai pengalaman spiritual saat haji 2004 dulu. Sehari sepulang dari Mina, saya mimpi melihat wajah jodoh saya (wajah yg semula tidak saya kenal). Dan ternyata mimpi itu menjadi kenyataan

  3. amelia Says:

    Membaca kesaksian ini hati saya berdesir-desir, bahkan saya berusaha keras untuk menahan air mata sy keluar, tp hati sy merintih dan menangis, mengingat dosa-dosa. Subhanallah, Allahu Akbar.

  4. Dedy Widyanto Says:

    sangat senang saya membaca kesaksian ini.
    meskipun saya belum dalam mengerti soal agama.
    tapi saya sangat senang dan merasa terharu.

    ingin rasanya mengantarkan ayah dan ibu saya pergi haji.
    Amin

  5. ade Says:

    membaca kesaksian ini jadi terharu , ingat akan dosa2 yang pernah hamba lakukan dan bahkan sering hamba lakukan dgn sengaja maupun tidak.
    akan kah hamba seberuntung beliau…. i wish that

    ingin rasanya hamba mengantarkan ayah dan ibu menunaikan haji… insya Allah
    ya Allah… berilah hamba kemudahan dan kelancaran.
    amien

  6. Umar Says:

    Membaca kesaksian itu, saya sangat terharu, saya ingat akan dosa2ku kepada kedua orang tuaku.
    akan saya beruntung seperti itu. Hanya Allah SWT yang maha tahu.
    ingin hamba mau menunaikan ibadah haji setelah aku menikah tahun ini bersama calon istriku yang tercinta..
    Ya Allah ….. segerakan kami menikah ya Allah, berikan kami rezeki yang barokah untuk memudahkan dan kelancaran niatku ini ya Allah… amin ya Robil Alamin/

  7. nargis Says:

    Membaca kesaksian ini saya jadi ingat kembali kenangan waktu saya (Yang sudah cukup tua) berhaji di tahun 2000.
    Ya Rahman Engkau maha kasih dan sealau membayar penuh amal ibadah hambamu dengan pahala dan bimbingan.

  8. iqbal Abdul Jabbar Says:

    Saya sangat terkesan dengan kisah rohani yang Bapak Budi dan Ibu alami. Tentunya semua umat islam menginginkan juga apa yang telah dirasakan Bapak dan Ibu. Terutama saya yang sekarang ini kepingin sekali membantu orang tua saya yang sudah tua dan mengimpikan serta menyebut2 terus untuk menunaikan rukun islam yang kelima tersebut. Saya memang punya niat apabila mendapatkan bagian dari watrisan dari Eyang saya dan kakeknya Ibu saya dana tersebut akan dipergunakan untuk kesana, namun sayang niat itu masih ada kata mungkin dikarenakan tanah warisan tersebut ada orang lain yang mengakuinya juga setelah harga tanah tersebut bernilai jual. Saya yangmengurus tanah tersebut hanya berdoa dan mengharapkan petunjuk serta bimbingan dari Allah SWT untuk dapat mengemban amanah ini dan diberikan kemudahan agar niat orang tua saya benar2 dapat terwujud dengan izin Allah SWT. Semoga kebenaran selalu mendampingi saya. amin.

  9. Rakyat anti Pungli Says:

    PESAN MORAL UNTUK PENGURUS HAJI :

    Karena saya mencintai Anda, wahai kawan-kawan di DEPAG pusat maupun daerah. Tolong jangan menyimpang atau melakukan pungli sekecil apapun ketika anda mengurusi calon haji.

    Demi Allah, para jama’ah khususnya yang pas-pasan, mereka telah susah mengumpulkan rupiah demi rupiah karena ingin naik haji. Dengan dalih ini-itu, tanpa dasar dan anda melakukan pungli, itu dosa besar !

    MINTALAH KWITASI JIKA ANDA DISURUH MEMBAYAR SESUATU, SELAIN ADA KEPUTUSAN MENTERI AGAMA RI.

    LAPORKAN SAJA OKNUM YANG MELAKUKAN PUNGLI, TANGKAP DAN ADILI. KARENA KURANG AJAR PERBUATAN PUNGLI ITU …..

  10. joice Says:

    assalammualaikum wr,wb
    cerita anda benar benar bagus, hampir sama dengan yg saya alami sekarang ini. keinginan saya yg begitu besar untuk menunaikan ibadah haji, sehingga saya selalu mohon kepada ALLAH dalam doa dan sholat saya agar saya diijinkan untuk pergi haji. dan ALLAH mendengar doa saya. suami saya dapat rejeki yg tak diduga yaitu dengan jalan dapat komisi penjualan tanah, sedangkan tanah tersebut tadinya milik kami tapi sudah kami jual ditahun 2004 awal uang nya untuk bayar onh suami saya pada saat itu saya tidak ikut karna saya masih punya anak bayi. dan ditahun ini orang yg membeli tanah tersebut menyuruh kami untuk menjualkan lagi. dan alhamdulillah kami mendapat bagian jadi saya dan suami saya pergi haji karna rejeki ditanah itu amin amin amin ya robbal alamin. doakan saya yah mudah mudahan saya bisa berangkat ditahun ini juga karna tidak ada yg tidak mungkin dimata ALLAH. karna memang itu keinginan saya semoga ALLAH mengabulkan doa saya lagi amin amin amin ya robbal alamin

  11. kusmaningrum Says:

    Assalamualaikum Wr. Wb.,
    Yh. Bapak/Ibu Budi Hikmat dan Adelina Syarif
    “Aku sangat menyakini doa Ibu sangat mustajab. Tidak terhalang atau mampu dihalangi oleh syetan atau iblis durjana sekalipun. Ibuku lalu mengajarkan sepasang doa. Doa pertama dibaca oleh sang anak. Kemudian dibalas oleh orang tua. Doa itu kami senantiasa ajarkan kepada anak-anak kami. “

    Kalau diijinkan saya ingin mendapatkan teks doa tersebut beserta artinya. Terimakasih atas perkenannya.

  12. Budi Hikmat Says:

    Wa alaikum salam, doa anak kepada orang tua sangat populer (variasi dari Surat Al Isra 24): Rabbigfirli waliwaa lidayya warham huma kama robbayani shogiro. Adapun doa orang tua kepada anak ada di surat Al Furqoon (25) ayat 74.

    Setelah pemuatan pengalaman spiritual haji, kami menerima pertanyaan seperti ini dan sudah menyiapkan latar belakang kedua doa tersebut. Sekira Mbak tertarik, silakan email ke budi_hikmat@yahoo.com. Salam. Budi Hikmat

  13. Titie03 Says:

    Assalamu’alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

    Subhanallah…
    Bertambah kerinduan dan Cinta ini akan kasih sayang Allah yang begitu nyata setelah membaca kesaksian haji.
    semoga kita umat muslim dapat merasakan kebahagiaan yang sama setelah membacanya. walaupun ada sebagian dari kita yang belum mampu untuk berhaji.. dan berharap semoga Allah SWT memberikan kemudahan untuk kita beribadah lebih baik lagi…

  14. Nurul Nuraini Says:

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Subhanaah……. Allah Maha Besar.

    Saya terharu, gemetar dan menitikan air mata membaca tulisan bapak budi, Saya ingin sekali menaikkan haji kedua orang tua saya, dan saya bersama pun ingin . tai semoga Allah mendengar do’a kami. Pak Budi ayat apakah yang menyatakan “Bersih, sabar , syukur dan Ilmu. Maklum pak saya ndak hapal Al Quran . Trim sebelumnya.

  15. donny darmawan Says:

    ass.wr.wb. membaca kisah anda teringatkan saya akan umrah saya sebulan yg lalu… demi Allah tidak ada tmpt yg plng indah di dunia ini selain madinnah dan mekkah… mesjid termegah tiada duanya… tmpt yg penuh dgn mukjizat2 Allah dan berkahNya….

  16. Fathamsyah Says:

    Mendengar kisah-kisah terebut saya jadi teringan dengan kebesaran Allah Swt…Bahwa Allah itu maha besar dan maha penyayang…Sebagaimana Manusia wajib menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangnnya…

  17. Maman Surahman Says:

    Kisah yang sarat dengan hikmah, sesungguhnya Alloh tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang benar-benar rindu akan rahmat dan Ridho-Nya. Ya Alloh, limpahkanlah rahmat dan Ridho-Mu kepada kami, amien. Dan mudahkan urusan kami (dunia dan akherat) dan terimalah segala amal ibadah kami, amien….

  18. Didi Says:

    Saya sangat terhar membaca cerita-cerita diatas.
    Saya sangat menginginkan orangtua saya untuk dapat berangkat kesana.
    Semoga Allah memberi jalan.

  19. Budhi Says:

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Subhanaah……. Allah Maha Besar.

    Saya sangat terharu dengan uraian pengalaman bp. Budi, sangat nikmat sekali bisa beribadah ditanah suci. Insya Allah tahun ini saya dan istri di izinkan Allah untuk beribadah haji ditahun ini, amien. Boleh saya mendapatkan doa yang bp. Budi lakukan saat berhaji tersebut, terimakasih.

    Wasalam

  20. syarief oebaidillah/Oebay Says:

    ASSALAMUALAIKUM, WR.WB,
    Subhanallah, walhamdulillah, Allah maha Besar, pengalaman saudara budi membuktikan kebesaran Allah, bagi hambanya yang ikhlas untuk beribadah kepada Nya menuju ke tanah suci. Innama amruhu idja aroda syai an an yakula lahu kun fayakun,:Kalau Allah sudah berkehendak Dia hanya cukup berkata Kun jadilah maka jadilah iya, (QS Yasin ayat 82)>Subhanallah semoga kita yang membacanya dapat mengambil hikmat dari pengalaman haji budi dan keluarganya. dan bagi anda sdr budi semoga antum dan keluarga meraih haji yang mabrur yang mendapat perubahan kehidupan yang lebih baik pasca haji dalam beribadah,bermuamalah dan bermasyarakat, aamin. wassalam,Oebay di ciputat

Leave a Reply