Kesaksian Spiritual Haji
Oleh H. Budi Hikmat, kontributor ceritahaji.com di Depok
(Halaman 3 dari 6 halaman)
Tawaf Latihan Berislam
Buku Haji karangan Dr. Ali Syariati - semoga Allah membalas kemurahannya membagi ilmu - menegaskan jemaah haji hendaknya berlaku pasif selagi tawaf. Pasif dalam kepasrahan sepenuhnya mengikuti simulasi gerak objek semesta di dalam orbitnya masing-masing mengelilingi pusat semesta. Pasif seperti elektron berotasi seputar inti atom. Pasif seperti aliran sungai menuju samudera. Jemaah harus menghindari lonjakan ekspresi hawa nafsu yang menimbulkan gesekan atau membuat diri terlempar keluar orbit. Pasrahkan jiwa sepenuhnya di dalam genggaman pengaturan dan pewalian Allah. Leburlah diri di dalam penghayatan doa yang melantunkan kepapaan hamba di hadapan Allah, Rabb Semesta Alam Yang Maha Perkasa dan Maha Agung.
Aku memperingatkan istri untuk disiplin menghayati makna tawaf itu. Ketika memulai tawaf haji, kami memutuskan untuk mendekap sikut sebab kuatir tidak sengaja menyikut orang lain. Pandangan kami lebih sering tertumpu ke lantai. Bila ada barang yang dapat mengganggu, seperti tissue atau peniti, kami pungut sembari berdoa: “Ya Allah, sebagaimana hambaMu membuang halangan ini, maka hilangkan pula halangan dalam perjalanan hidup hamba.†Kami bergerak mengambang mengikuti arus. Pada putaran keenam kami terdorong mendekati bangunan Kabah hingga menempel di dindingnya. Alhamdulillah, aku tetap diberikan disiplin memperingatkan diri sendiri dan istri, “Ingat, ini hanya batu bangunan biasa. Tidak memberikan mudharat atau manfaat. Kalau ingin menyentuhnya, sentuh saja sekarang tanpa mengharap apa-apa.†Kami menempelkan tangan sekali di dinding Kabah. Lalu melanjutkan tawaf.
Kesempatan Mencium Hajar Aswad
Melewati Rukun Yamani, kami melihat banyak orang berebut ingin mencium Hajar Aswad. Dalam hati aku merintih, “Ya Allah, tentu saja hambaMu ini ingin mengikuti sunah rasulMu mencium Hajar Aswad. Namun bila untuk itu kami harus menyakiti orang lain, kami tidak mau.â€
Terdengar ’suara’, “InsyaAllah, engkau akan diberikan kesempatan mencium Hajar Aswad.†Tangan kananku tak terkendali bergerak sehingga terkecup bibir. Aku sampaikan pesan ’suara’ itu kepada istriku Adelina yang rapat memegang pinggangku.
Kami terus ikut mengambang mendekati Hajar Aswad.
Ketika jaraknya semakin mendekat, kulihat seorang mengambil tongkat dari balik gamisnya. Aku kaget. Untuk apa tongkat itu? Ketika memperhatikan orang-orang saling berebut, aku sempat histeris dan memperingatkan semua orang dalam bahasa Indonesia dan Inggris, “Jangan menyakiti orang di sini. Don’t hurt anybody here!†Teriakku lantang beberapa kali.
Situasi tidak membaik. Akhirnya aku kembali membathin.
“Ya Allah, hambaMu ini tidak ingin mencium Hajar Aswad sebab nanti akan menyakiti orang lain.†Kami kemudian terdorong keluar mendekati Maqom Ibrahim dan sudah memulai putaran ketujuh. Terakhir! Ya, itu putaran terakhir. Jadi tidak mencium Hajar Aswad adalah ketentuan Allah. Kami pasrah.
Tiba-tiba aku teringat bahwa tempat sesuci ini tentunya dijaga oleh banyak Malaikat. Lalu kucoba membuka komunikasi, meminta mereka untuk mendoakan kami.
“Wahai para Malaikat yang menjaga tempat ini, tidakkah kalian ketahui bahwa selama ini aku selalu mengakui keberadaan kalian dengan berdzikir kepada Allah. Dengan membacakan ayat suci Al Quran yang mengabadikan pernyataan kalian pada saat-saat awal penciptaan Adam.†Sepulang haji sering kurenungkan mengapa kata ‘kalian’ terpilih digunakan kepada Malaikat yang suci? Rasanya pilihan kata itu arogan. Apakah kata itu terpaksa kupilih sekedar untuk mendudukkan keistimewaan manusia dibanding Malaikat di hadapan Allah?
Setelah membaca ‘super-istigfar’ aku lalu melafazkan Al Baqarah ayat 32 yang memuat pengakuan para Malaikat.
“Subhanaka laa ilmalanaa illa maa allam tanaa innaka antal ‘alimul hakiim.†Maha Suci Engkau. Tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Terdengar kembali suara, “Bersabarlah sebentar di sini.†Tidak ada lagi yang kukerjakan kecuali bersabar. Tidak memaksakan diri. Tenang-tenang saja menunggu giliran. Kami semakin mendekati Hajar Aswad. Terlihat dua orang wanita tipikal Timur Tengah. Salah satu dari keduanya berteriak lantang kepada orang-orang sekitar. Mungkin mereka mengharapkan para laki-laki memberi mereka kesempatan mencium Hajar Aswad.
Rasanya tidak terduga kami sudah berada tepat di depan Hajar Aswad. Kucermati penampilannya. Nampak banyak tonjolan seperti batu bopeng. Tanganku bergerak mengusap. Dingin. Tak terasa istimewa. Aku tidak menciumnya. Mungkin karena tadi tanganku telah kukecup. Kemudian kuminta istriku untuk menciumnya. Dia kaget dengan kesempatan ini. Dia nampak ragu dan memberikan dulu kesempatannya kepada dua orang wanita tadi dengan bahasa Inggris seadanya. “Sisters, kiss… kiss.†Kedua wanita itu mencium Hajar Aswad bergantian. Istriku tetap bengong menatap Hajar Aswad. Suatu kesempatan yang sangat langka mengingat demikian banyaknya orang di situ. Waktu serasa berhenti untuk kami. Hingga aku terpaksa berteriak, “Adek, cepat cium!†Lalu istriku menciumnya. Dua kali. Aku melihat seorang di depan kami berteriak lantang menunjuk ke arah kami.
“Barkah…barkah… barkah!â€
Oh, anak-anak kami. Pahamilah kesaksikan ini sebagai tanda keberadaan Tuhan kita. Berislam sesungguhnya mendidik jiwa menghayati ketentuan dan pewalian Allah sajalah yang terbaik. Ya Allah, karuniakan kepada kami lebih banyak kesaksian nikmatnya hanya menjadi hambaMu.
December 22nd, 2005 at 9:19 am
Tulisan dan kesaksian ini sangat menyentuh penuh makna dan isyarat, mengingatkan saya khususnya sebagai manusia biasa yang penuh dengan noda dan dosa akan kebesaran-Nya.
January 23rd, 2006 at 1:16 pm
Waduh, jadi inget nich ama Pak Budi Hikmat…..mohon maaf, Pak Budi Hikmat, saya lupa mengucapkan terima kasih atas kiriman buku doa haji untuk persiapan berangkat haji tahun 2004 dulu.
Saya juga mempunyai pengalaman spiritual saat haji 2004 dulu. Sehari sepulang dari Mina, saya mimpi melihat wajah jodoh saya (wajah yg semula tidak saya kenal). Dan ternyata mimpi itu menjadi kenyataan
January 24th, 2006 at 2:35 pm
Membaca kesaksian ini hati saya berdesir-desir, bahkan saya berusaha keras untuk menahan air mata sy keluar, tp hati sy merintih dan menangis, mengingat dosa-dosa. Subhanallah, Allahu Akbar.
January 27th, 2006 at 5:08 pm
sangat senang saya membaca kesaksian ini.
meskipun saya belum dalam mengerti soal agama.
tapi saya sangat senang dan merasa terharu.
ingin rasanya mengantarkan ayah dan ibu saya pergi haji.
Amin
February 22nd, 2006 at 1:58 pm
membaca kesaksian ini jadi terharu , ingat akan dosa2 yang pernah hamba lakukan dan bahkan sering hamba lakukan dgn sengaja maupun tidak.
akan kah hamba seberuntung beliau…. i wish that
ingin rasanya hamba mengantarkan ayah dan ibu menunaikan haji… insya Allah
ya Allah… berilah hamba kemudahan dan kelancaran.
amien
March 4th, 2006 at 12:36 am
Membaca kesaksian itu, saya sangat terharu, saya ingat akan dosa2ku kepada kedua orang tuaku.
akan saya beruntung seperti itu. Hanya Allah SWT yang maha tahu.
ingin hamba mau menunaikan ibadah haji setelah aku menikah tahun ini bersama calon istriku yang tercinta..
Ya Allah ….. segerakan kami menikah ya Allah, berikan kami rezeki yang barokah untuk memudahkan dan kelancaran niatku ini ya Allah… amin ya Robil Alamin/
March 6th, 2006 at 1:18 pm
Membaca kesaksian ini saya jadi ingat kembali kenangan waktu saya (Yang sudah cukup tua) berhaji di tahun 2000.
Ya Rahman Engkau maha kasih dan sealau membayar penuh amal ibadah hambamu dengan pahala dan bimbingan.
April 2nd, 2006 at 11:34 pm
Saya sangat terkesan dengan kisah rohani yang Bapak Budi dan Ibu alami. Tentunya semua umat islam menginginkan juga apa yang telah dirasakan Bapak dan Ibu. Terutama saya yang sekarang ini kepingin sekali membantu orang tua saya yang sudah tua dan mengimpikan serta menyebut2 terus untuk menunaikan rukun islam yang kelima tersebut. Saya memang punya niat apabila mendapatkan bagian dari watrisan dari Eyang saya dan kakeknya Ibu saya dana tersebut akan dipergunakan untuk kesana, namun sayang niat itu masih ada kata mungkin dikarenakan tanah warisan tersebut ada orang lain yang mengakuinya juga setelah harga tanah tersebut bernilai jual. Saya yangmengurus tanah tersebut hanya berdoa dan mengharapkan petunjuk serta bimbingan dari Allah SWT untuk dapat mengemban amanah ini dan diberikan kemudahan agar niat orang tua saya benar2 dapat terwujud dengan izin Allah SWT. Semoga kebenaran selalu mendampingi saya. amin.
April 8th, 2006 at 10:08 pm
PESAN MORAL UNTUK PENGURUS HAJI :
Karena saya mencintai Anda, wahai kawan-kawan di DEPAG pusat maupun daerah. Tolong jangan menyimpang atau melakukan pungli sekecil apapun ketika anda mengurusi calon haji.
Demi Allah, para jama’ah khususnya yang pas-pasan, mereka telah susah mengumpulkan rupiah demi rupiah karena ingin naik haji. Dengan dalih ini-itu, tanpa dasar dan anda melakukan pungli, itu dosa besar !
MINTALAH KWITASI JIKA ANDA DISURUH MEMBAYAR SESUATU, SELAIN ADA KEPUTUSAN MENTERI AGAMA RI.
LAPORKAN SAJA OKNUM YANG MELAKUKAN PUNGLI, TANGKAP DAN ADILI. KARENA KURANG AJAR PERBUATAN PUNGLI ITU …..
May 16th, 2006 at 2:39 pm
assalammualaikum wr,wb
cerita anda benar benar bagus, hampir sama dengan yg saya alami sekarang ini. keinginan saya yg begitu besar untuk menunaikan ibadah haji, sehingga saya selalu mohon kepada ALLAH dalam doa dan sholat saya agar saya diijinkan untuk pergi haji. dan ALLAH mendengar doa saya. suami saya dapat rejeki yg tak diduga yaitu dengan jalan dapat komisi penjualan tanah, sedangkan tanah tersebut tadinya milik kami tapi sudah kami jual ditahun 2004 awal uang nya untuk bayar onh suami saya pada saat itu saya tidak ikut karna saya masih punya anak bayi. dan ditahun ini orang yg membeli tanah tersebut menyuruh kami untuk menjualkan lagi. dan alhamdulillah kami mendapat bagian jadi saya dan suami saya pergi haji karna rejeki ditanah itu amin amin amin ya robbal alamin. doakan saya yah mudah mudahan saya bisa berangkat ditahun ini juga karna tidak ada yg tidak mungkin dimata ALLAH. karna memang itu keinginan saya semoga ALLAH mengabulkan doa saya lagi amin amin amin ya robbal alamin
May 30th, 2006 at 4:09 pm
Assalamualaikum Wr. Wb.,
Yh. Bapak/Ibu Budi Hikmat dan Adelina Syarif
“Aku sangat menyakini doa Ibu sangat mustajab. Tidak terhalang atau mampu dihalangi oleh syetan atau iblis durjana sekalipun. Ibuku lalu mengajarkan sepasang doa. Doa pertama dibaca oleh sang anak. Kemudian dibalas oleh orang tua. Doa itu kami senantiasa ajarkan kepada anak-anak kami. “
Kalau diijinkan saya ingin mendapatkan teks doa tersebut beserta artinya. Terimakasih atas perkenannya.
June 2nd, 2006 at 4:36 pm
Wa alaikum salam, doa anak kepada orang tua sangat populer (variasi dari Surat Al Isra 24): Rabbigfirli waliwaa lidayya warham huma kama robbayani shogiro. Adapun doa orang tua kepada anak ada di surat Al Furqoon (25) ayat 74.
Setelah pemuatan pengalaman spiritual haji, kami menerima pertanyaan seperti ini dan sudah menyiapkan latar belakang kedua doa tersebut. Sekira Mbak tertarik, silakan email ke budi_hikmat@yahoo.com. Salam. Budi Hikmat
July 6th, 2006 at 3:11 pm
Assalamu’alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh
Subhanallah…
Bertambah kerinduan dan Cinta ini akan kasih sayang Allah yang begitu nyata setelah membaca kesaksian haji.
semoga kita umat muslim dapat merasakan kebahagiaan yang sama setelah membacanya. walaupun ada sebagian dari kita yang belum mampu untuk berhaji.. dan berharap semoga Allah SWT memberikan kemudahan untuk kita beribadah lebih baik lagi…
July 27th, 2006 at 12:19 pm
Assalamualaikum Wr.Wb.
Subhanaah……. Allah Maha Besar.
Saya terharu, gemetar dan menitikan air mata membaca tulisan bapak budi, Saya ingin sekali menaikkan haji kedua orang tua saya, dan saya bersama pun ingin . tai semoga Allah mendengar do’a kami. Pak Budi ayat apakah yang menyatakan “Bersih, sabar , syukur dan Ilmu. Maklum pak saya ndak hapal Al Quran . Trim sebelumnya.
September 29th, 2006 at 5:09 pm
ass.wr.wb. membaca kisah anda teringatkan saya akan umrah saya sebulan yg lalu… demi Allah tidak ada tmpt yg plng indah di dunia ini selain madinnah dan mekkah… mesjid termegah tiada duanya… tmpt yg penuh dgn mukjizat2 Allah dan berkahNya….
October 17th, 2006 at 3:29 pm
Mendengar kisah-kisah terebut saya jadi teringan dengan kebesaran Allah Swt…Bahwa Allah itu maha besar dan maha penyayang…Sebagaimana Manusia wajib menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangnnya…
November 1st, 2006 at 2:41 pm
Kisah yang sarat dengan hikmah, sesungguhnya Alloh tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang benar-benar rindu akan rahmat dan Ridho-Nya. Ya Alloh, limpahkanlah rahmat dan Ridho-Mu kepada kami, amien. Dan mudahkan urusan kami (dunia dan akherat) dan terimalah segala amal ibadah kami, amien….
November 14th, 2006 at 11:47 am
Saya sangat terhar membaca cerita-cerita diatas.
Saya sangat menginginkan orangtua saya untuk dapat berangkat kesana.
Semoga Allah memberi jalan.
November 20th, 2006 at 1:02 am
Assalamualaikum Wr.Wb.
Subhanaah……. Allah Maha Besar.
Saya sangat terharu dengan uraian pengalaman bp. Budi, sangat nikmat sekali bisa beribadah ditanah suci. Insya Allah tahun ini saya dan istri di izinkan Allah untuk beribadah haji ditahun ini, amien. Boleh saya mendapatkan doa yang bp. Budi lakukan saat berhaji tersebut, terimakasih.
Wasalam
November 30th, 2006 at 10:16 pm
ASSALAMUALAIKUM, WR.WB,
Subhanallah, walhamdulillah, Allah maha Besar, pengalaman saudara budi membuktikan kebesaran Allah, bagi hambanya yang ikhlas untuk beribadah kepada Nya menuju ke tanah suci. Innama amruhu idja aroda syai an an yakula lahu kun fayakun,:Kalau Allah sudah berkehendak Dia hanya cukup berkata Kun jadilah maka jadilah iya, (QS Yasin ayat 82)>Subhanallah semoga kita yang membacanya dapat mengambil hikmat dari pengalaman haji budi dan keluarganya. dan bagi anda sdr budi semoga antum dan keluarga meraih haji yang mabrur yang mendapat perubahan kehidupan yang lebih baik pasca haji dalam beribadah,bermuamalah dan bermasyarakat, aamin. wassalam,Oebay di ciputat