Kesaksian Spiritual Haji
Oleh H. Budi Hikmat, kontributor ceritahaji.com di Depok
(Halaman 2 dari 6 halaman)
Salam untukmu wahai Nabi…
Perjalanan haji dimulai menyelesaikan ritual sholat Arbain dan berziarah ke tempat-tempat bersejarah di Madinah. Roudoh, wilayah sempit antara makam dan mimbar Nabi, sebagai tempat ijabah berdoa menjadi incaran para jamaah. Aku memutuskan untuk mengunjungi Roudoh di malam hari. Allah mengabulkan doaku. Tepat jam 2:30 aku terbangun, lalu mandi dan memilih pakaian bersih terbaik. Sepanjang jalan menuju masjid Nabawi dan Raudoh aku berdoa dan banyak mengirim sholawat untuk Nabi. Sepagi itu kulihat banyak orang berduyun ingin masuk Roudoh. Aku ikut antri. Informasi yang kuketahui Roudoh ditandai dengan karpet putih. Ketika merasa karpet yang diinjak berwarna putih, aku bertanya kepada seorang jamaah untuk menghilangkan keraguan. “Excuse me brother, where is Roudoh?â€
“This is Roudoh! Shalat here two rakaat.†Jawab laki-laki itu sangat bersahabat sambil memberikan tempatnya kepadaku untuk sholat. Saat selesai sholat dan berdoa, aku mendengar suara riuh askar yang melarang orang sholat di sekitar makam Nabi. Demikian kuat Islam menolak syirik.
Aku ingin mendekat menuju mimbar untuk sholat dan berdoa sekali lagi. Dengan perlahan berjingkat melewati celah sempit jemaah yang sedang sholat atau duduk. Dari arah berlawanan, nampak seorang laki-laki ingin keluar. Ia juga harus melewati barisan jemaah. Tiba-tiba badannya agak oleng, hampir terjatuh. Alhamdulillah, lengannya dapat kutahan supaya tidak jatuh. Aku tidak persis ingat mukanya, namun laki-laki itu mengecupkan tangan kanan di bibirnya. Nampak berdoa. Kemudian ia menempelkannya tangannya di dadaku. Kenangan yang tidak terlupakan. Sebab ketika mengunjungi lagi Roudah, ada tangan yang menahanku agar tidak terjatuh. Barangsiapa mengerjakan kebajikan dengan penuh keikhlasan, maka Allah tidak pernah menyia-nyiakan amalannya.
“Suara-Suara†Itu Kembali Terdengar
Jemaah haji senantisa kembali dengan cerita-cerita yang sering kali tidak masuk akal. Sahabat pembaca, sadarilah pengalaman mereka adalah kesaksian spiritual yang memantapkan keimanan. Boleh jadi pengalaman itu terdengar memalukan. Tetapi nikmatilah. Sebab itu teguran Allah di dunia. Pasti lebih ringan ketimbang di akhirat. Dan aku hanyalah menambah koleksi kesaksian itu.
Kesaksianku adalah kembali mendengar ’suara-suara’. Patut kuingatkan ’suara-suara’ itu bukan produk akustik yang dapat didengar setiap orang. ‘Suara-suara’ itu melintas di dalam hati dalam bentuk dialog maupun teguran. “Suara†itu mengurai hikmah di balik peristiwa, menjawab pertanyaan kritis, atau menyertai diri menghalau ketakutan. “Suara†itu sangat kuat saat menjalani ibadah tawaf.
Teguran Allah: Jangan Menunda Berbuat Baik
Saat itu kami telah mengenakan busana ikhrom. Baru tiba di sebuah penginapan di Mekkah dekat kawasan Pasar Seng dari miqot Bir Ali. Badanku terasa letih. Selain perjalanan cukup jauh dan lalu lintas Mekkah padat, jemaah harus memindahkan koper yang cukup berat. Sebagai yang pertama kali masuk kamar, aku merasa mendapat hak memilih tempat tidur yang paling menyenangkan. Kamar itu memuat lima tempat tidur, empat di antaranya bertingkat dua. Jadi tidak salah bila aku memilih tempat tidur tunggal. Aku merebahkan diriku sejenak, melepaskan penat.
Sayup terdengar satu per satu teman-temanku datang. Ada yang bergembira mendapat dipan bawah. Namun ada yang berceloteh sebab mesti menempati dipan atas. Kulirik yang terakhir datang adalah seorang kakek yang harus menempati dipan atas terakhir. Dan terjadilah konflik bathin.
Haruskah aku memberikan tempatku?
Karena merasa letih aku memutuskan untuk menunggu sampai teman-temanku saja yang menempati dipan bawah rela memberikan tempatnya. Tiba-tiba aku merasa mual. Dan muntah tak terkendali muncrat mengotori sepre. Tibatiba terdengar “suaraâ€: “Mengapa kamu seperti itu, padahal kamu sudah mengenakan ikhrom?â€
Segera aku istigfar. Ya Allah, ampunilah perbuatan buruk hambaMu. Muntahku tidak kunjung reda. Istriku datang menghampiri setelah diberitahu kondisiku. Kepadanya kubisikkan bahwa aku sedang ditegur. Akhirnya kuputuskan untuk membersihkan tempat tidurku dan memberikannya kepada sang kakek. “Pak, pindah saja ke tempat saya. Tetapi maaf yah, tempatnya agak kotor kena muntah.†Usulku sambil sambil membuka sepree untuk dipindahkan.
“Terima kasih Mas, nggak apa-apa kok. Tempatnya masih bersih.†Sang kakek itu menyetujui tawaranku. Namun, rasa mualku belum reda. Rasa malu bertambah ketika hampir semua jemaah sudah berangkat tawaf umrah dan pimpinan rombongan berkata: “Wah kalau Mas Budi masih sakit, tawaf umrahnya bisa diundur besok saja.â€
Tidak ada lain yang dapat kukerjakan kecuali memperbanyak istigfar. Sementara istri dengan setia menggosok minyak angin di sekitar leher dan dada. Secara berangsur badan terasa segar. Dan aku putuskan ikut rombongan terakhir untuk tawaf umrah.
Ada rasa takzim saat pertama kali memasuki pintu Babus Salam Masjidil Haram. Alhamdulillah, aku bisa melihat masjid itu. Teringat cerita seorang karibku yang lebih dulu pergi haji. Ada salah satu anggota jemaahnya yang tidak bisa melihat masjid sebesar itu. Jemaah itu baru bisa melihatnya setelah istigfar beberapa kali.
Karena pelataran utama padat sekali, kami memutuskan untuk tawaf di lantai dua yang lebih lowong. MasyaAllah!!!
Aku yang dikira kurang sehat ternyata mampu tawaf dengan semangat. Bahkan sering ditegur karena berada jauh di depan meninggalkan rombongan. Pimpinan rombongan kaget, “Lho, tadi Mas Budi kelihatannya sakit. Kok sekarang nampak sehat sekali?â€
Allah tidak saja Maha Pengampun, Allah membalas kebaikan dengan kebaikan. Aku mendapat ganti tempat tidur yang lebih baik. Lebih empuk, lebih dekat ke kamar mandi dan kamar makan. Juga ada jendela kaca sehingga aku bisa melihat kondisi jalan di luar. Subhanallah. Teguran itu pelajaran seumur hidupku.Tidak ada rasa malu sedikitpun untuk menceritakannya kepada siapapun. Berbuat baik jangan ditunda-tunda!
December 22nd, 2005 at 9:19 am
Tulisan dan kesaksian ini sangat menyentuh penuh makna dan isyarat, mengingatkan saya khususnya sebagai manusia biasa yang penuh dengan noda dan dosa akan kebesaran-Nya.
January 23rd, 2006 at 1:16 pm
Waduh, jadi inget nich ama Pak Budi Hikmat…..mohon maaf, Pak Budi Hikmat, saya lupa mengucapkan terima kasih atas kiriman buku doa haji untuk persiapan berangkat haji tahun 2004 dulu.
Saya juga mempunyai pengalaman spiritual saat haji 2004 dulu. Sehari sepulang dari Mina, saya mimpi melihat wajah jodoh saya (wajah yg semula tidak saya kenal). Dan ternyata mimpi itu menjadi kenyataan
January 24th, 2006 at 2:35 pm
Membaca kesaksian ini hati saya berdesir-desir, bahkan saya berusaha keras untuk menahan air mata sy keluar, tp hati sy merintih dan menangis, mengingat dosa-dosa. Subhanallah, Allahu Akbar.
January 27th, 2006 at 5:08 pm
sangat senang saya membaca kesaksian ini.
meskipun saya belum dalam mengerti soal agama.
tapi saya sangat senang dan merasa terharu.
ingin rasanya mengantarkan ayah dan ibu saya pergi haji.
Amin
February 22nd, 2006 at 1:58 pm
membaca kesaksian ini jadi terharu , ingat akan dosa2 yang pernah hamba lakukan dan bahkan sering hamba lakukan dgn sengaja maupun tidak.
akan kah hamba seberuntung beliau…. i wish that
ingin rasanya hamba mengantarkan ayah dan ibu menunaikan haji… insya Allah
ya Allah… berilah hamba kemudahan dan kelancaran.
amien
March 4th, 2006 at 12:36 am
Membaca kesaksian itu, saya sangat terharu, saya ingat akan dosa2ku kepada kedua orang tuaku.
akan saya beruntung seperti itu. Hanya Allah SWT yang maha tahu.
ingin hamba mau menunaikan ibadah haji setelah aku menikah tahun ini bersama calon istriku yang tercinta..
Ya Allah ….. segerakan kami menikah ya Allah, berikan kami rezeki yang barokah untuk memudahkan dan kelancaran niatku ini ya Allah… amin ya Robil Alamin/
March 6th, 2006 at 1:18 pm
Membaca kesaksian ini saya jadi ingat kembali kenangan waktu saya (Yang sudah cukup tua) berhaji di tahun 2000.
Ya Rahman Engkau maha kasih dan sealau membayar penuh amal ibadah hambamu dengan pahala dan bimbingan.
April 2nd, 2006 at 11:34 pm
Saya sangat terkesan dengan kisah rohani yang Bapak Budi dan Ibu alami. Tentunya semua umat islam menginginkan juga apa yang telah dirasakan Bapak dan Ibu. Terutama saya yang sekarang ini kepingin sekali membantu orang tua saya yang sudah tua dan mengimpikan serta menyebut2 terus untuk menunaikan rukun islam yang kelima tersebut. Saya memang punya niat apabila mendapatkan bagian dari watrisan dari Eyang saya dan kakeknya Ibu saya dana tersebut akan dipergunakan untuk kesana, namun sayang niat itu masih ada kata mungkin dikarenakan tanah warisan tersebut ada orang lain yang mengakuinya juga setelah harga tanah tersebut bernilai jual. Saya yangmengurus tanah tersebut hanya berdoa dan mengharapkan petunjuk serta bimbingan dari Allah SWT untuk dapat mengemban amanah ini dan diberikan kemudahan agar niat orang tua saya benar2 dapat terwujud dengan izin Allah SWT. Semoga kebenaran selalu mendampingi saya. amin.
April 8th, 2006 at 10:08 pm
PESAN MORAL UNTUK PENGURUS HAJI :
Karena saya mencintai Anda, wahai kawan-kawan di DEPAG pusat maupun daerah. Tolong jangan menyimpang atau melakukan pungli sekecil apapun ketika anda mengurusi calon haji.
Demi Allah, para jama’ah khususnya yang pas-pasan, mereka telah susah mengumpulkan rupiah demi rupiah karena ingin naik haji. Dengan dalih ini-itu, tanpa dasar dan anda melakukan pungli, itu dosa besar !
MINTALAH KWITASI JIKA ANDA DISURUH MEMBAYAR SESUATU, SELAIN ADA KEPUTUSAN MENTERI AGAMA RI.
LAPORKAN SAJA OKNUM YANG MELAKUKAN PUNGLI, TANGKAP DAN ADILI. KARENA KURANG AJAR PERBUATAN PUNGLI ITU …..
May 16th, 2006 at 2:39 pm
assalammualaikum wr,wb
cerita anda benar benar bagus, hampir sama dengan yg saya alami sekarang ini. keinginan saya yg begitu besar untuk menunaikan ibadah haji, sehingga saya selalu mohon kepada ALLAH dalam doa dan sholat saya agar saya diijinkan untuk pergi haji. dan ALLAH mendengar doa saya. suami saya dapat rejeki yg tak diduga yaitu dengan jalan dapat komisi penjualan tanah, sedangkan tanah tersebut tadinya milik kami tapi sudah kami jual ditahun 2004 awal uang nya untuk bayar onh suami saya pada saat itu saya tidak ikut karna saya masih punya anak bayi. dan ditahun ini orang yg membeli tanah tersebut menyuruh kami untuk menjualkan lagi. dan alhamdulillah kami mendapat bagian jadi saya dan suami saya pergi haji karna rejeki ditanah itu amin amin amin ya robbal alamin. doakan saya yah mudah mudahan saya bisa berangkat ditahun ini juga karna tidak ada yg tidak mungkin dimata ALLAH. karna memang itu keinginan saya semoga ALLAH mengabulkan doa saya lagi amin amin amin ya robbal alamin
May 30th, 2006 at 4:09 pm
Assalamualaikum Wr. Wb.,
Yh. Bapak/Ibu Budi Hikmat dan Adelina Syarif
“Aku sangat menyakini doa Ibu sangat mustajab. Tidak terhalang atau mampu dihalangi oleh syetan atau iblis durjana sekalipun. Ibuku lalu mengajarkan sepasang doa. Doa pertama dibaca oleh sang anak. Kemudian dibalas oleh orang tua. Doa itu kami senantiasa ajarkan kepada anak-anak kami. “
Kalau diijinkan saya ingin mendapatkan teks doa tersebut beserta artinya. Terimakasih atas perkenannya.
June 2nd, 2006 at 4:36 pm
Wa alaikum salam, doa anak kepada orang tua sangat populer (variasi dari Surat Al Isra 24): Rabbigfirli waliwaa lidayya warham huma kama robbayani shogiro. Adapun doa orang tua kepada anak ada di surat Al Furqoon (25) ayat 74.
Setelah pemuatan pengalaman spiritual haji, kami menerima pertanyaan seperti ini dan sudah menyiapkan latar belakang kedua doa tersebut. Sekira Mbak tertarik, silakan email ke budi_hikmat@yahoo.com. Salam. Budi Hikmat
July 6th, 2006 at 3:11 pm
Assalamu’alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh
Subhanallah…
Bertambah kerinduan dan Cinta ini akan kasih sayang Allah yang begitu nyata setelah membaca kesaksian haji.
semoga kita umat muslim dapat merasakan kebahagiaan yang sama setelah membacanya. walaupun ada sebagian dari kita yang belum mampu untuk berhaji.. dan berharap semoga Allah SWT memberikan kemudahan untuk kita beribadah lebih baik lagi…
July 27th, 2006 at 12:19 pm
Assalamualaikum Wr.Wb.
Subhanaah……. Allah Maha Besar.
Saya terharu, gemetar dan menitikan air mata membaca tulisan bapak budi, Saya ingin sekali menaikkan haji kedua orang tua saya, dan saya bersama pun ingin . tai semoga Allah mendengar do’a kami. Pak Budi ayat apakah yang menyatakan “Bersih, sabar , syukur dan Ilmu. Maklum pak saya ndak hapal Al Quran . Trim sebelumnya.
September 29th, 2006 at 5:09 pm
ass.wr.wb. membaca kisah anda teringatkan saya akan umrah saya sebulan yg lalu… demi Allah tidak ada tmpt yg plng indah di dunia ini selain madinnah dan mekkah… mesjid termegah tiada duanya… tmpt yg penuh dgn mukjizat2 Allah dan berkahNya….
October 17th, 2006 at 3:29 pm
Mendengar kisah-kisah terebut saya jadi teringan dengan kebesaran Allah Swt…Bahwa Allah itu maha besar dan maha penyayang…Sebagaimana Manusia wajib menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangnnya…
November 1st, 2006 at 2:41 pm
Kisah yang sarat dengan hikmah, sesungguhnya Alloh tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang benar-benar rindu akan rahmat dan Ridho-Nya. Ya Alloh, limpahkanlah rahmat dan Ridho-Mu kepada kami, amien. Dan mudahkan urusan kami (dunia dan akherat) dan terimalah segala amal ibadah kami, amien….
November 14th, 2006 at 11:47 am
Saya sangat terhar membaca cerita-cerita diatas.
Saya sangat menginginkan orangtua saya untuk dapat berangkat kesana.
Semoga Allah memberi jalan.
November 20th, 2006 at 1:02 am
Assalamualaikum Wr.Wb.
Subhanaah……. Allah Maha Besar.
Saya sangat terharu dengan uraian pengalaman bp. Budi, sangat nikmat sekali bisa beribadah ditanah suci. Insya Allah tahun ini saya dan istri di izinkan Allah untuk beribadah haji ditahun ini, amien. Boleh saya mendapatkan doa yang bp. Budi lakukan saat berhaji tersebut, terimakasih.
Wasalam
November 30th, 2006 at 10:16 pm
ASSALAMUALAIKUM, WR.WB,
Subhanallah, walhamdulillah, Allah maha Besar, pengalaman saudara budi membuktikan kebesaran Allah, bagi hambanya yang ikhlas untuk beribadah kepada Nya menuju ke tanah suci. Innama amruhu idja aroda syai an an yakula lahu kun fayakun,:Kalau Allah sudah berkehendak Dia hanya cukup berkata Kun jadilah maka jadilah iya, (QS Yasin ayat 82)>Subhanallah semoga kita yang membacanya dapat mengambil hikmat dari pengalaman haji budi dan keluarganya. dan bagi anda sdr budi semoga antum dan keluarga meraih haji yang mabrur yang mendapat perubahan kehidupan yang lebih baik pasca haji dalam beribadah,bermuamalah dan bermasyarakat, aamin. wassalam,Oebay di ciputat