Labbaik Allahuma Labbaik
Labbaik Allahuma Labbaik
Labbaik ka la Syarii ka Labbaik
Innal Hamda, wa Nikmatalak
Laka wal mulk, La Syariikala
Akhirnya musim haji tiba.
Jutaan manusia di dunia, termasuk 200 ribu jamaah haji asal Indonesia, berduyun-duyun, berkelompok-kelompok, beramai-ramai mendatangi dan berkumpul menuju pusat ibadah umat Islam, untuk memenuhi panggilan rukun Islam yang terakhir.
Saya ambil kutipan dari Wikipedia Indonesia tentang Haji
Dalam kepercayaan agama Islam, Haji adalah rukun (tiang agama) Islam yang kelima setelah Syahadat, Salat, Zakat dan Puasa. Arti haji sebenarnya adalah “memaknai, melaksanakan, dan berdoa.” Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Dzulhijjah). Hal ini berbeda dengan ibadah Umrah yang bisa dilaksanakan sewaktu-waktu. Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 (delapan) Dzulhijjah ketika umat Islam bermalam di Mina, Wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi Setan) pada tanggal 10 Dzulhijjah. Masyarakat Indonesia lazim juga menyebut hari raya Idul Adha sebagai Hari Raya Haji karena berbarengan dengan perayaan ibadah haji ini (wukuf pada 10 Dzulhijjah).
Demikianlah kira-kira istilah dan arti kalau diartikan dalam satu kalimat.
Kenapa orang harus berhaji? Dan kenapa banyak orang, berjuta-juta manusia, menjalani ibadah yang sesungguhnya berat ini, dan kenapa banyak orang sangat bahagia untuk berkali-kali mengunjungi Tanah Suci Mekkah untuk haji atau umrah?
Ijinkan saya bercerita. Jumat lalu, pada 9 Desember 2005, saya salat di sebuah masjid yang dimiliki yayasan sebuah rumah sakit di pusat Jakarta. Masjid ini adalah langganan saya. Masjid ini dekat dengan sebuah mal, dekat dengan sebuah universitas Kristen, dan cukup ramai. Khutbah Jumat di masjid ini biasanya juga menarik, tentang ibadah, introspeksi diri, dan semacamnya, berbeda dengan masjid-masjid lain di Jakarta yang cenderung mengangkat tema politis yang makin membikin hati sumpek.
Jumat itu, khotib mengangkat tema haji. Hati saya bergetar. Saya seketika menengadah. Di dinding masjid itu kebetulan ada foto Masjidil Haram beserta Ka’bah yang selalu ramai oleh umat Islam yang beribadah. Hati saya berdesir, buku kuduk saya berdiri. Saya sangat rindu. Saya tiba-tiba teringat ketika awal 2002 lalu, ketika saya mendapat rejeki untuk mengunjungi pusat ibadah umat Islam itu bersama-sama dua ratus ribu jamaah haji Indonesia lainnya. Saya rindu untuk kembali ke sana. Saya ingin mengajak istri tercinta saya, untuk beribadah bersama, bersama-sama belajar lebih memahami hakikat kehambaan kami di depan Allah Tuhan Semesta Alam.
Akhirnya, saya mantap untuk meluncurkan situs ceritahaji.com ini. Kenapa namanya cerita haji? Kenapa bukan bloghaji? Kenapa bukan nama lain? Saya punya pendapat, kalau nama situs ini bloghaji, mungkin situs ini akan membatasi bentuknya sebagai wadah bertukar cerita. Mungkin blog belum begitu familiar bagi sebagian orang, jadi saya putuskan pakai kata “cerita” saja. Kalau dengan nama lain, apalagi mengambil kata yang lebih serius, saya juga tidak berani, takut tidak kuat untuk mengelolanya. Dan, yang dibutuhkan dan bisa dibagi dari sebuah ibadah seperti haji, menurut saya adalah ceritanya. Getok tular istilah orang Jawa, atau kalau mengutip ayah saya, “Kalau kamu tahu tempat soto ayam yang enak di daerah Pecinan Jombang, bukankah baik kalau kita menceritakan pada orang lain. Begitu pula haji, kita tahu beribadah haji itu nikmat dan indah, tiada salahnya kalau dibagi dengan orang lain ceritanya”
Yang jelas, pada suatu ketika, saya pernah memegang pensil dan buku tulis yang saya bawa dari rumah, saat itu saya duduk melamun di pojok favorit saya di Masjidil Haram, di sebelah barat Ka’bah, saya ingat ingat saat itu saya sudah merencanakan menuliskan sesuatu entah di masa yang akan datang. Akhirnya, masa itu baru terlaksana hingga hari ini.
Mungkin dengan situs inilah saya bisa mengantarkan pengabdian dan kerinduan itu. Saya berencana mengisi situs ini dengan cerita, pengalaman, dan pandangan saya ketika haji tiga tahun lalu. Saya juga mengajak pembaca yang sudah berhaji, atau pembaca yang akan berhaji, dan juga pembaca yang ingin berhaji untuk berbagi cerita dan hikmah di situs sederhana ini. Mari kita saling berdoa, semoga mempunyai rejeki, dan bisa berkunjung ke Mekkah dan Madinah.
Ya Allah, mudahkanlah kami untuk berkunjung ke Makkah al Mukarromah dan Madinah al Munawwaroh.
Semoga bermanfaat bagi semua. Amin.
16. October 2006 at 7:46 pm
tanya, barangkali Anda tahu alamat situs Masjidil Haram yang baru saja diluncurkan, yakni pada Sabtu 14 Oktober 2006