Dimulai dari Niat
Bagi setiap orang Islam yang sudah mampu, beribadah haji hukumnya wajib.
Dalam Problematika Manasik Haji oleh Drs. A Nasir Yusuf, saya mengutip dua buah hadis Rasul yang mengatakan bahwa: 1) Haji adalah amal utama setelah beriman dan berjihad di jalan Allah; 2) Haji akan menghapuskan dosa manusia, seperti laiknya baru dilahirkan kembali. Tentu saja, kedua hal tersebut bagi haji yang mabrur.
Nah, bila sudah cukup secara materi, rumah sudah ada, mobil juga punya, apa lagi sebenarnya yang dicari. Kalau menurut saya, berniat segera menunaikan haji adalah hal yang paling baik.
Bukankah haji itu biayanya mahal? Ya, sekitar 25 jutaan. Kalau berdua sama istri, berarti sekitar 50 juta. Jumlah yang sangat tidak sedikit ditengah mahalnya berbagai keperluan hidup seperti saat ini. Tapi kalau hati sudah mantap, niat sudah ditata, banyak orang bercerita jalan untuk kemudahan ibadah ini sangat terbuka lebar.
Saya pernah tahu beberapa orang yang haji dengan berbagai cerita dan kisah.
Pak Jurin, seorang anggota regu haji saya dulu naik haji karena mendapat gusuran tanahnya di daerah barat Surabaya. Setelah cukup dibagi anak-anaknya, sisanya ia pakai naik haji. Pak Prandi yang pensiunan guru lain lagi, ia naik haji setelah mendapat pensiun. Anak-anaknya sudah mapan, akhirnya, ditambah sedikit tabungan dan sumbangan putra-putrinya, jadilah bisa berangkat bersama istri tercinta. Pak Yahdi, seorang pensiunan pegawai KUA juga hampir mirip. Kebetulan beliau adalah ayah dari adik kelas saya di SMP, dan kebetulan tetangga desa. Dan masih banyak lagi yang lain, nah yang lain ini lebih ajaib dan mencengangkan.
Ada seorang kenalan jamaah, ia penjual kendi dari tanah liat, cowek dan uleg di pasar Peterongan Jombang, setelah menabung beberapa lama bisa naik haji. Berapa harga kendi? Kok bisa nabung? Apakah ia dibiayai anaknya, atau mendapat hadiah, Wallahua’lam. Tapi yang penting adalah, seorang penjual kendi toh akhirnya bisa naik haji.
Ada lagi yang lain, kali ini seorang penjual tahu. Orangnya sangat lugu. Di kampungnya sana ada banyak penjual tahu. Ia satu rombongan bersama saya saat itu. Toh bisa beribadah haji. Kalau melihat kefasihannya, mungkin orang nggak yakin orang seperti itu bisa naik haji. Ya, saya juga belum terlalu fasih, tapi dengan mengandalkan buku panduan akhirnya saya bisa berdoa dan mengikuti ibadah haji dengan lancar. Bapak tersebut bagaimana? Kebetulan ia hanya ikut dan manut. Ikut dan manut! Yang lain mengucap takbir, ia bertakbir! Yang lain bertahallul, ia ikut juga. Tapi kok ndilalah, lancar semua ibadahnya! Secara hukum dan rukun semuanya sah. Saya kagum dengan orang-orang semacam ini. Inilah menurut saya makna ibadah yang sesungguhnya, bahwa ibadah tidak bisa dilihat dari kulit muka saja. Buktinya, ibadahnya lancar dan semua sah dari sisi hukum agama.
Ada lagi yang lain, pak Muslimin yang baru membuka bengkel motornya 7 tahun lalu bisa berhaji dengan istrinya. Ada lagi yang naik haji dengan menjual traktornya. Ceritanya, traktor sawahnya saat itu di mana-mana harganya berkutat hanya 10-11 jutaan, bahkan di daerah lain hanya berani mematok harga 9 jutaan. Jadi, kalau untuk nambahin ongkos naik haji tentu saja tidak cukup. Akhirnya, karena sudah niat dan mantap, orang tersebut menunda menjual, disamping karena belum yakin dan mencari peluang yang lebih baik. Kemudian ia pergi silaturrahmi ke seorang Kyai di Mojokerto, Kiai Husen namanya. Oleh sang Kiai, orang tersebut hanya diberi nasihat dan diyakinkan, “Insya Allah laku! Baik niat Bapak memberi saku anaknda dengan haji, supaya ibadahnya lebih bagus lagi. Kalau niat baik pasti diridlai Allah!” Tak lama beberapa hari berselang, traktor tersebut laku dengan harga 14 juta. Ajaib kan? Satu orang lain berhaji dengan mengikuti arisan haji. Haji dengan arisan? Apa boleh begitu? Boleh saja, tentu saja dengan aturan yang jelas dan adil, nanti detilnya akan saya ungkapkan lagi. Setelah membayar iuran bulanan sekitar Rp300 ribu, uangnya cukup untuk membayar ongkos naik haji. Grup arisan tersebut berhasil mengberangkatkan anggotanya yang berjumlah 60-an orang hanya dalam waktu 10 tahun!
Jadi, seperti juga ibadah lainnya, pada awalnya, semua dimulai dari niat!
Ya Allah, mudahkanlah kami untuk berkunjung ke Makkah al Mukarromah dan Madinah al Munawwaroh.
February 17th, 2006 at 9:20 am
ya, semua itu yang akan kita kerjakan memang harus mempunyai niat yang baik. karena dengan niat yang baik pasti Allah SWT akan mengabulkannya
February 22nd, 2006 at 2:11 pm
yup, semua harus di landasi dengan niat baik.karena dengan niat baik pasti di berkahi Allah SWT.
amien
March 11th, 2006 at 10:26 am
Menurut saya, naik haji tidak harus menunggu kita menjadi orang kaya. Banyak orang miskin di sekitar kita yang bisa naik haji. Semua itu karena hidayah Alloh, niat, dan tekad. Terima kasih dan tolong doakan saya agar bisa naik haji.
August 25th, 2006 at 9:31 pm
Haji itu panggilan Allah, maka haji haruslah diniati dengan hati yang ikhlas karena Allah, bukan karena yang lain. Mudah-mudahan dengan niat karena Allah akan menjadikan haji yang ,mabrur. Tolong do’akan saya agar bisa ibadah haji ya.